Rabu, 20 Maret 2013

Kenapa Takut Berbeda?



Tidak adakah celah sedikitpun bagi anak-anak untuk berbeda dalam hal preferensi (kesukaan), obsesi, keinginan, tingkahlaku, selain model kapitalis yang melemahkan, menumpulkan, dan menebalkan iman imitatif anak-anak itu?

Tentu saja ada. Kebetulan saya menjumpai anak seperti itu. Anak seorang kawan saya yang masih berumur 7 tahun dengan selera musiknya yang berbeda dari anak-anak kebanyakan yakni musik dari band-band yang beraliran musik keras atau metal.

Nama panggilannya adalah Zoel, sengaja dipanggil seperti itu diambil dari nama aslinya Julian. Kesukaan Zoel pada musik metal memang datang dari papanya yang keranjingan musik jenis ini pada masa-masa kuliah dulu dan kebetulan masih banyak mengoleksi kaset-kasetnya. Anak kelas 2 SD itu mengaku tidak suka dengan musik-musik pop. Dia malah keranjingan mendengarkan lagu dari band-band metal seperti Devildriver, Dragonfor, Halloween, Yngwi Malmsteen, Motley Crue, Megadeth, Metallica dan Napalm Death. Ternyata anaknya sangat cerdas : nilai raport-nya semua sembilan, dan anaknya sangat kritis. Setiap teman-teman papanya datang ke rumahnya, dia banyak bertanya seperti orang dewasa. Pikirannya demokratis, tak takut mencecar pertanyaan pada orang-orang baru karena otaknya tidak cengeng dan jiwanya tidak takut.

Tanpa meniru musik-musik cengeng yang dipenuhi pujaan-pujaan sok romantis dan mendayu-dayu, ternyata anak-anak punya harga diri dan punya sikap yang kuat. Karena ia tak hanya mengikuti selera umum, tetapi punya pilihan alternatif dalam masalah selera. Tentu penjelasan-penjelasan kenapa ia bisa memilih selera itu, harus dijelaskan dan karenanya dengan mendapatkan penjelasan yang masuk akal anak akan menguatkan keyakinannya pada apa yang dipilihnya. Coba kita bayangkan bagaimana jika anak yang bertanya “Itu musik apa sih, Pa? lalu muncul jawaban yang cukup abstrak : pokoknya musik ini keren..?

Akan beda misalnya jika terjadi tanya jawab atau dialog yang masuk akal seperti ini, ketika kita mempedengarkan pertama kali musik metal : “Ini musik apa, Pa? Ini namanya musik metal. Tuh dengar suaranya, teriakannya kuat. Itu namanya screaming. Tuh rambutnya gondrong, penampilannya gagah dan percaya diri. Nggak kayak Kangen Band yang ngliatin mukanya aja malu dan wajahnya selalu ditutupi rambutnya kan?... Coba, apa ada band Indonesia yang kayak gitu, Pasha vokalisnya Ungu saja pernah sakit tenggorokan hanya karena nyanyi lagu-lagu melo dan lembek. Coba kalau mereka disuruh screaming kayak gitu, pasti tenggorokannya putus. Lagian yang ini lirik-liriknya menggugat. Kalau Armada, Wali, Ungu, ST12, Kangen Band, lirik-liriknya kan mengiba-ngiba, meminta cinta kayak pengemis. Kamu gak mau kan jadi pengemis? Nah, makanya kalau milih musik tuh kayak gini ni, bro! Hebat kan?

Dengan penjelasan yang meyakinkan seperti itu, tentu anak-anak akan merasa nyaman dan yakin bahwa dia bisa berbeda dengan anak-anak lainnya. Ketika kita bekali mereka dengan penjelasan yang logis, maka mereka akan percaya diri ketika berhadapan dengan teman-teman sepermainannya yang punya pilihan musik berbeda. Kepercayaan diri menghasilkan tingkat harga diri pada anak.

Berdasarkan penelitian, individu-individu yang punya harga diri tinggi memiliki sifat-sifat mandiri, kreatif, yakin pada penilaian serta gagasan-gagasan sendiri, berani, berdikari secara sosial (berani menentukan sesuatu sendiri), memiliki kestabilan psikologis, tidak cemas dan lebih berorientasi pada keberhasilan. Orang-orang yang memiliki harga diri tinggi biasanya akan memiliki tingkat kebahagiaan dan lebih efektif dalam kehidupan sehari-hari mereka dibanding yang memiliki harga diri rendah. Orang-orang yang harga dirinya rendah kurang percaya pada diri mereka sendiri dan lebih segan-segan menyatakan diri mereka dalam suatu kelompok, khususnya jika mereka memiliki gagasan-gagasan baru atau ide-ide kreatif. Mereka lebih banyak mendengar dan ikut-ikutan daripada berpartisipasi, mereka lebih sibuk dengan urusan, pikiran dan perasaan mereka sendiri. Mereka kurang berhasil dalam menjalin hubungan-hubungan antarpribadi dan seringkali kurang aktif dalam masalah-masalah social-kemasyarakatan maupun masalah-masalah politik.

Untunglah saya ketemu Zoel. Sangat mungkin masih ada ”Zoel-Zoel” yang lainnya. Pasti ada anak-anak yang tanggap terhadap kontradiksi, terutama anak-anak yang dididik oleh orangtua dan orang-orang yang punya preferensi berbeda terhadap kehidupan, tujuannya, pandangan keseniannya, dan tindakan-tindakannya. Saya tidak malu belajar pada Zoel!

Minggu, 17 Maret 2013

Ketika Menjadi Mahasiswa Adalah Sebuah Keberuntungan



Kecenderungan berpikir anak-anak SMA dan menjelang masa-masa kelulusan mereka di republik ini saat sekarang adalah memandang menjadi mahasiswa itu sebagai sebuah impian atau bahkan sebuah keberuntungan. Kecenderungan seperti ini jelas pertanda buruk. Coba kita bandingkan dengan negara Kuba di Amerika Latin sana, anak-anak muda mereka jelas tidak menganut paham yang demikian. Di sana setiap orang dijamin haknya untuk menamatkan pendidikannya sampai ke jenjang pendidikan terakhir dan tanpa ongkos secuil pun. Kalau kita berpikir, kenapa bisa demikian? Maka kita sudah berada di kerangka berpikir yang benar. Karena kondisi pendidikan disana kira-kira seperti inilah realitasnya :

Rakyat mempunyai hak yang sama dalam mengakses pendidikan, dan negara berkewajiban menyelenggarakan pendidikan. Karena pendidikan diselenggarakan oleh negara, sehingga bisa mewujudkan angka perbandingan guru dan pelajar yang luar biasa, yaitu satu tenaga pengajar/guru untuk 13, 6 pelajar. Kemudian negara juga berkewajiban menjamin kesatuan utuh antara jumlah orang-orang yang sedang belajar dengan kebutuhan tenaga kerja dan lapangan kerja yang tersedia di seluruh negeri.. Siswa berhak memilih, mengikuti pra-universitas atau pendidikan teknisi dan professional yang akan mengarahkan pada dunia kerja. Pra-universitas juga mengarahkan siswa yang akan meneruskan ke jenjang perguruan tinggi dan memperdalam bidang akademik atau menjadi tenaga pengajar. Sekali lagi, itu semua gratis. Lantas, biayanya? Negara bertanggung jawab penuh melakukan “apa saja” dengan semua kekayaan alam yang dimiliki dan keuntungan dari itu semua dikembalikan kepada sang empunya : rakyat.

Lalu bagaimana ketika kita akan menjadi mahasiswa di republik kita tercinta ini? Mari kita tengok kembali ke kondisi-kondisi umum yang senantiasa kita jumpai dan mungkin kita sendiri pernah bersinggungan dengan situasi semacam ini.

1

Keberuntungan siswa yang pertama, lulus ujian nasional. Setelah itu siswa akan mati-matian belajar membahas kumpulan soal yang sudah dirancang sedemikian rupa. Rasanya kurang afdol, kurang pas sebelum mendapat “pelatihan” supersingkat dari mentor di tempat bimbingan. Kemudian siswa pun ikut seleksi masuk perguruan tinggi negeri. Dan lulus diterima di perguruan tinggi negeri. Selamat. Tapi tahukah persentase antara yang lulus dan yang harus gigit jari? Hitung berapa banyak lulusan SMA yang sanggup meneruskan kuliah. Tidak berimbang. Itulah makanya status mahasiswa disebut sebagai kaum beruntung. Beruntung karena kesempatan menjadi mahasiswa tidak dimiliki setiap orang.

2

Selamat datang di kampus. Kakak-kakak senior segera akan berceloteh : menjadi mahasiswa itu keren, mahasiswa itu ujung tombak perubahan, mahasiswa itu calon pemimpin, mahasiswa itu intelektual muda. Jargon yang sanggup menembus relung hati terdalam dan menghantarkan para mahasiswa baru ke dunia mimpi. Padahal yang terjadi sesungguhnya adalah para mahasiswa baru ini sedang memasuki kampus yang memiliki tradisi pendidikan yang buram. Buram ketika absensi yang sangat ketat mengurung kreativitas mahasiswa. Buram saat pelajaran tidak membuat mereka menjadi cerdas tapi membuat ngantuk dan lapar. Kalau mau jujur dan menyadari, mereka akan saksikan : pengunjung perpustakaan tidak sepadan dibandingkan dengan jumlah pengungjung mall atau pusat-pusat perbelanjaan. Tidak usah ditanya lagi : perpustakaan menjadi tempat tersunyi. Boleh-boleh saja tidak percaya, tapi inilah kenyataannya : sebagian besar kakak senior hanyalah fokus mengejar nilai. Bahkan dengan menghalalkan cara-cara kotor. Tradisi bertanya bukanlah sesuatu yang mudah didapati. Mereka begitu garang berteriak tentang idealisme di luar ruang kuliah, tapi betapa pendiamnya mereka saat berhadapan dengan dosen, menjadi sangat lembek, dan penuh keraguan. Hampir semua seragam seirama karena amanat insitusi pendidikan kini lebih mirip dengan tugas lembaga-lembaga bimbingan belajar : hanya bertugas meluluskan !

3

Ilmu yang didapat selama kuliah kelak akan mempermudah dalam menghadapi realita kehidupan. Demikian bentuk idealnya. Dan itukah yang kemudian terjadi? Setiap perguruan tinggi, lazimnya, menjamin setiap lulusannya. Dan jaminan pasti yang diberikan oleh semua perguruan tinggi dan tidak pernah meleset adalah : menjadi pengangguran. Ada banyak sarjana menganggur dan lebih banyak lagi sarjana yang bekerja sia-sia. Lulusan sastra jadi salesman. Lulusan ekonomi jadi tenaga sekuriti. Sarjana pertanian bekerja di bank. Adapun dokter akan menjadi dokter yang mahal biaya pelayanannya. Lulusan hukum menghasilkan jaksa atau hakim yang begitu gampang disuap. Semua diterima sebagai sesuatu yang wajar dengan dalih teori kelenturan ekonomi masyarakat.

4

Negeri yang teramat kaya ini tidak bisa menggratiskan biaya pendidikan anak usia sekolah dan biaya kuliah. Negeri ini adalah negeri uzur. Mengenyam alam kemerdekaan hampir tujuh dasawarsa tapi masih belum mampu memberikan jaminan apa pun selain jaminan ketidakpastian. Anak-anak sekolah dan mahasiswa menjadi pelajar di negeri yang mengalami serba kesusahan. Peminta-minta menjadi hiasan di perempatan jalan. Sawah-sawah penopang hidup petani beralih fungsi menjadi pemukiman elite dan pusat perbelanjaan. Hutan sudah gundul. Pedagang kaki lima harus berkejaran dengan petugas pamong praja. Selayaknyalah realitas ini dikupas tuntas di ruang-ruang kuliah. Tapi sepertinya pendidikan gagal menjelaskan realitas ini. Pendidikan lebih banyak menampilkan fantasi dan mimpi. Pendidikan tak pernah mendekatkan siswa dan mahasiswa pada alam dan realitas hidup di sekitarnya.

5

Lantas, apa yang akan kita perbuat? Masalah sudah mendekati penyelesaian akhir ketika kita sudah tahu kenapa masalah itu bisa ada, siapa yang membuatnya, kelompok mana yang dirugikan. Kita tinggal melengkapinya dengan pertanyaan : bagaimana kita mengantisipasinya. Mungkin sangat sulit untuk mencari jurus yang sedemikian sakti dalam menghadapi masalah itu. Namun sebuah solusi yang mungkin terlihat sederhana, tapi yakinlah ini menawarkan jalan di antara sekian banyak jalan yang mungkin dilalui. Berorganisasilah. Berkumpullah bersama teman-teman, bangun komunitas. Sungguh, organisasi pasti akan mendatangkan banyak manfaat. Organisasi yang dewasa akan memupuk dan menyuburkan rasa kebersamaan. Akan menggembleng individu dengan kerja-kerja organisasi yang tentu akan menghasilkan manusia yang bertanggung jawab. Organisasi paling “asyik” ada di kampus. Di organisasi setiap pribadi akan mengalami, menyelesaikan, dan mengerjakan pelbagai perkara bersama. Organsisasi adalah jalan untuk mematahkan pengalaman sesat berpikir dalam pendidikan. Utuhkan pribadi dengan kemampuan, yang tidak boleh dianggap enteng : membaca dan menulis. Membaca yang membuat kita mengenal isi dunia dengan semua tetek bengeknya. Menulis akan memperkenalkan siapa diri kita yang sebenarnya. Selamat datang di dunia nyata…..

Senin, 04 Maret 2013

Anak-Anak Belajar Dari Lingkungan Hidupnya …


Jika anak biasa hidup dengan celaan,
ia akan belajar memaki.
Jika anak biasa hidup dalam permusuhan,
ia akan belajar melawan.
Jika anak biasa hidup dicekam ketakutan,
ia akan belajar rendah diri.
Jika anak biasa hidup dikasihani,
ia akan belajar meratapi nasibnya sendiri.
Jika anak biasa hidup dengan ejekan,
ia akan belajar menjadi pemalu.
Jika anak biasa hidup dengan rasa iri,
ia akan belajar membenci.
Jika anak biasa hidup dengan toleransi,
ia akan belajar menjadi penyabar.
Jika anak biasa hidup dengan semangat dan dorongan,
ia akan belajar percaya diri.
Jika anak biasa hidup dengan pujian,
ia akan belajar menghargai.
Jika anak biasa hidup tanpa banyak dipersalahkan,
ia akan belajar menghargai diri.
Jika anak biasa hidup dengan mendapatkan pengakuan,
ia akan belajar menetapkan langkahnya.
Jika anak biasa hidup dengan kejujuran,
ia akan belajar tentang kebenaran.
Jika anak biasa hidup dengan perlakuan adil,
ia akan belajar tentang keadilan.
Jika anak biasa hidup dengan rasa aman,
ia akan belajar mempercayai orang-orang di sekitarnya.
Jika anak biasa hidup dengan keramahan dan persahabatan,
ia akan belajar menemukan cinta dalam kehidupan.

(Dorothy Law Nolte)