Jumat, 16 Desember 2011

Berbeda itu biasa


Setundun pisang, tentu tak semua buahnya akan matang secara bersamaan. Ada diantaranya yang masih berwarna hijau tua, ada yang kekuningan, ada pula yang sudah matang sepenuhnya. Maka, untuk menikmati hasilnya ada kalanya harus menyimpannya kembali beberapa saat, menunggu hingga matang semuanya.
      Pisang yang terlambat matang dan pisang yang telah matang, kelak akan memiliki rasa yang sama yakni memiliki rasa pisang. Meskipun waktu untuk menjadi matang tidaklah sama…
      Begitupun kita.. tak mungkin semuanya sama. Ada kalanya menurut ukuran kita, suatu masalah dapat diselesaikan hanya dengan beberapa menit saja. Tapi bagi orang lain belum tentu, ia mungkin butuh waktu yang agak lebih untuk menyelesaikannya. Apalagi untuk sampai pada kesempurnaan. Namun pada akhirnya, hasil yang didapatkan pasti tetap dapat sama-sama dirasakan.
      Dalam hidup ini tak seorang pun sempurna pada bingkai kemampuannya. Karena diantara kita memang tidak sama dan serupa, kita dilahirkan berbeda, hidup di lingkungan berbeda, pada kondisi yang berbeda dan segala hal yang berbeda. Yang mesti diingat adalah bahwa setiap orang sama-sama memiliki suatu keinginan, dengan potensi yang sama dan memiliki hak yang sama dalam mendapat kesempatan, betapapun itu harus diperjuangkan dan dipergilirkan. Karenanya, percuma saja memperdebatkan suatu ketidaksamaan, perbedaan, dan ketidakcocokan dengan orang lain, karena bagaimanapun kita tak akan mendapat titik temu. Akan lebih indah apabila kita menerima keberagaman itu sebagai kekayaan yang saling melengkapi untuk suatu proses hingga bisa sampai pada sebuah tujuan.
      Sungguh tak ada yang sempurna di antara kita, maka jangan pernah menjadi merasa lebih atau rendah diri ketika kita berbeda dari yang lain… semua butuh proses untuk menjadi matang, semua butuh proses untuk menjadi dewasa, semua butuh proses untuk menjadi lebih baik…

Kamis, 15 Desember 2011

Kado Untuk Guru

Sebentar lagi jagoanku akan segera menerima rapor. Dan inilah biasanya saat-saat ritual bagi ibu-ibu mencari kado untuk guru wali kelas.
      Sementara aku, dari semenjak Thole masih duduk di bangku TK, aku menjadi orang tua yang paling naif ketika mengambil rapor. Bagaimana tidak, ketika hampir semua orang tua datang dengan membawa aneka bingkisan, aku datang dengan tangan kosong dan wajah polos tak berdosa.
      Ketika Thole sudah duduk di bangku SD, aku kembali menjadi orang tua yang polos ketika saatnya mengambil rapor semesteran. Kupikir bingkisan-bingkisan seperti itu hanya diberikan  ketika kenaikan kelas saja. Blaiiik… Ternyata tidak! Jadi begini “rule” nya??? Kalau mengambil rapor semesteran, cukup memberi bingkisan berupa kue atau sejenisnya, yang ringan sajalah. Nanti ketika kenaikan kelas baru memberi kado yang lebih baik. Dompet, tas, batik, sampai ke perhiasan, dll. Siapa sih yang membuat aturan seperti itu? Hhmm.., tentu saja bukan sekolah, tetapi inisiatif para orang tua murid, khususnya Ibu-ibu gaul itu. Kalo dari sekolah jelas-jelas tidak menyarankan (meski tidak melarang dan tidak menganjurkan.. tapi mungkin lebih cenderung berharap, hehehe…). Bahkan sampai ada juga ortu yang kebagian tugas mengkoordinir mengumpulkan uang untuk dibelikan kenang-kenangan untuk wali kelas (walah.. ada kepanitiaannya juga ternyata).
      Sebetulnya boleh gak sih memberi bingkisan untuk guru? Benarkah hal itu murni dari dalam hati sebagai bentuk terimakasih kepada guru karena telah membimbing anak-anaknya selama belajar di sekolah?
      Meski dalam hati kecilku ragu juga, tapi kok rasanya aku agak kurang setuju ya? Karena kesannya kok….. eh…maap… maap… bukan bermaksud apa-apa…. tapi kok kayak eh….apa yaa…. menyuap gitu ya? Aduuh, ampuuun kasar sekali kata-kataku ini ya? Jeleeek sekali pikiranku ini ya? Semoga bukan seperti dugaan negatifku ini ya, tapi benar-benar karena berterimakasih pada para guru itu. Karena tanpa sengaja, ketika sedang mengantri ambil rapor, aku mendengar percakapan di antara para Ibu yang wangi-wangi itu. Begini kira-kira :
“Ini lho, Mama Arjuna, aku bawa bingkisan gini kan supaya anak kita lebih diperhatikan sama gurunya.”
“Betul, moga-moga guru jadi lebih perhatian sama anak kita, ya. Paling gak kasih nilainya gak pelit-pelit amat gitu, hihihihi…..”
Eeeh.. lhadalah…!!! Serasa ada yang menyentil dan menjewer telingaku dari belakang! Kenapa? Karena aku gak pernah membawa apapun untuk Guru!
      Aku jadi sedih. Aku yakin (atau berharap?) para guru di sekolah anakku tidak serendah itu. Buktinya ketika aku tidak membawa apa-apa, Thole tetap mendapat perhatian dari wali kelasnya, bahkan perhatian yang berlebih. Ia juga tetap memperoleh nilai bagus sesuai dengan kemampuannya, meski waktu itu aku juga tak membawa apapun untuk wali kelasnya. Tapi aku jadi agak tersentil. Apa mungkin memang seharusnya aku juga membawa bingkisan seperti itu, bukan untuk mendapat imbalan tetapi untuk berterimakasih. Tapi rasanya….
      Entahlah, hatiku masih bimbang. Ingin memberi tetapi takut guru berprasangka, tidak memberi juga kuatir guru mengharap? Aduuh….. masalah gak prinsip tapi bikin pusing.. berwajah polos saja ternyata juga gak membantu…

Rabu, 14 Desember 2011

Kepikunan di Negeri Sinetron

Alzheimer Demensia adalah penurunan kemampuan mental yang biasanya berkembang secara perlahan, dimana terjadi gangguan ingatan, fikiran, penilaian dan kemampuan untuk memusatkan perhatian, dan bisa terjadi kemunduran kepribadian. 
Penyakit Alzheimer ditemukan pertama kali pada tahun 1907 oleh seorang ahli Psikiatri dan Neuropatologi bernama Alois Alzheimer. Saat itu ia melakukan observasi terhadap seorang wanita berusia 51 tahun yang mengalami gangguan intelektual dan memori serta tidak mampu mengenali jalan kembali ke tempat tinggalnya. Orang yang menderita Alzheimer bisa berkembang menjadi ”demensia” yang dalam istilah umum sehari-hari kita kenal sebagai PIKUN. Pada orang yang sudah berusia lanjut, kepikunan atau menurunnya daya ingat ini dianggap sebagai sesuatu yang wajar.
Gejala/tanda-tanda kepikunan Alzheimer ini bermacam-macam. Mulai dari kemunduran memori/daya ingat, kesulitan berbicara dan menggunakan bahasa, dis-orientasi WTO (waktu, tempat dan orang), sulit berhitung, sulit melaksanakan kegiatan/pekerjaan sederhana, berpenampilan buruk, acak-acakan karena lupa cara berpakaian dan berdandan, kemampuan imajinasinya terganggu, dll. Tindakan perawatan pada penderita demensia alzheimer dilakukan dengan membina hubungan saling percaya, menciptakan lingkungan yang terapeutik (tenang, tidak bising, sejuk, aman), reorientasi WTO (waktu, tempat, orang), memberi perhatian cukup termasuk kebutuhan dasar, konsisten, menepati janji, empati dan jujur, serta melakukan kontak dengan pasien singkat tapi sering. Tentu peran keluarga sangat besar dalam hal ini, diantaranya pasangan hidup, anak-anak, cucu dan keluarga terdekat yang sehari-hari biasa berhubungan dengan penderita.
Ketika mendengar bu Menor tetangga saya yang istri pejabat dikabarkan menderita demensia dan gejala berat Alzheimer pergi sendirian ke Singapura untuk berobat (maklum suaminya adalah seorang pejabat public yang kesohor dan anak-anaknya adalah orang-orang yang luar biasa sibuk dengan urusan bisnisnya masing-masing), saya begitu penasaran dan mencoba mencari info tentang alzheimer dan demensia lewat beberapa sumber. Dan terus terang saja saya heran luar biasa : bagaimana mungkin seorang penderita demensia alzheimer bisa berbulan-bulan hidup sendiri di luar negeri dan harus berpindah-pindah negara - karena terkait dengan ijin tinggal - tanpa disertai keluarga. Sebab seperti yang saya sampaikan tadi, suami dan anak-anak bu Menor ini tetap tinggal dan bekerja di sini. Apakah mereka 100% percaya bahwa kepakaran para dokter dan kecanggihan RS di Singapura bisa memulihkan penyakit si bu Menor tanpa harus dibarengi upaya psikis dan emosional yang menuntut peran besar keluarga ?
Bu Menor ini di lingkungan kami dikenal sebagai socialita ladies yang hidup glamour dan gemar akan berbagai benda seni, perhiasan dan aksesories wanita, yang selalu tampil rapi, serasi dan dengan dandanan chick dan up to date. Sulit saya bayangkan bu Menor berpenampilan acak-acakan karena sudah lupa caranya berdandan. Apalagi pembantunya yang juga tak kalah menornya, sering ngoceh kepada ibu-ibu di ujung gang, dengan maksud membanggakan diri dan menyiarkan kepada ibu-ibu bahwa bu Menor memang sedang sakit dan sedang berobat ke Singapura. Ngakunya ketika ia diajak menemani ke Singapura (halah.. kapan ke Singapuranya… perasaan tiap hari ada di rumah) bu Menor sering pingsan saat shopping. Nah lho! Penderita alzheimer kok masih bisa shopping branded goods di shopping mall Singapura ya? Aneh!
Pembantuya itu mengaku sering disuruh mengantarkan obat ke Singapura. Ini lebih aneh lagi : sudah setahun lebih bu Menor berada di Singapura, tapi kok pembantunya mengaku sering disuruh mengantarkan obat ke Singapura? Katanya kepergiannya ke Singapura justru dalam rangka berobat ke dokter ahli. Apa obatnya dibeli di apotik Indonesia? Atau obatnya cuma ramuan tradisional semacam jamu-jamuan khas Indonesia yang gak bakal ditemui di negara lain? Kalo jawaban kedua pertanyaa itu “ya”, ngapain bu Menor berobat jauh-jauh ke Singapura. Bukankah lebih nyaman di Indonesia, suami dan anak-anak bisa tiap hari bergantian menemani.
Tapi…, sudahlah! Kita hidup di Indonesia, negeri sinetron. Negeri dimana akal sehat tak perlu dipakai. Kita harus menanggalkan logika dulu di kamar tidur, baru bisa nonton sinetron dengan nyaman dan menikmati jalan ceritanya yang konyol, alurnya yang tak masuk akal dan terlalu dipaksakan. Seperti itulah hidup di Indonesia. Makin konyol kita, bisa jadi makin sukses. Makin pintar kita berbohong dan mengarang cerita meski tak logis sama sekali, makin aman hidup kita…