Tidak adakah celah sedikitpun bagi anak-anak untuk berbeda
dalam hal preferensi (kesukaan), obsesi, keinginan, tingkahlaku, selain model
kapitalis yang melemahkan, menumpulkan, dan menebalkan iman imitatif anak-anak
itu?
Tentu saja ada. Kebetulan saya menjumpai anak seperti itu. Anak seorang kawan saya yang masih berumur 7 tahun dengan selera musiknya yang berbeda dari anak-anak kebanyakan yakni musik dari band-band yang beraliran musik keras atau metal.
Nama panggilannya adalah Zoel, sengaja dipanggil seperti itu diambil dari nama aslinya Julian. Kesukaan Zoel pada musik metal memang datang dari papanya yang keranjingan musik jenis ini pada masa-masa kuliah dulu dan kebetulan masih banyak mengoleksi kaset-kasetnya. Anak kelas 2 SD itu mengaku tidak suka dengan musik-musik pop. Dia malah keranjingan mendengarkan lagu dari band-band metal seperti Devildriver, Dragonfor, Halloween, Yngwi Malmsteen, Motley Crue, Megadeth, Metallica dan Napalm Death. Ternyata anaknya sangat cerdas : nilai raport-nya semua sembilan, dan anaknya sangat kritis. Setiap teman-teman papanya datang ke rumahnya, dia banyak bertanya seperti orang dewasa. Pikirannya demokratis, tak takut mencecar pertanyaan pada orang-orang baru karena otaknya tidak cengeng dan jiwanya tidak takut.
Tanpa meniru musik-musik cengeng yang dipenuhi pujaan-pujaan sok romantis dan mendayu-dayu, ternyata anak-anak punya harga diri dan punya sikap yang kuat. Karena ia tak hanya mengikuti selera umum, tetapi punya pilihan alternatif dalam masalah selera. Tentu penjelasan-penjelasan kenapa ia bisa memilih selera itu, harus dijelaskan dan karenanya dengan mendapatkan penjelasan yang masuk akal anak akan menguatkan keyakinannya pada apa yang dipilihnya. Coba kita bayangkan bagaimana jika anak yang bertanya “Itu musik apa sih, Pa? lalu muncul jawaban yang cukup abstrak : pokoknya musik ini keren..?
Akan beda misalnya jika terjadi tanya jawab atau dialog yang masuk akal seperti ini, ketika kita mempedengarkan pertama kali musik metal : “Ini musik apa, Pa? Ini namanya musik metal. Tuh dengar suaranya, teriakannya kuat. Itu namanya screaming. Tuh rambutnya gondrong, penampilannya gagah dan percaya diri. Nggak kayak Kangen Band yang ngliatin mukanya aja malu dan wajahnya selalu ditutupi rambutnya kan?... Coba, apa ada band Indonesia yang kayak gitu, Pasha vokalisnya Ungu saja pernah sakit tenggorokan hanya karena nyanyi lagu-lagu melo dan lembek. Coba kalau mereka disuruh screaming kayak gitu, pasti tenggorokannya putus. Lagian yang ini lirik-liriknya menggugat. Kalau Armada, Wali, Ungu, ST12, Kangen Band, lirik-liriknya kan mengiba-ngiba, meminta cinta kayak pengemis. Kamu gak mau kan jadi pengemis? Nah, makanya kalau milih musik tuh kayak gini ni, bro! Hebat kan?
Dengan penjelasan yang meyakinkan seperti itu, tentu anak-anak akan merasa nyaman dan yakin bahwa dia bisa berbeda dengan anak-anak lainnya. Ketika kita bekali mereka dengan penjelasan yang logis, maka mereka akan percaya diri ketika berhadapan dengan teman-teman sepermainannya yang punya pilihan musik berbeda. Kepercayaan diri menghasilkan tingkat harga diri pada anak.
Berdasarkan penelitian, individu-individu yang punya harga diri tinggi memiliki sifat-sifat mandiri, kreatif, yakin pada penilaian serta gagasan-gagasan sendiri, berani, berdikari secara sosial (berani menentukan sesuatu sendiri), memiliki kestabilan psikologis, tidak cemas dan lebih berorientasi pada keberhasilan. Orang-orang yang memiliki harga diri tinggi biasanya akan memiliki tingkat kebahagiaan dan lebih efektif dalam kehidupan sehari-hari mereka dibanding yang memiliki harga diri rendah. Orang-orang yang harga dirinya rendah kurang percaya pada diri mereka sendiri dan lebih segan-segan menyatakan diri mereka dalam suatu kelompok, khususnya jika mereka memiliki gagasan-gagasan baru atau ide-ide kreatif. Mereka lebih banyak mendengar dan ikut-ikutan daripada berpartisipasi, mereka lebih sibuk dengan urusan, pikiran dan perasaan mereka sendiri. Mereka kurang berhasil dalam menjalin hubungan-hubungan antarpribadi dan seringkali kurang aktif dalam masalah-masalah social-kemasyarakatan maupun masalah-masalah politik.
Untunglah saya ketemu Zoel. Sangat mungkin masih ada ”Zoel-Zoel” yang lainnya. Pasti ada anak-anak yang tanggap terhadap kontradiksi, terutama anak-anak yang dididik oleh orangtua dan orang-orang yang punya preferensi berbeda terhadap kehidupan, tujuannya, pandangan keseniannya, dan tindakan-tindakannya. Saya tidak malu belajar pada Zoel!
Tentu saja ada. Kebetulan saya menjumpai anak seperti itu. Anak seorang kawan saya yang masih berumur 7 tahun dengan selera musiknya yang berbeda dari anak-anak kebanyakan yakni musik dari band-band yang beraliran musik keras atau metal.
Nama panggilannya adalah Zoel, sengaja dipanggil seperti itu diambil dari nama aslinya Julian. Kesukaan Zoel pada musik metal memang datang dari papanya yang keranjingan musik jenis ini pada masa-masa kuliah dulu dan kebetulan masih banyak mengoleksi kaset-kasetnya. Anak kelas 2 SD itu mengaku tidak suka dengan musik-musik pop. Dia malah keranjingan mendengarkan lagu dari band-band metal seperti Devildriver, Dragonfor, Halloween, Yngwi Malmsteen, Motley Crue, Megadeth, Metallica dan Napalm Death. Ternyata anaknya sangat cerdas : nilai raport-nya semua sembilan, dan anaknya sangat kritis. Setiap teman-teman papanya datang ke rumahnya, dia banyak bertanya seperti orang dewasa. Pikirannya demokratis, tak takut mencecar pertanyaan pada orang-orang baru karena otaknya tidak cengeng dan jiwanya tidak takut.
Tanpa meniru musik-musik cengeng yang dipenuhi pujaan-pujaan sok romantis dan mendayu-dayu, ternyata anak-anak punya harga diri dan punya sikap yang kuat. Karena ia tak hanya mengikuti selera umum, tetapi punya pilihan alternatif dalam masalah selera. Tentu penjelasan-penjelasan kenapa ia bisa memilih selera itu, harus dijelaskan dan karenanya dengan mendapatkan penjelasan yang masuk akal anak akan menguatkan keyakinannya pada apa yang dipilihnya. Coba kita bayangkan bagaimana jika anak yang bertanya “Itu musik apa sih, Pa? lalu muncul jawaban yang cukup abstrak : pokoknya musik ini keren..?
Akan beda misalnya jika terjadi tanya jawab atau dialog yang masuk akal seperti ini, ketika kita mempedengarkan pertama kali musik metal : “Ini musik apa, Pa? Ini namanya musik metal. Tuh dengar suaranya, teriakannya kuat. Itu namanya screaming. Tuh rambutnya gondrong, penampilannya gagah dan percaya diri. Nggak kayak Kangen Band yang ngliatin mukanya aja malu dan wajahnya selalu ditutupi rambutnya kan?... Coba, apa ada band Indonesia yang kayak gitu, Pasha vokalisnya Ungu saja pernah sakit tenggorokan hanya karena nyanyi lagu-lagu melo dan lembek. Coba kalau mereka disuruh screaming kayak gitu, pasti tenggorokannya putus. Lagian yang ini lirik-liriknya menggugat. Kalau Armada, Wali, Ungu, ST12, Kangen Band, lirik-liriknya kan mengiba-ngiba, meminta cinta kayak pengemis. Kamu gak mau kan jadi pengemis? Nah, makanya kalau milih musik tuh kayak gini ni, bro! Hebat kan?
Dengan penjelasan yang meyakinkan seperti itu, tentu anak-anak akan merasa nyaman dan yakin bahwa dia bisa berbeda dengan anak-anak lainnya. Ketika kita bekali mereka dengan penjelasan yang logis, maka mereka akan percaya diri ketika berhadapan dengan teman-teman sepermainannya yang punya pilihan musik berbeda. Kepercayaan diri menghasilkan tingkat harga diri pada anak.
Berdasarkan penelitian, individu-individu yang punya harga diri tinggi memiliki sifat-sifat mandiri, kreatif, yakin pada penilaian serta gagasan-gagasan sendiri, berani, berdikari secara sosial (berani menentukan sesuatu sendiri), memiliki kestabilan psikologis, tidak cemas dan lebih berorientasi pada keberhasilan. Orang-orang yang memiliki harga diri tinggi biasanya akan memiliki tingkat kebahagiaan dan lebih efektif dalam kehidupan sehari-hari mereka dibanding yang memiliki harga diri rendah. Orang-orang yang harga dirinya rendah kurang percaya pada diri mereka sendiri dan lebih segan-segan menyatakan diri mereka dalam suatu kelompok, khususnya jika mereka memiliki gagasan-gagasan baru atau ide-ide kreatif. Mereka lebih banyak mendengar dan ikut-ikutan daripada berpartisipasi, mereka lebih sibuk dengan urusan, pikiran dan perasaan mereka sendiri. Mereka kurang berhasil dalam menjalin hubungan-hubungan antarpribadi dan seringkali kurang aktif dalam masalah-masalah social-kemasyarakatan maupun masalah-masalah politik.
Untunglah saya ketemu Zoel. Sangat mungkin masih ada ”Zoel-Zoel” yang lainnya. Pasti ada anak-anak yang tanggap terhadap kontradiksi, terutama anak-anak yang dididik oleh orangtua dan orang-orang yang punya preferensi berbeda terhadap kehidupan, tujuannya, pandangan keseniannya, dan tindakan-tindakannya. Saya tidak malu belajar pada Zoel!