Kecenderungan
berpikir anak-anak SMA dan menjelang masa-masa kelulusan mereka di republik ini
saat sekarang adalah memandang menjadi mahasiswa itu sebagai sebuah impian atau
bahkan sebuah keberuntungan. Kecenderungan seperti ini jelas pertanda buruk.
Coba kita bandingkan dengan negara Kuba di Amerika Latin sana, anak-anak muda
mereka jelas tidak menganut paham yang demikian. Di sana setiap orang dijamin
haknya untuk menamatkan pendidikannya sampai ke jenjang pendidikan terakhir dan
tanpa ongkos secuil pun. Kalau kita berpikir, kenapa bisa demikian? Maka kita
sudah berada di kerangka berpikir yang benar. Karena kondisi pendidikan disana
kira-kira seperti inilah realitasnya :
Rakyat mempunyai
hak yang sama dalam mengakses pendidikan, dan negara berkewajiban
menyelenggarakan pendidikan. Karena pendidikan diselenggarakan oleh negara,
sehingga bisa mewujudkan angka perbandingan guru dan pelajar yang luar biasa,
yaitu satu tenaga pengajar/guru untuk 13, 6 pelajar. Kemudian negara juga
berkewajiban menjamin kesatuan utuh antara jumlah orang-orang yang sedang
belajar dengan kebutuhan tenaga kerja dan lapangan kerja yang tersedia di
seluruh negeri.. Siswa berhak memilih, mengikuti pra-universitas atau
pendidikan teknisi dan professional yang akan mengarahkan pada dunia kerja.
Pra-universitas juga mengarahkan siswa yang akan meneruskan ke jenjang
perguruan tinggi dan memperdalam bidang akademik atau menjadi tenaga pengajar.
Sekali lagi, itu semua gratis. Lantas, biayanya? Negara bertanggung jawab penuh
melakukan “apa saja” dengan semua kekayaan alam yang dimiliki dan keuntungan dari
itu semua dikembalikan kepada sang empunya : rakyat.
Lalu bagaimana
ketika kita akan menjadi mahasiswa di republik kita tercinta ini? Mari kita
tengok kembali ke kondisi-kondisi umum yang senantiasa kita jumpai dan mungkin
kita sendiri pernah bersinggungan dengan situasi semacam ini.
1
Keberuntungan siswa
yang pertama, lulus ujian nasional. Setelah itu siswa akan mati-matian belajar
membahas kumpulan soal yang sudah dirancang sedemikian rupa. Rasanya kurang afdol,
kurang pas sebelum mendapat “pelatihan” supersingkat dari mentor di tempat
bimbingan. Kemudian siswa pun ikut seleksi masuk perguruan tinggi negeri. Dan
lulus diterima di perguruan tinggi negeri. Selamat. Tapi tahukah persentase
antara yang lulus dan yang harus gigit jari? Hitung berapa banyak lulusan SMA
yang sanggup meneruskan kuliah. Tidak berimbang. Itulah makanya status
mahasiswa disebut sebagai kaum beruntung. Beruntung karena kesempatan menjadi
mahasiswa tidak dimiliki setiap orang.
2
Selamat datang di
kampus. Kakak-kakak senior segera akan berceloteh : menjadi mahasiswa itu
keren, mahasiswa itu ujung tombak perubahan, mahasiswa itu calon pemimpin,
mahasiswa itu intelektual muda. Jargon yang sanggup menembus relung hati
terdalam dan menghantarkan para mahasiswa baru ke dunia mimpi. Padahal yang
terjadi sesungguhnya adalah para mahasiswa baru ini sedang memasuki kampus yang
memiliki tradisi pendidikan yang buram. Buram ketika absensi yang sangat ketat
mengurung kreativitas mahasiswa. Buram saat pelajaran tidak membuat mereka menjadi
cerdas tapi membuat ngantuk dan lapar. Kalau mau jujur dan menyadari, mereka
akan saksikan : pengunjung perpustakaan tidak sepadan dibandingkan dengan
jumlah pengungjung mall atau pusat-pusat perbelanjaan. Tidak usah ditanya lagi :
perpustakaan menjadi tempat tersunyi. Boleh-boleh saja tidak percaya, tapi
inilah kenyataannya : sebagian besar kakak senior hanyalah fokus mengejar nilai.
Bahkan dengan menghalalkan cara-cara kotor. Tradisi bertanya bukanlah sesuatu
yang mudah didapati. Mereka begitu garang berteriak tentang idealisme di luar ruang
kuliah, tapi betapa pendiamnya mereka saat berhadapan dengan dosen, menjadi
sangat lembek, dan penuh keraguan. Hampir semua seragam seirama karena amanat
insitusi pendidikan kini lebih mirip dengan tugas lembaga-lembaga bimbingan
belajar : hanya bertugas meluluskan !
3
Ilmu yang didapat
selama kuliah kelak akan mempermudah dalam menghadapi realita kehidupan.
Demikian bentuk idealnya. Dan itukah yang kemudian terjadi? Setiap perguruan
tinggi, lazimnya, menjamin setiap lulusannya. Dan jaminan pasti yang diberikan
oleh semua perguruan tinggi dan tidak pernah meleset adalah : menjadi
pengangguran. Ada banyak sarjana menganggur dan lebih banyak lagi sarjana yang
bekerja sia-sia. Lulusan sastra jadi salesman. Lulusan ekonomi jadi tenaga
sekuriti. Sarjana pertanian bekerja di bank. Adapun dokter akan menjadi dokter
yang mahal biaya pelayanannya. Lulusan hukum menghasilkan jaksa atau hakim yang
begitu gampang disuap. Semua diterima sebagai sesuatu yang wajar dengan dalih
teori kelenturan ekonomi masyarakat.
4
Negeri yang
teramat kaya ini tidak bisa menggratiskan biaya pendidikan anak usia sekolah
dan biaya kuliah. Negeri ini adalah negeri uzur. Mengenyam alam kemerdekaan hampir
tujuh dasawarsa tapi masih belum mampu memberikan jaminan apa pun selain
jaminan ketidakpastian. Anak-anak sekolah dan mahasiswa menjadi pelajar di
negeri yang mengalami serba kesusahan. Peminta-minta menjadi hiasan di
perempatan jalan. Sawah-sawah penopang hidup petani beralih fungsi menjadi pemukiman
elite dan pusat perbelanjaan. Hutan sudah gundul. Pedagang kaki lima harus berkejaran
dengan petugas pamong praja. Selayaknyalah realitas ini dikupas tuntas di
ruang-ruang kuliah. Tapi sepertinya pendidikan gagal menjelaskan realitas ini.
Pendidikan lebih banyak menampilkan fantasi dan mimpi. Pendidikan tak pernah
mendekatkan siswa dan mahasiswa pada alam dan realitas hidup di sekitarnya.
5
Lantas, apa yang
akan kita perbuat? Masalah sudah mendekati penyelesaian akhir ketika kita sudah
tahu kenapa masalah itu bisa ada, siapa yang membuatnya, kelompok mana yang
dirugikan. Kita tinggal melengkapinya dengan pertanyaan : bagaimana kita mengantisipasinya.
Mungkin sangat sulit untuk mencari jurus yang sedemikian sakti dalam menghadapi
masalah itu. Namun sebuah solusi yang mungkin terlihat sederhana, tapi yakinlah
ini menawarkan jalan di antara sekian banyak jalan yang mungkin dilalui.
Berorganisasilah. Berkumpullah bersama teman-teman, bangun komunitas. Sungguh,
organisasi pasti akan mendatangkan banyak manfaat. Organisasi yang dewasa akan memupuk
dan menyuburkan rasa kebersamaan. Akan menggembleng individu dengan kerja-kerja
organisasi yang tentu akan menghasilkan manusia yang bertanggung jawab.
Organisasi paling “asyik” ada di kampus. Di organisasi setiap pribadi akan
mengalami, menyelesaikan, dan mengerjakan pelbagai perkara bersama. Organsisasi
adalah jalan untuk mematahkan pengalaman sesat berpikir dalam pendidikan.
Utuhkan pribadi dengan kemampuan, yang tidak boleh dianggap enteng : membaca
dan menulis. Membaca yang membuat kita mengenal isi dunia dengan semua tetek
bengeknya. Menulis akan memperkenalkan siapa diri kita yang sebenarnya. Selamat
datang di dunia nyata…..
Tidak ada komentar:
Posting Komentar