Minggu, 20 Januari 2013

Viva Humanism


Beberapa musibah seolah ‘menari-nari’ di bumi Indonesia beberapa tahun terakhir. Tanah longsor, angin topan, angin puting beliung, gempa, semburan lumpur, kebakaran pemukiman, kebakaran hutan, semburan awan panas gunung berapi, tsunami, kecelakaan transportasi, untuk menyebut yang popular, dan terakhir banjir periodik di Jakarta yang seolah tak lebih puas tanpa menelan korban jiwa. Duka cita mendalam layak kita sampaikan pada keluarga korban.

Beragam sikap muncul. Ada yang menilai ini sebagai ‘musibah’ dan ‘ujian’ saja. Ada yang menilai ini kewajaran saja, karena Indonesia adalah daerah rawan bencana. Ada yang berusaha menafikan Tuhan dengan mengaitkan kejadian-kejadian ini pada aspek-aspek material, sehingga Tuhan perlu memberi teguran. Ada yang mengambil kesempatan untuk melontarkan kritik terhadap pemangku pemerintahan sebagai tidak becus dan tidak bertanggungjawab mengurus keselamatan publik. Yang dikritik bersikap reaktif seolah ia benar-benar peduli, padahal masalah ini terus berulang.

Ada pula fenomena di sebagian masyarakat yang justru menaruh respek pada ucapan paranormal, dukun, orang pintar, atau peramal. Tak perlu berkecil hati, selalu masih ada yang merenunginya sebagai teguran keimanan yang berharga. Tapi ada juga yang mengambil sikap sigap mengulurkan bantuan yang diperlukan. Mereka bergerak nyata terjun langsung ke lapangan berinteraksi dengan korban. Tak hanya bantuan fisik, tapi juga menyentuh psikis. Meski memiliki keterbatasan sebagai elemen masyarakat biasa, mereka seolah ‘menasehati penguasa’ dengan cara sedemikian elegan, dengan memberi teladan.

Salut dan salam hormat saya untuk semua elemen relawan dan orang-orang di negeri ini yang masih punya nurani dan kepedulian terhadap sesama tanpa pamrih dan tanpa dibatasi sekat-sekat perbedaan yang primitif….

Avignam Jagad Samagram

Tidak ada komentar:

Posting Komentar