Kamis, 20 Desember 2012

Ibu...



Ibu,
ingin kusajakkan senyummu,
seraya kupilih dan kupilah ribuan kata,
tetapi tak jua bisa kurangkai kalimat,
yang paling senonoh untukmu.
Biarlah puisi untukmu tetap kupingit di hati,
jika berkenan,
baca saja rangkaian kata pada raut wajahku,
karena aku tak pernah memakai cadar dihadapanmu,
tangisku adalah tangisku dan tawaku adalah tawaku.
Aku mengenal kasihmu dengan sendiriku,
tanpa ada yang mengajari,
tanpa pula referensi,
dan karenamu juga aku bisa mengenal rindu,
yang kuyakini hingga riwayatku ditelan bumi.
Ibu,
aku tahu kita mencintai kesahajaan,
kita membenci kemunafikan,
maka untuk apa kututup rapat aurat tabiatku,
jika hanya untuk menyenangkanmu.


Selamat Hari Ibu...

Senin, 17 Desember 2012

Aku Cinta Ayah



Seorang ayah tiba di rumahnya pada pukul 10 malam. Tidak seperti biasanya, putranya yang masih kelas 2 SD menunggunya di depan pintu. Sepertinya ia sudah menunggu lama.
“Kok belum tidur?” sapa sang ayah pada anaknya. Biasanya si anak sudah lelap ketika ia pulang kerja, dan baru bangun ketika ia akan bersiap berangkat kerja di pagi hari.
“Abe nunggu ayah pulang, karena Abe mau Tanya, "Emang berapa sih gajinya ayah?”
“Lho, kok tumben nanya gaji ayah? mau minta uang lagi ya?”
“Ah, nggak ... Abe pengen tahu aja…”
“Oke, Abe boleh hitung sendiri. Setiap hari ayah bekerja sekitar 10 jam dan dibayar Rp.100.000 setiap bulan rata-rata dihitung 25 hari kerja. Jadi gaji ayah satu bulan berapa, hayo?!”
Si anak berlari mengambil kertas dari meja belajar sementara ayahnya melepas sepatu dan mengambil minuman. Ketika ayahnya ke kamar untuk berganti pakaian, sang anak mengikutinya.
“Hmm.... kalau satu hari ayah dibayar Rp 400.000 utuk 10 jam, berarti satu jam ayah digaji Rp 10.000 dong!”
“Kamu pinter, sekarang tidur ya... sudah malam!” tapi sang anak tak beranjak.
“Ayah, Abe boleh pinjam uang 5.000 Rupiah nggak?”
“Sudah malam, buat apa minta uang malam-malam begini. Sudah, besok pagi saja. Sekarang Abe tidur ya…”
“Tapi…” yah…”
“Sudah, sekarang tidur…!!!” suara sang ayah mulai meninggi.
Anak kecil itu berbalik menuju kamarnya. Sang ayah tampak menyesali ucapannya. Tak lama kemudian ia menghampiri anaknya di kamar. Anak itu sedang-terisak-isak sambil memegang uang Rp 5.000.
Sambil mengelus kepala sang anak, ayahnya berkata ”Maafkan ayah ya... kenapa Abe minta uang malam-malam begini... besok kan masih bisa. Jangankan 5.000, lebih dari itu juga boleh….”
“Ayah, Abe nggak mau minta uang. Abe hanya ingin pinjam sebentar… nanti Abe kembalikan kalau sudah menabung lagi dari uang jajanku.”
“Iya... iya... tapi buat apa??” Tanya sang ayah.
“Aku menunggu ayah dari jam 7 tadi. Abe mau ajak ayah main ular tangga. Tiga puluh menit saja. Ibu sering bilang, kalau waktu ayah itu sangat berharga. Jadi Abe mau beli waktu ayah. Abe buka tabungan Abe, tapi cuma ada Rp 5.000… tadi ayah bilang, untuk satu jam ayah dibayar Rp 10.000 jadi kalau butuh satu jam waktu ayah Abe harus punya uang Rp 10.000 karena uang tabunganku tidak cukup, Abe mau pinjam Rp 5.000 dari ayah…”
Sang ayah cuma terdiam. ia kehilangan kata-kata.ia pun memeluk erat anak kesayangannya itu dengan berlinang air mata jatuh dari sudut matanya...
Untuk orang tua yang penuh dengan luapan kasih sayang...
Jika kita tak pandai mengatur waktu dengan baik, maka bisa jadi banyak yang akan menjadi korban... entah itu diri kita sendiri, keluarga, pekerjaan, pendidikan dan bahkan masa depan buah hati kita... "
Salam…

Senin, 10 September 2012

Percakapan Pensil dan Penghapus


Syahdan pensil dan penghapus sedang bercakap-cakap…
Pensil         : Maafkan aku.
Penghapus  : Maafkan untuk apa? Kamu tak melakukan kesalahan apa pun.
Pensil         :  Aku minta maaf karena telah membuatmu terluka. Setiap kali aku melakukan kesalahan, kamu selalu ada utk menghapusnya. Namun setiap kali kamu menghapus kesalahanku, kamu kehilangan sebagian dari dirimu. Kamu akan menjadi semakin kecil dan kecil. Begitu seterusnya.
Penghapus  :  Tapi aku sama sekali tak merasa keberatan. Kau lihat, aku memang tercipta untuk melakukan itu semua, untuk selalu membantumu setiap saat kau melakukan kesalahan. Walaupun suatu hari nanti aku tahu bahwa aku akan pergi dan kau akan menggantikan diriku dengan yg baru, aku ikhlas. Aku bahagia dengan perananku. Jadi tolonglah, kau tak perlu khawatir. Aku tidak suka melihat dirimu bersedih.
Percakapan antara pensil dan penghapus di atas sesungguhnya hanya sebuah analogi. Sesuatu yang inspiratif.
Kita mungkin tak sadar bahwa orang-orang tua kita bagaikan penghapus, sedangkan kita pensil. Orangtua selalu ada untuk anak-anak mereka, memperbaiki kesalahan anak-anaknya.
Ironisnya mereka mengorbankan dirinya sendiri, menjadi semakin kecil dan terus mengecil karena merawat anak-anaknya. Mereka bertambah tua dan akhirnya wafat.
Walaupun anak-anak mereka akhirnya akan menemukan seseorang yang baru (suami atau istri), namun orangtua akan selalu tetap merasa bahagia atas apa yang mereka lakukan terhadap anak-anaknya dan akan selalu merasa tidak suka bila melihat buah hati tercinta mereka merasa khawatir ataupun sedih.
Hingga saat ini, aku masih selalu menjadi si pensil. Dan sangat menyakitkan bagiku ketika harus melihat si penghapus atau orangtuaku semakin bertambah "kecil" dan "kecil" seiring berjalannya waktu. Dan aku pun tahu bahwa suatu hari kelak, yang tertinggal hanyalah "sisa serutan" si penghapus dan segala kenangan yg pernah kulalui dan miliki bersama mereka.
Semestinya kita semakin menyadari bahwa orangtua begitu berharga, tak ternilai.
Sudah selayaknya pula kita membahagiakan mereka sekarang juga, selagi masih bisa...

Rabu, 29 Agustus 2012

Untuk Abiseka anakku...


Abiseka… tiga puluh agustus ini usiamu genap tujuh tahun. Putaran waktu ternyata berjalan begitu cepat, membawa serta Abi, Bapak dan Ibu melalui detik-detik waktu bergerak.
Abi… sejujurnya Bapak tidak pernah merisaukan mengenai seremonial ulang tahun. Karena hari ulang tahun tak ubahnya seperti hari-hari yang lain. Dalam kronologi perjalanan hidup Bapak dan ibu sama sekali tidak memiliki ritual special day pada hari ulang tahun kami. Bapak sering banget lupa mengucapkan ulang tahun kepada Ibu, atau Ibu lupa mengucapkan ulang tahun kepada Bapak pun, bagi kami tidak ada yang aneh, biasa saja, tidak pernah menjadi masalah. Tak pernah terpikir untuk sekedar mengambil waktu khusus bernuansa celebration.
Hanya kecupan hangat dan segenggam doa kepada Tuhan untukmu yang saat ini yang ingin Bapak berikan, itupun mungkin hanya doa sederhana dengan kalimat sederhana pula, karena kamu dan Ibu tahu Bapak tak pandai berucap doa.
Jujur… Bapak tidak pernah ingin menanamkan ritual ulang tahun  semacam ini. Menjalani kehidupan dengan kesahajaan, mungkin seperti itulah yang ingin Bapak dan Ibu tularkan kepadamu. Kita bukan dari golongan orang yang lebih mementingkan gincu daripada bibir.
Bapak tidak pernah menganggap bahwa perayaan itu tidak penting. Perayaan atau celebration bukanlah monopoli hari ulang tahun. Momen-momen keberhasilan dan pencapaian prestasi mungkin jauh lebih layak mendapatkan celebration. Untuk mendapatkan hadiah pun tak harus menunggu saat ulang tahun bukan?
Hidup kita sudah berkelimpahan hadiah dari Tuhan. Keluarga sehat yang harmonis. Kita masih leluasa menghirup nafas dari udara yang senantiasa diberikan Tuhan. Cukup makan, minum, dan berpakaian sepantasnya. Itu semua adalah hadiah pemberian Tuhan yang harus selalu kita syukuri. Tidak ada yang khusus dari hari ulang tahun karena setiap hari dalam kehidupan kita adalah hari-hari yang istimewa.
Selamat ulang tahun anakku, Abiseka Ken Ekasunu…
Lakukan yang terbaik pada dirimu, karena pilihan hidupmu hanya kamu sendirilah yang menentukan.
@ Surat pertama yang kutulis untuk anakku

Kamis, 02 Agustus 2012

Utopia Merdeka


Menjelang peringatan hari kemerdekaan negeri ini, rasanya selalu bertambah pertanyaan yang bergayut seiring dengan datangnya peringatan kemerdekaan itu sendiri. Sejumlah pertanyaan yang (lagi-lagi) rasanya tak pernah terjawab sampai ke peringatan kemerdekaan nanti selanjutnya entah yang ke berapa. Daftar pertanyaan “ ketika merenung di Hari Proklamasi Kemerdekaan RI “ seperti : Benarkah RI kini hanya sebuah negara yang nyaris gagal? Kebangkrutan kesalehan sosial? Benarkah bangsa ini adalah bangsa yang berbudaya tinggi? Negara tanpa kepemimpinan? Agama lebih mulia dari pada Tuhan? Defisit kemanusiaan? Bersatu itu utopia? Republik kita atau Republik mereka? Negara eksperimen demokrasi? Negara tanpa imajinasi? Tempat hunian warga yang berwatak budak, maka tak heran korupsi merajalela? Kemudian sampai pada pertanyaan mendasar, benarkah kita sudah merdeka? Dan ini akan senantiasa diteruskan dengan pertanyaan lain, yang pokoknya… kok (lagi-lagi) rasanya ngeri bener RI kita sekarang ini.

Negeri ini didirikan oleh bapak-bapak bangsa, founding fathers dengan sebuah gagasan besar, tetapi kini antara ide awal menjadi terputus gak pernah nyambung. Semua kehilangan energi untuk mengimplementasikan gagasan besar para pendiri bangsa ini terutama dalam mensejahterakan rakyat. Ibaratnya semua sudah lupa jika sudah pegang kekuasaan (korupsi terus bergulir dan bergilir). Sebuah Epos besar tetapi yang didapatkan hanya manusia-manusia kerdil. Siapakah yang menikmati kemerdekaan? Jujur saja suasana sekarang ini (sekali lagi) rasanya ibarat pra Proklamasi Kemerdekaan 1945 (kata para orang-orang tua kita) dimana kehidupan rakyat jelata yang merupakan mayoritas negeri ini sebagian besar masih hidup dari tangan ke mulut. Masih disibukkan mencari sesuap nasi.

Pada masa pra Proklamasi, semua sektor ekonomi dikuasai oleh kaum penjajah dan minoritas. Lha, sekarang ini sama saja, semua sektor ekonomi, industri, perniagaan malah dikendalikan dan menjadi milik orang lain. (BUMN-BUMN sudah dijual kepada pemodal asing). Meski begitu pemerintah selalu saja dengan pongah meng-counter realitas ini, (dengan) coba simak Pidato Kenegaraan Presiden yang selalu menyebut pertumbuhan ekonomi yang meyakinkan (angka statistiknya)? Gambaran itu menjadi semu belaka, tatkala suatu saat sebuah media harian yang paling besar di negeri ini dalam salah satu edisinya, dari halaman depan, tengah, sampai belakang, mencoba menggambarkan keadaan yang sebenarnya. Kalau zaman Orba, koran itu sudah pasti dibreidel berikut nyawa-nyawa yang ada di dalamnya!

Ada juga suara dari salah satu Kementrian Pemerintah yang mengatakan bahwa sektor riil juga tumbuh? Ya, benar dari sektor TKI dan TKW yang menyumbang jumlah devisa besar (Rp 70 trilyun). Namun itu harus disertai dengan perjuangan taruhan nyawa layaknya pahlawan-pahlawan kita dahulu memperjuangkan republik ini. Dari penghinaan, penistaan, pelecehan, penyiksaan sampai putus lehernya di negeri orang. Hidup sebagai kasta Sudra di negeri orang. Sumbangan devisa yang disertai "pajak" tak resmi dari pemerintahnya sendiri. Sementara kalau sudah sampai pada urusan leher, EGP, emang gue pikirin.

Harapan yang paling sederhanapun yang berhubungan dengan salah satu pertanyaan di atas, ketika agama lebih mulia dari pada Tuhan? tak pernah terjawab sampai detik ini, yang terjadi justru semakin tidak terkendali. Sudah berapa kali Presiden kita janji-janji mau memberantas ormas pembuat onar. Namun kenyataannya pemimpin, menteri dan aparatnya justru saling “berpelukan” dengan mesra, sementara ormas-ormasnya justru semakin berkembang sporadic. Harapan yang jauh lebih sederhana lagi, bisa mempunyai pemimpin yang memilih tidak popular katimbang membiarkan Negara dalam suasana ketidakpastian dan diambang kehancuran. Akankah ada…??? Kapankah…??? Beda benar kualitas para founding fathers dengan pemimpin-pemimpin masa kini.

Kebesaran bangsa tidak ditentukan oleh besarnya penduduk dan luasnya wilayah, tetapi oleh kebesaran jiwa pemimpinnya.

Dirgahayu Indonesia yang kita cintai!

Rabu, 01 Agustus 2012

Spam Berbuah Spam


Fenomena SMS spam makin menggila. Hampir setiap hari para pengguna handphone menerima aneka SMS spam yang berpotensi menipu. Macam-macam isi SMS spam itu, dari "mama minta pulsa" hingga "papa minta uang."
Belakangan ini juga beredar SMS yang isinya meminta transfer uang ke sebuah bank.
Lucunya, SMS seperti itu memicu peredaran pesan via fasilitas BlackBerry Messenger. Isinya tak kalah menggelikan, tapi sebetulnya sama saja : sama-sama spam. Artinya, tak layak dipercaya.
Contohnya seperti ini :
"Hati2 pulsa anda habis. Tolong forward : Jika anda menerima sms seperti ini atau mirip seperti ini :
“Tolong uangnya ditransfer sekarang aja ke bank BNI : 022-741-3681. a/n FRISKA ANANDA, sms saja kalau sudah ditransfer, trimksi...“
Seakan-akan sms nyasar biasa, JANGAN BALAS SMS BALIK...!!!!
Jika membalas sms tersebut (dengan memaki atau berkomentar), anda dikenakan premium charge! Rp 2000).
Itu adalah software baru untuk menyedot pulsa kita tanpa kita harus sms REG yang dikonfirmasi balik.
Sekali nomer HP kita sudah dilock maka selanjutnya pulsa kita akan
disedot terus dengan sms lagi tanpa perlu kita membalas smsnya.
Dan fatalnya kita tidak bisa melakukan UNREG seperti SMS premium yang resmi. Hati-hati dengan kejahatan ini, maling seperti ini sama busuknya dengan koruptor... susah dilacak!

Forward ini untuk menolong kerabat anda."
Berhati-hatilah dan jangan mudah percaya pada isi pesan seperti itu.

Selasa, 31 Juli 2012

TOKO PENJUAL ISTRI


Syahdan, ada sebuah toko unik yang baru dibuka di sebuah mal. Namanya TOKO ISTRI.
Sesuai namanya, toko ini menjual calon-calon istri. Para pria dapat memilih wanita untuk dijadikan sebagai seorang istri di toko baru tersebut.
Setiap calon pembeli harus membaca instruksi yang ditempel di pintu sebelum memilih istri yang diinginkan. Nah, salah satu instruksi itu adalah, "Setiap pembeli hanya boleh masuk toko SATU KALI!"
Toko itu terdiri dari enam lantai. Setiap lantai menunjukkan kelompok calon istri. Semakin tinggi lantainya, semakin tinggi pula nilai calon istri tersebut.
Para pria dapat memilih wanita di lantai mana pun. Syaratnya, jika mereka masuk ke lantai 1 dan mereka belum menemukan pilihan, mereka boleh naik ke lantai 2. Dan seterusnya.
Tapi kalau sudah di lantai 2, mereka tidak boleh turun ke lantai 1 untuk memilih ulang. Mereka hanya boleh terus naik atau keluar toko.
Suatu hari ada seorang pria berkunjung ke " TOKO ISTRI " itu. Ia melihat di setiap lantai terdapat tulisan :
Lantai 1 :
"Wanita di lantai ini taat pada Tuhan & pandai memasak."
Pria itu hanya tersenyum, kemudian dia naik ke lantai selanjutnya.
Lantai 2 :
"Wanita di lantai ini taat pada Tuhan, pandai memasak, dan lemah lembut."
Kembali pria itu naik ke lantai selanjutnya.
Lantai 3 :
"Wanita di lantai ini taat pada Tuhan, pandai memasak, lemah lembut, dan cantik."
''Wow!'' teriak sang pria. Tapi ia masih penasaran dan terus naik. Ia menduga di lantai yang lebih tinggi ada perempuan yang lebih baik.
Sampailah pria itu di lantai 4 yang ada tulisan :
"Wanita di lantai ini taat pada Tuhan, pandai memasak, lemah lembut, cantik sekali, dan sayang anak."
"Ya ampun!" Pria itu berseru, "Aku hampir tak percaya!"
Dia makin penasaran dan meneruskan langkah naik ke lantai 5. Di situ juga ada tulisan, bunyinya :
"Wanita di lantai ini taat pada Tuhan, pandai memasak, lemah lembut, cantik sekali, sayang anak, dan seksi."
"Waaa...." pria itu mulai ngiler karena membayangkan di lantai 6 dia akan mendapatkan wanita yang lebih lengkap lagi.
Dengan tergopoh-gopoh dia pun ke lantai 6. Apa yang dilihatnya?
Di lantai 6 ada tulisan :
"Anda adalah pengunjung yg ke 5.797.015.001. Tidak ada wanita di lantai ini. Lantai ini semata-mata hanya untuk membuktikan bahwa pria tidak pernah merasa puas.
Terima kasih telah berbelanja di TOKO ISTRI. Mohon hati-hati bila keluar."

# sumber dari milis seorang teman

Senin, 30 Juli 2012

Gerutu Buntu


Sudah lebih dari dua pekan ini, sejak mendekati hari raya lebaran harga bahan kebutuhan pokok berlomba saling mendahului berlari kencang dan melompat, melonjak, naik melambung tinggi. Sementara berita kusam klise lain selalu ikut mengiringi.  Ada gerutu berang, kesal, kecewa, stress, depresi, dan 1001 cara untuk mengekspresikan luapan emosi yang telah terlalu sesak untuk ditahan-tahan.. Tak lupa pula media begitu getir dan saling berlomba-lomba menyiarkan suara-suara serak para elemen masyarakat kecil, golongan yang terbuang di negerinya sendiri. Jujur aku bosan dengan liputan yang setiap hari sama. Mau dikata apalagi, tradisi berita basi semacam itu ibarat kerikil yang jatuh ke kolam, riaknya tidak akan besar dan bertahan lama. Pemerintah dalam hal ini selalu pandai meredam situasi dengan janji-janji dan kompensasi-kompensasi yang (mungkin/konon) akan diberikan.
Namun, yang membuat ku semakin sedih, kesal dan muak, ditengah derita yang dialami rakyat kecil, hasil pemerikasaan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap harta kekayaan para pencoleng di negeri ini membuktikan bahwa kekayaan tersebut secara absolut bertambah milyaran rupiah dari hasil pemeriksaan sebelumnya. Aneh negeri ini, negeri ku sendiri dan negeri kita semua. Ada yang kaya, namun banyak sekali yang terlunta. Orang-orang kaya yang buat kebijakan, orang miskin yang terinjak-injak haknya untuk hidup di negerinya sendiri. Sedih, hanya itu yang bisa aku rasakan tanpa bisa berbuat banyak. Karena aku hanyalah anak kecil yang dipundakku sudah ditaruh beban hutang Ibuku akibat ulah anak-anaknya yang “Pembohong, Penjudi, Pemabok, Pemerkosa, dan Pecundang” di tanah kelahirannya sendiri.
Sungguh jika benar bahwasanya para “Pelayan” masyarakat itu lebih kaya dari tuannya sendiri tidaklah mengapa, andaikata seluruh “Pelayan” mau menyisihkan 2,5% saja dari harta mereka untuk Ibunya yang sudah hampir telanjang karena baju yang dikenakannya telah robek compang-camping disana-sini, dan “Tuan” yang mereka layani tak lagi sanggup berpikir cerdas karena perut kelaparan dan sakit-sakitan, maka mereka adalah orang-orang yang dimuliakan...
Namun, ini hanyalah andaikata…
Semoga mereka masih merasa punya Tuhan dan masih sadar akan kewajiban dan hak mereka terhadap harta kekayaan yang mereka miliki…

Rabu, 25 Juli 2012

Hikayat Perseteruan Tempe dan Tahu


Alkisah di sebuah negeri yang subur, kaya, dan makmur… hiduplah sepasang mahluk (makanan) bernama Tempe dan Tahu. Mereka berdua sangat bangga dengan diri mereka, karena mereka mengklaim diri mereka sangat bermanfaat dan ekonomis.
Sayangnya mereka gak pernah akur, mereka suka bersaing secara gak sehat. si Tempe suka menjelek-jelekan Tahu, dan si Tahu suka “ngerjain” si Tempe. Pernah suatu hari si Tempe dengan enaknya bilang ke masyarakat di pasar kalo Tahu mengandung bahan beracun. Tapi kemudian si Tahu lebih parah lagi, dia pernah undang wartawan untuk ngeliput orang-orang yang mati tanpa sebab, dia bilang orang itu mati gara-gara Tempe.
Akhirnya, pertarungan antara Tempe dan Tahu ini, berujung pada perdebatan sengit di sebuah Balai Rakyat yang terkadang atapnya suka bocor kalau lagi hujan. Semacam debat Caleg atau calon Gubernur yang akan maju plkadal gitu deh. Dengan disaksikan banyak ibu rumah tangga, pak RT dan pak RW, bu Lurah, pedagang es keliling, pedagang somay, dan masih banyak lagi yang lain, mereka saling mempertahankan argumentasinya masing-masing.
Keduanya saling berdebat mengenai keunggulan (program) masing-masing. Berikut percakapan yang saya kutip dari Tempat Kejadian Perkara (TKP)
Tempe : saya itu lebih hebat dari kamu dasar kamseupay…saya punya protein tinggi dan zat besi yang banyak…
Tahu : cuma itu ??? cih…banyak makanan lain juga punya itu…coba saya, saya punya kemampuan ngurangin kolestrol buat orang-orang yang kelebihan berat badan…biar gak cepet mati
Tempe : preeeet…saya juga punya kemampuan mencegah kanker, bisa juga tuh buat orang biar gak cepet mati…
Tahu : loh…yang kemarin mati gara-gara lo sapa ya ???
Tempe : yang mana ??? jangan ngada-ada lo… lo sendiri juga punya racun formalin kan lo ???
*Logat metropolisnya dah pada mulai keluar… mungkin biar dikira lebih gaul dan lebih modern.
Tahu : eits….sorry gw tuh udah standar internasional, di seluruh Asia udah pernah makan gw…sedangkan lo apa ??? bongkrek !!!
Tempe : cih….bokis lo….sok banget…sok gaya lo….makan tuh gaya !!!
Tempe dan Tahu : bla bla bla bla bla……….bla bla bla…bla…bla bla….(selama hampir 2 jam lebih)
Tiba-tiba…
Di tengah perdebatan yang sangat sengit dan kadang diselingi teriakan dukungan massa…
Ada sebuah mobil mewah berwarna hitam mulus mengkilat… elegan lagi…bikin banyak orang ngiler n klepek-klepek.
Kemudian pintu mobilnya kebuka….ayo tebak siapa yang dateng ???
Jreng jreng……. eng ing eng…
Keluarlah si Orang Kaya Baru bernama Hamburger dan anaknya si Kebab dan Fried Chicken beserta peliharaanya bernama Hotdog
Dengan entengnya dia lemparin duit kertas lima puluh ribuan ke orang-orang…
Udah kayak ada acara hajatan aja, tiba-tiba Balai Rakyat jadi penuh sesak dengan orang-orang yang saling berebut ngambilin duit…
Kedatangan para Mega Star itu, langsung membuat Tempe dan Tahu terdiam… seketika itu, Kebab langsung merebut microphone dari tangan si Tempe…ia kemudian menyerahkannya ke Bapaknya si Hamburger… lalu ia berkata….
“tak ada gunanya lo pada berdebat gak jelas kayak gitu, mau kayak gimana juga lo gak bakal bisa saingin keluarga gw… lo liat kenyataannya dong…..”
Sapa yang punya stand makanan terkeren dan termodern ???? kita…
Sapa yang paling dibanggakan anak-anak kecil kalo masalah makanan ???? kita…
Sapa yang paling banyak dijual di Mall-Mall besar di kota ???? kita…
Sapa yang paling bergengsi dan ekslusif ???? kita…
Sapa yang bikin orang-orang ngantri kalo lagi lebaran dan makan siang ???? kita…
Kita walaupun gak punya banyak manfaat dan malah bikin orang cepet sakit, kolestrol naik, sakit kanker, kegemukan,dan bikin kantong bolong…. tapi kita masih diidolakan semua orang… bahkan dari berbagai lapis masyarakat…. gak ada orang yang ngeluh kalo harus makan kita setiap hari….
Gak kayak kalian… paling kalo orang disuruh makan Tempe dan Tahu 3 hari aja udah pada ngeluh kan…???
Hahahaha….kalian kalah saing bro….”
Tempe dan Tahu : (hanya terdiam… entah karena menyadari kenyataan yang ada, atau karena sdh capek dan kehabisan kata-kata karena perdebatan tadi)…