Beberapa
musibah seolah ‘menari-nari’ di bumi Indonesia beberapa tahun terakhir. Tanah
longsor, angin topan, angin puting beliung, gempa, semburan lumpur, kebakaran
pemukiman, kebakaran hutan, semburan awan panas gunung berapi, tsunami,
kecelakaan transportasi, untuk menyebut yang popular, dan terakhir banjir periodik
di Jakarta yang seolah tak lebih puas tanpa menelan korban jiwa. Duka cita
mendalam layak kita sampaikan pada keluarga korban.
Beragam
sikap muncul. Ada yang menilai ini sebagai ‘musibah’ dan ‘ujian’ saja. Ada yang
menilai ini kewajaran saja, karena Indonesia adalah daerah rawan bencana. Ada
yang berusaha menafikan Tuhan dengan mengaitkan kejadian-kejadian ini pada
aspek-aspek material, sehingga Tuhan perlu memberi teguran. Ada yang mengambil
kesempatan untuk melontarkan kritik terhadap pemangku pemerintahan sebagai
tidak becus dan tidak bertanggungjawab mengurus keselamatan publik. Yang
dikritik bersikap reaktif seolah ia benar-benar peduli, padahal masalah ini
terus berulang.
Ada
pula fenomena di sebagian masyarakat yang justru menaruh respek pada ucapan paranormal,
dukun, orang pintar, atau peramal. Tak perlu berkecil hati, selalu masih ada yang
merenunginya sebagai teguran keimanan yang berharga. Tapi ada juga yang
mengambil sikap sigap mengulurkan bantuan yang diperlukan. Mereka bergerak
nyata terjun langsung ke lapangan berinteraksi dengan korban. Tak hanya bantuan
fisik, tapi juga menyentuh psikis. Meski memiliki keterbatasan sebagai elemen
masyarakat biasa, mereka seolah ‘menasehati
penguasa’ dengan cara sedemikian elegan, dengan memberi teladan.
Salut
dan salam hormat saya untuk semua elemen relawan dan orang-orang di negeri ini yang
masih punya nurani dan kepedulian terhadap sesama tanpa pamrih dan tanpa dibatasi
sekat-sekat perbedaan yang primitif….
Avignam
Jagad Samagram
Tidak ada komentar:
Posting Komentar