Alzheimer Demensia adalah penurunan kemampuan mental yang biasanya berkembang secara perlahan, dimana terjadi gangguan ingatan, fikiran, penilaian dan kemampuan untuk memusatkan perhatian, dan bisa terjadi kemunduran kepribadian.
Penyakit Alzheimer ditemukan pertama kali pada tahun 1907 oleh seorang ahli Psikiatri dan Neuropatologi bernama Alois Alzheimer. Saat itu ia melakukan observasi terhadap seorang wanita berusia 51 tahun yang mengalami gangguan intelektual dan memori serta tidak mampu mengenali jalan kembali ke tempat tinggalnya. Orang yang menderita Alzheimer bisa berkembang menjadi ”demensia” yang dalam istilah umum sehari-hari kita kenal sebagai PIKUN. Pada orang yang sudah berusia lanjut, kepikunan atau menurunnya daya ingat ini dianggap sebagai sesuatu yang wajar.
Gejala/tanda-tanda kepikunan Alzheimer ini bermacam-macam. Mulai dari kemunduran memori/daya ingat, kesulitan berbicara dan menggunakan bahasa, dis-orientasi WTO (waktu, tempat dan orang), sulit berhitung, sulit melaksanakan kegiatan/pekerjaan sederhana, berpenampilan buruk, acak-acakan karena lupa cara berpakaian dan berdandan, kemampuan imajinasinya terganggu, dll. Tindakan perawatan pada penderita demensia alzheimer dilakukan dengan membina hubungan saling percaya, menciptakan lingkungan yang terapeutik (tenang, tidak bising, sejuk, aman), reorientasi WTO (waktu, tempat, orang), memberi perhatian cukup termasuk kebutuhan dasar, konsisten, menepati janji, empati dan jujur, serta melakukan kontak dengan pasien singkat tapi sering. Tentu peran keluarga sangat besar dalam hal ini, diantaranya pasangan hidup, anak-anak, cucu dan keluarga terdekat yang sehari-hari biasa berhubungan dengan penderita.
Ketika mendengar bu Menor tetangga saya yang istri pejabat dikabarkan menderita demensia dan gejala berat Alzheimer pergi sendirian ke Singapura untuk berobat (maklum suaminya adalah seorang pejabat public yang kesohor dan anak-anaknya adalah orang-orang yang luar biasa sibuk dengan urusan bisnisnya masing-masing), saya begitu penasaran dan mencoba mencari info tentang alzheimer dan demensia lewat beberapa sumber. Dan terus terang saja saya heran luar biasa : bagaimana mungkin seorang penderita demensia alzheimer bisa berbulan-bulan hidup sendiri di luar negeri dan harus berpindah-pindah negara - karena terkait dengan ijin tinggal - tanpa disertai keluarga. Sebab seperti yang saya sampaikan tadi, suami dan anak-anak bu Menor ini tetap tinggal dan bekerja di sini. Apakah mereka 100% percaya bahwa kepakaran para dokter dan kecanggihan RS di Singapura bisa memulihkan penyakit si bu Menor tanpa harus dibarengi upaya psikis dan emosional yang menuntut peran besar keluarga ?
Bu Menor ini di lingkungan kami dikenal sebagai socialita ladies yang hidup glamour dan gemar akan berbagai benda seni, perhiasan dan aksesories wanita, yang selalu tampil rapi, serasi dan dengan dandanan chick dan up to date. Sulit saya bayangkan bu Menor berpenampilan acak-acakan karena sudah lupa caranya berdandan. Apalagi pembantunya yang juga tak kalah menornya, sering ngoceh kepada ibu-ibu di ujung gang, dengan maksud membanggakan diri dan menyiarkan kepada ibu-ibu bahwa bu Menor memang sedang sakit dan sedang berobat ke Singapura. Ngakunya ketika ia diajak menemani ke Singapura (halah.. kapan ke Singapuranya… perasaan tiap hari ada di rumah) bu Menor sering pingsan saat shopping. Nah lho! Penderita alzheimer kok masih bisa shopping branded goods di shopping mall Singapura ya? Aneh!
Pembantuya itu mengaku sering disuruh mengantarkan obat ke Singapura. Ini lebih aneh lagi : sudah setahun lebih bu Menor berada di Singapura, tapi kok pembantunya mengaku sering disuruh mengantarkan obat ke Singapura? Katanya kepergiannya ke Singapura justru dalam rangka berobat ke dokter ahli. Apa obatnya dibeli di apotik Indonesia? Atau obatnya cuma ramuan tradisional semacam jamu-jamuan khas Indonesia yang gak bakal ditemui di negara lain? Kalo jawaban kedua pertanyaa itu “ya”, ngapain bu Menor berobat jauh-jauh ke Singapura. Bukankah lebih nyaman di Indonesia, suami dan anak-anak bisa tiap hari bergantian menemani.
Tapi…, sudahlah! Kita hidup di Indonesia, negeri sinetron. Negeri dimana akal sehat tak perlu dipakai. Kita harus menanggalkan logika dulu di kamar tidur, baru bisa nonton sinetron dengan nyaman dan menikmati jalan ceritanya yang konyol, alurnya yang tak masuk akal dan terlalu dipaksakan. Seperti itulah hidup di Indonesia. Makin konyol kita, bisa jadi makin sukses. Makin pintar kita berbohong dan mengarang cerita meski tak logis sama sekali, makin aman hidup kita…
Tidak ada komentar:
Posting Komentar