Jumat, 04 April 2014

Pemilu dan Keterbukaan Golput



Yang namanya pemilu, entah pemilu Caleg, pemilu Capres atau pemilu apapun, sepertinya masih sekedar hingar-bingar pesta euphoria, belum pure sampai pada pesta demokrasi seperti yang digembar-gemborkan. Iya seperti itulah, karena setiap pemilu berlangsung politisi hanya beradu jargon. Mengaku bersih, mengaku jujur, mengaku tegas, mengaku membela rakyat. Bosen...!

Pemimpin yang dibutuhkan saat ini, baik di jajaran legisltif, eksekutif maupun yudikatif – mungkin terdengar klise – adalah yang jujur dan tegas. Jujur dalam artian tidak korup, tegas dalam artian berani mengambil keputusan  cepat. Negeri ini sudah begitu rindu-dendam dan sangat butuh figur seperti ini. Bukan figur yg cuma pintar berjargon atau berpuisi, bukan yang ngaku-ngaku dekat dengan rakyat tapi hanya lima tahun sekali, itupun mendatanginya dengan jet pribadi, dengan mobil mewah dilengkapi lambang-lambang kegagahan, atau dengan menunggang kuda seharga tiga miliar...  bukan pula yang terlalu banyak pencitraan, cenderung hanya sekadar menjual citra ke publik. Atau figur yang sedemikian bangga memamerkan karakteristik dan simbol-simbol militernya hanya untuk menunjukkan bahwa dia tegas.

Masih ditambah lagi dengan slogan-slogan heroik yang  sebenarnya sih gak penting-penting amat. Seperti, Kalau tidak sekarang kapan lagi – Kalau bukan kita siapa lagi, Pokoknya si ini..., atau, Gerakan Perubahan Dengan Hati Nurani, atau ada lagi, Bekerja untuk kemajuan bangsa. Hadeew, gak usah muluk-muluk gitu deh, bekerja saja dengan benar, jujur dan tidak korupsi, itu saja cukup.

Sikap skeptis dan apatis terhadap politik itu sebenarnya berbahaya, tapi menjadi golput bukan berarti serta merta kita apatis. Apatis adalah justru ketika kita diam saja melihat pejabat yang korup, kita tidak menyampaikan opini kita – dengan cara kita tentunya – terhadap pelanggaran-pelanggaran yang terjadi. Sekadar pergi ke TPS tapi masih bingung dengan pilihannya atau sekedar supaya tidak dianggap tidak berpartisipasi pun sebenarnya sikap yang apatis bukan?

Soal menjadi golput atau tidak, itu pilihan. Ketika kita menjadi golput dengan suatu sikap terbuka bahwa kita tidak/belum percaya terhadap kandidat yang ada, itu artinya kita tidak apatis. Tunjukkan bahwa kalian pantas untuk dipilih, berkompetisilah dengan program-program dan visi-misi yang jelas, bukan dengan beradu caci-maki, sumpah-serapah, saling melecehkan, saling fitnah, saling serang secara personal, atau sekedar saling berbalas puisi.

Mengintip rekam-jejak para kandidat, kayaknya ada juga yang cukup baik, tapi untuk tahun ini masih tetep belum dulu deh. Karena terlalu banyak berharap akan membuat kita kecewa.

# Sedikit berharap, sedikit kecewa, banyak bekerja, sambil terus nyinyir.