Yang namanya pemilu, entah pemilu Caleg, pemilu
Capres atau pemilu apapun, sepertinya masih sekedar hingar-bingar pesta euphoria,
belum pure sampai pada pesta
demokrasi seperti yang digembar-gemborkan. Iya seperti itulah, karena setiap pemilu
berlangsung politisi hanya beradu jargon. Mengaku bersih, mengaku jujur,
mengaku tegas, mengaku membela rakyat. Bosen...!
Pemimpin yang dibutuhkan saat ini, baik di
jajaran legisltif, eksekutif maupun yudikatif – mungkin terdengar klise –
adalah yang jujur dan tegas. Jujur dalam artian tidak korup, tegas dalam artian
berani mengambil keputusan cepat. Negeri ini sudah begitu rindu-dendam
dan sangat butuh figur seperti ini. Bukan figur yg cuma pintar berjargon atau
berpuisi, bukan yang ngaku-ngaku dekat dengan rakyat tapi hanya lima tahun
sekali, itupun mendatanginya dengan jet pribadi, dengan mobil mewah dilengkapi lambang-lambang
kegagahan, atau dengan menunggang kuda seharga tiga miliar... bukan pula yang terlalu banyak pencitraan, cenderung
hanya sekadar menjual citra ke publik. Atau figur yang sedemikian bangga
memamerkan karakteristik dan simbol-simbol militernya hanya untuk menunjukkan bahwa
dia tegas.
Masih ditambah lagi dengan slogan-slogan heroik yang
sebenarnya sih gak penting-penting amat.
Seperti, Kalau tidak sekarang kapan lagi – Kalau bukan kita siapa lagi, Pokoknya
si ini..., atau, Gerakan Perubahan Dengan Hati Nurani, atau ada lagi, Bekerja
untuk kemajuan bangsa. Hadeew, gak usah muluk-muluk gitu deh, bekerja saja
dengan benar, jujur dan tidak korupsi, itu saja cukup.
Sikap skeptis dan apatis terhadap politik itu
sebenarnya berbahaya, tapi menjadi golput bukan berarti serta merta kita
apatis. Apatis adalah justru ketika kita diam saja melihat pejabat yang korup,
kita tidak menyampaikan opini kita – dengan cara kita tentunya – terhadap
pelanggaran-pelanggaran yang terjadi. Sekadar pergi ke TPS tapi masih bingung
dengan pilihannya atau sekedar supaya tidak dianggap tidak berpartisipasi pun
sebenarnya sikap yang apatis bukan?
Soal menjadi golput atau tidak, itu pilihan. Ketika
kita menjadi golput dengan suatu sikap terbuka bahwa kita tidak/belum percaya
terhadap kandidat yang ada, itu artinya kita tidak apatis. Tunjukkan bahwa
kalian pantas untuk dipilih, berkompetisilah dengan program-program dan
visi-misi yang jelas, bukan dengan beradu caci-maki, sumpah-serapah, saling
melecehkan, saling fitnah, saling serang secara personal, atau sekedar saling
berbalas puisi.
Mengintip rekam-jejak para kandidat, kayaknya ada
juga yang cukup baik, tapi untuk tahun ini masih tetep belum dulu deh. Karena
terlalu banyak berharap akan membuat kita kecewa.
# Sedikit berharap, sedikit kecewa, banyak bekerja,
sambil terus nyinyir.