Rabu, 18 September 2013

Thanks God

terima kasih Tuhan.. masih kau suguhkan hangat pagi untukku...
hari ini...
19092013

Setengah Perjalanan

Sulit mengawali dari mana aku harus bertutur tentang sebuah arti, sebuah makna dan apa yang tersirat dari penggalan kisah setengah perjalanan ini. Namun, dengungan itu selalu bergema dalam alam pikirku. Apa dan cerita apa lagi yang mesti aku lakonkan.

Mungkinkah kisah-kisah usang itu terulang dalam perjalananku selanjutnya. Atau akan menjadi akhir dari sebuah episode hidup ini? Semua mungkin….

Aku merasa belum dewasa dalam segala hal karena masih menganggap semua yang kualami adalah sebuah hukuman atas kesalahan atau kebodohan dalam hidup yang tak kusadari kapan aku melakukannya. Ternyata kedewasaan berpikir, bersikap dan memutuskan segala sesuatu selama ini bukanlah hasil akhir atas separuh perjalananku, melainkan sebuah proses yang panjang dan berliku meskipun kadang juga sangat singkat dan tidak cukup bermakna.

Aku belum bisa menerima bahwa semua yang menimpaku dan segenap perih yang kurasakan bukanlah kesialan, ujian, atau hukuman atas semua salahku. Sebenarnya, semua ini adalah garis kehidupan yang sudah ditentukan bahkan sebelum aku dilahirkan.

Kenangan-kenangan buruk yang tertoreh dikeningku telah membuatku tak percaya diri. Aku merasa sebagai manusia yang tidak bermakna, belum mampu mewujudkan asa-asaku!
Aku masih mencari siapa aku dan apa tujuan hidupku. Saat aku ingin biru, Tuhan memberiku ungu, ketika aku menginginkan ungu, tak satupun warna Dia berikan kepadaku. Sedang begitu jeleknyakah selera humor Tuhan? Hidup seakan membosankan, aku letih dalam pencarian ini.

Rencana-rencana hanya bisa dibuat oleh manusia. Sebagai manusia, aku mengharapkan kehidupan yang bahagia, atau setidaknya di setengah perjalanan ini dapat bermakna dan menjadi arti sekurang-kurangnya untuk orang-orang terdekatku yang masih tersisa. Mungkin harapan ini terlalu tinggi, tapi itulah do’a sederhana yang selalu aku mohonkan kepada Tuhan. Meski tak lupa juga aku meminta maaf, karena mencintai-Nya dengan diam-diam.

Setengah perjalanan ini menghidangkan secawan anggur yang sungguh nikmat dan menyegarkan untuk kuminum saat dahaga akan sebuah arti hidup atau sekadar membasahi kerongkonganku yang kering, membuatku terbuai dan lena. Rasa manis masih kuingat , namun tiba-tiba rasa manis berubah menjadi teramat pahit. Aku kehilangan kesadaranku akan rasa; manis atau pahit sama saja, tetap kutelan untuk hilangkan dahaga. Sesaat aku sadar, disekelilingku telah banyak cawan anggur yang lain. Namun, ketika kuminum, manis dan segarnya anggur pertama yang menyisakan pahit masih terasa. Semoga ini bukan tanda keputusasaanku!
Aku hanya berharap ada hikmah tersembunyi dari semua ini.

Serabut-serabut tanya akan pencapaian kesejatian makna dan tujuan hidup ini? Yah, setiap manusia pasti ingin mencapai tingkat itu dimana ia mengerti, memahami makna dan tujuan hidupnya walau terkadang kesadaran itu justru didapat dari alam bawah sadarnya. Mungkin hanya cara itulah yang menjadikan “aku” ADA. Namun; Beberapa orang lebih memilih menekan rasa itu jauh-jauh dan berusaha lari sekencangnya.. !!!

Kesadaran manusia akan dirinya, penghargaan pada dirinya sendiri dan pemaknaannya yang mendalam akan menolongnya keluar dari sebuah kubangan kotor. Inilah yang aku cari…
Aku sering terlampau sombong dan takabur. Terlampau banyak bicara yang tiada guna. Yang sejatinya adalah mempecundangi diriku sendiri. Padahal aku sadar tak punya kemampuan untuk membuatnya menjadi nyata dan mewujudkan dalam tindakan!
Aku terjebak dan terus berputar dalam tempat gelap tidak kukenal karena tak tahu tujuan sebenarnya, bagaimana memulai dan dimana akhirnya.

Kenapa dengan hati dan pikiran? yang juga merupakan anugerah besar dari Yang Maha Kuasa belum mampu menjelaskan sejatinya pencarian setapak perjalanan ini. Nafsu dan egoku menindih keduanya…. namun bukankah dengan keduanya, manusia dibantu menyelesaikan apapun, seperti masalah, rintangan hidup, cobaan, dan entah apalagi sebutannya. Bukankah sebenarnya manusia mampu berpikir dan merasakan. Yang tentu saja, akan menjadi lebih arif jika mampu menjaga rahasia hati dan pikiran dari pengkhianatan lidah. Seperti anggota tubuh manusia yang lain, lidah adalah mata-mata jahat yang selalu bisa berkhianat pada pikiran dan perasaan manusia…….


Sebuah pengharapan……..
Ijinkan aku hidup dalam pengharapanku akan petunjuk-Mu, meskipun dalam setengah lagi perjalanan ini harus berkali-kali terantuk batu untuk sampai pada-Mu….

Selasa, 17 September 2013

Kepada sunyi... tempat gelisah bersembunyi



Entah saat ini disebutnya selasa malam atau rabu pagi, yang pasti detak jam dinding itu terasa begitu sunyi. Angin melintas seolah memecah sepi, menyelinap diam-diam ke tengah hati, mencoba berdendang dan menari namun tak berarti, sunyi tetap menyelimuti.


Adakah yang mengerti ketika langkah kaki terhenti ditengah gelisah yang menggerogoti hati. Di sela jemari terselip butir-butir pasir putih dari tempat dimana kaki berjalan menyusuri garis pantai yang melengkung membentuk senyum. Sesekali ombak menepi membuyarkan lamunan tentang mimpi yang ternyata juga sunyi.


Entah malam semakin merunduk menyambut pagi ataukah pagi yang berdiri mengganti malam, yang pasti detak jam dinding dan angin yang mendesis yang sedari tadi mencoba menghalau sunyi telah terganti lenting suara muadzin yang seolah terpekik. Dan tetap saja sunyi yang merajai.



- untuk yang menemani menikmati sunyi -

Rabu, 11 September 2013

Lembar Putih



Lembar putih ini masih kosong
Tanpa noda dan prasangka
Tak berwarna dan kata-kata
Menanti lentik hati mengguratnya

Lembar putih ini
Haruskah kutulis sebait puisi?
Sementara kisah telah pergi
Rindu telah luluh
Hati telah mati

Lembar putih ini
Adalah lembar baru
Episode terakhir telah usai
Dan sandiwara telah berakhir
Namun cerita menanti untuk ditulis

Lembar putih telah menunggu
Dengan cerita-cerita baru
Dengan segala rasa, tawa dan air mata
Bukan dengan dusta dan pura-pura…