Mata tak juga mau terpejam, padahal jarum jam sudah menunjukkan pukul 2 malam. Bukan tak mau, tapi seperti ada sesuatu yang mengharuskanku terjaga malam ini. Pikiranku lelah, batinku lelah, tak terkecuali tubuh ini.. Ah, ada apa ini?
Mana wajah yang selalu terlihat sangar dan tegar? Kemana tawa renyah yang selalu terdengar tiap kali berkelakar ringan. Wajah ini menjadi muram! Murung! Tak enak dipandang.
Terlihat sekali lelah yang teramat dalam di sudut mata ini. Tak perlu ditutupi dengan kacamata hitam, karena ‘mendung’ ini sudah siap menumpahkan isi perutnya. Hei! Ada apa denganmu?!
Seperti ada duri kecil disudut hati yang tak bisa saya cungkil. Sakit? Sudah pasti! Menangis? Ah, cengeng betul! Dan akhirnya aku cuma mampu menahannya. Meski rasa ini (sumpah) perih setengah mati!!!
Kecewa? Tak sedikit yang menduga demikian. Tapi bukan itu, meski ada juga unsur seperti itu di dalamnya. Begitu sulit untuk dijelaskan. Semuanya terlalu absurd, semua seperti susul-menyusul menghantamku. Hingga sulit untuk kutahu, rasa sakit ini untuk yang mana? Tawa ini untuk bagian yang mana?? Terlalu tipis bedanya!
Tapi satu hal yang pasti, kini aku tengah berusaha membenahi hati dan memperbaiki hatiku yang sesungguhnya.
Malam bulan, rangkaian indah doa coba kulantunkan. Sambil mencoba menahan sakit yang tengah menyerang hati yang sebenarnya. *zzz… zzz… semoga*