Kamis, 30 Mei 2013

In Memoriam



Saya adalah salah satu dari kelompok orang-orang yang beruntung (atau mungkin justru tidak beruntung, tergantung persepsi) yang menjadi saksi hidup sejarah perkembangan teknologi. Teknologi yang belakangan ini bergerak terlalu cepat. Saya masih sempat punya TV hitam putih, sekarang sudah tidak ada. TV pun semakin tipis saja ukurannya, bahkan sudah banyak yang di-bundling jadi satu dengan handphone. TV makin tipis, orang-orangnya justru makin gendut. TV layarnya makin datar, perut orang-orang makin buncit.

Saya masih sempat mendengarkan musik lewat tape recorder. Teknologi ini cukup lama bertahan, dari kecil sampai saya kuliah dan lulus di tahun 90an. Iya, saya memang angkatan jadul. Teknologi makin cepat. Sejak ditemukan compact disk (CD), audio CD tidak lama bertahan, musik sudah berubah menjadi format digital MP3. Kaset, hampir tidak pernah saya lihat lagi di toko-toko musik, jarang sekali, terutama di kota-kota besar.

Saya masih sempat menyelesaikan penulisan skripsi atau tugas-tugas lain di kampus dengan menggunakan mesin tik, sekarang semua sudah dikerjakan pakai komputer. Membuat salinan tinggal copy file atau print beberapa kali. Dulu masih pakai pita/kertas karbon, mungkin sebagian orang jaman sekarang malah nggak pernah lihat seperti apa pita karbon. Saya berada di era pergantian tersebut, dan makin kini sepertinya pergerakannya semakin cepat. Semua berjalan makin cepat, orang  dulu sehari nggak baca koran, biasa-biasa saja. Orang sekarang, jangankan sehari nggak baca berita, satu jam nggak update twitter atau status fb rasanya nggak eksis. Apa saja diupdate ke social media, sedang baca, sedang buang air, sedang berantem, sedang galau, sedang ngupil, “too much information, Dude!”

Jadi ingat kasus carut-marut pelaksanaan UN belakangan ini. Zaman saya pun ada ujian semacam ini, skalanya nasional juga, mungkin parameter pengukurannya berbeda. Dulu namanya adalah EBTANAS, soalnya pun dibuat oleh pemerintah dan didistribusikan oleh pemerintah. Distribusinya (seingat saya) tidak pernah telat. Sekarang informasi begitu cepat, sesuatu yang terjadi satu jam bahkan satu menit yang lalu, bisa kita lihat perkembangannya di TV atau di social media. Jadi kasus soal UN yang telat, bisa langsung  kita tahu perkembangannya. Seandainya dulu EBTANAS soalnya telat, lalu saya pulang ke rumah, ditanya Ibu,
“Bagaimana tadi EBTANAS?”
“Nggak jadi, Bu. Naskah Soalnya nggak ada.”
Pasti Ibu saya marah besar. Dikiranya saya berbohong atau mungkin dikira sudah tidak waras.

Ada seorang teman saya gara-gara hobynya yang sering main musik secara ngacau sambil ngocol justru jadi mendapatkan kesempatan cukup sering masuk TV belakangan ini. Tapi itu pun tidak membuat teman saya menjadi sangat terkenal. Wajar sih, itu karena stasiun TV makin banyak, belum lagi TV berbayar, jadi pilihan hiburan makin banyak. Kata teman saya, walau sering masuk TV, masih saja banyak orang yang tidak mengenalnya. Masih sering didatangi orang dengan kamera, dikira mau diajak foto bareng, eh gak taunya malah bilang, “Mas, bisa tolong fotoin saya dengan teman saya?” Wkkkk...

Dulu stasiun TV hanya ada satu, TVRI. Orang dari Sabang sampai Merauke, desa maupun kota, nonton acara yang sama. Kalau acaranya pas ‘Dari Desa ke Desa’ tentang budi daya palawija misalnya, apapun profesi kita, pelajar, mahasiswa, petani, akuntan, tentara, ya kita harus tonton acara yang sama. Kalau nggak mau nonton, ya tidur. Kalau belum ngantuk ya, nasib.

Sebaliknya, dulu ada acara belajar bahasa Inggris. Gurunya Anton Hilman. Saya dan teman-teman di sekolah sampai berpikir, ini Pak Anton Hilman adalah orang paling pintar bahasa Inggris di Indonesia. Anton Hilman saat itu mengajar bahasa Inggris di TV, dan dia jelas jauh lebih terkenal dari teman saya yang katanya sering masuk TV tadi. Saat Anton Hilman mengajar bahasa Inggris di TV, giliran petani di desa yang harus ikut lihat acara yang sama. Bisa dibayangkan ada pak tani yang baru pulang dari sawah, dia nonton TV dan pas acaranya adalah pelajaran bahasa Inggris Anton Hilman. Dia akan bingung dan bertanya pada istrinya.
“Acara, opo iki, Bune?”
Istrinya akan mejawab, “halah, I don’t know babar blas, Bapakeee…”

Sekarang banyak artis yang masuk politik, dulu tidak terlalu banyak. Kata artis pun sudah mengalami peyorasi, penyempitan makna ke arah yang lebih buruk. Artis kan mengandung kata ‘art’ di dalamnya. Artinya mereka harusnya dikenal karena menghasilkan karya seni. Banyak ‘artis’ sekarang yang sekadar terkenal, tapi kita tidak tahu karyanya. Kita bingung kenapa dia bisa sebegitu terkenalnya dan disebut ‘artis’ padahal setiap nongol di infotainment hanya mamerin tas Hermes atau menjelaskan kasus kawin siri. Ngapain ‘artis-artis’ itu mau masuk dunia politik?

Orang sekarang kalau ada masalah selalu pemerintah yang disalahkan. Macet, pemerintah yang salah, gubernur yang salah. Zaman saya dulu, mana berani kami salahkan pemerintah. Jakarta saat itu pun sudah macet, tapi semacet-macetnya Jakarta yang disalahkan ‘si Komo’, bukan pemerintah. 

Awal 90an sudah ada TV swasta, tapi pemerintah saat itu mewajibkan TV-TV swasta me-relay siaran-siaran tertentu di TV mereka. Salah satunya acara ‘Liputan Khusus’. Kalau presiden sedang melakukan kunjungan penting ke suatu daerah, semua TV harus me-relay acara tersebut. Seolah-olah pemerintah saat itu takut kalah terkenal dengan Anton Hilman.

Masa lalu mungkin enak untuk dikenang, tapi sepertinya tidak perlu dialami lagi.

Selasa, 14 Mei 2013

Atheis


Seorang atheis mati. Tuhan memberikannya kesempatan untuk hidup kembali, itu karena semasa hidupnya – walau dia seorang atheis – dia banyak melakukan kebaikan pada sesama.
“Kamu Kuhidupkan kembali,” kata Tuhan padanya.
“Baiklah, terimakasih,” jawabnya dingin.
Dia pun kembali ke dunia dan hidup normal, tetap menjadi orang baik dan selalu baik kepada sesama, tapi juga tetap menjadi atheis. Sampai pada waktunya dia kembali dipanggil Yang kuasa.
“Kamu sudah aku beri kesempatan hidup kembali, tapi kamu tetap tidak percaya padaKu?” Tuhan nampak kesal padanya.
“Aku ini atheis, aku hanya percaya pada apa yang aku lihat dan aku rasa. Apa jaminannya bahwa pertemuan sebelumnya bukan halusinasiku saja?” Si atheis menantang Tuhan.
Tuhan memotong tangan kiri si atheis dan menghidupkannya kembali. Jadilah dia hidup dengan sebelah tangan saja, kini dia punya bukti bahwa pertemuan ghaib yang dilaluinya itu bukan halusinasi. Dia menjalani hidupnya dengan sebelah tangannya dan tetap melakukan kebaikan. Tapi dia tetap memilih untuk menjadi seorang atheis, sampai dia kembali mati.
“Hai orang bebal, kenapa kau tidak bertobat!” Kali ini Tuhan benar-benar kesal.
Si Atheis hanya terdiam.
“Hmmm…” Tuhan bergumam.
Si Atheis tetap terdiam.
“Hmmm…” Tuhan sekali lagi hanya bergumam.
Hening beberapa saat.
“Jadi apa agamamu?” tanya Tuhan.
“Cinta,” katanya pendek.
Tuhan terdiam.

Senin, 13 Mei 2013

Pendidikan Siput



Pendidikan erat kaitannya dengan ujian, dan konon hidup ini adalah ujian. Hanya saja peserta ujian – setidaknya seperti saya – lebih sering tidak mau lulus cepat-cepat.
Pendidikan sekarang dirasa mahal. Contoh dekat rumah saya ada TK yang kalau saya hitung-hitung satu semester itu biayanya mencapat sekitar Rp 20 juta. Busyet!!! TK macam apa itu.. apa yang dipelajari? Uang kuliah saya dulu – kuliah bukan TK ya – hanya tak lebih dari Rp 100 ribu saja satu semester, sampai saya lulus, uang 20 juta pasti masih sisa. #meskipun sekali lagi, saya tetap tak begitu suka lulus cepat-cepat.
Anak-anak sekarang belajar yg susah-susah dulu tapi yang dasar dilupakan. Ibarat rumah, atapnya dibangun dulu, pondasi belum jadi. Rumah apa itu? Rumah siput. Belajar bahasa asing, Inggris, Mandarin, Jepang, Perancis.. padahal cebok belum bisa. Minta tolong dicebokin apa pakai bahasa Inggris? “Mama… help me.. wipe my ass, please...”
Apakah sekolah untuk kebutuhan anak? Kebanyakan saat ini sih sekolah itu untuk prestise orang tua. Para orang tua ini menjadi minder ketika anaknya tdk ikut les “ini-itu” seperti teman-temannya, sementara si anak sendiri justru enjoy-enjoy aja.. les segala tetek bengek alat musik, les melukis, menari, matematika, bahasa inggris, kumon, kupreet.. halah…
Yang terjadi selanjutnya kemampuan itu untuk ditunjuk-tunjukkan ke teman-teman orang tuanya. “Ayoo.. Adi, tunjukin Tante Ani kamu bisa bahasa Inggris… ” Lalu Adi bilang, “Fuck you!!” Dan Tante Ani dengan polos bangga memujinya, “Anak pintar, bisa bahasa Inggris.”
Saya bukan bilang bhs Inggris itu nggak penting, tapi apa gak bisa nanti, kalau sudah agak besar. Mungkin terdengar menyesatkan, tapi  prinsip saya “apa yang bisa dikerjakan nanti, buat apa dikerjain sekarang.” Tundalah pekerjaan yang masih bisa ditunda, enjoy your life. Kalau nggak bisa ditunda ya kerjakan, saya setuju. Malah ada pekerjaan yang sebaiknya ditunda dulu, contohnya nikah. Tundalah pernikahan, kalo emang belum ada calonnya. #dasar jomblo gak laku.
Ada beberapa anggapan yg kurang tepat tapi sok bijak berbalut religious dalam hal pendidikan karakter anak. Misalnya, ada pendapat bahwa nggak baik ngomongin orang yg sudah meninggal. Kalau begitu kita nggak bisa dong ngomongin sejarah. Karena pelaku sejarah sudah pada meninggal. Soekarno, Suharto, Gajah Mada, Hayam Wuruk, Ken Arok semua sudah meninggal. Ketika guru di sekolah bertanya, “Coba Adi jelaskan tentang Gajah Mada?” Adi semestinya bisa menjawab, “Ahhh Ibu, jangan bicarain orang yg sudah meninggal dong, Bu.. nggak baik.”
Pendidikan yg terbaik salah satunya adalah di Finlandia. Dan di sana nggak ada PR. Di kita jangankan PR, anak-anak malah masih ikut les macam-macam. Tapi apakah kita lebih maju dari Finlandia yg jadi salah satu leader di Industri telekomunikasi, di balapan mobil F1? Pembalap F1 yg jadi juara banyak dari Finland, misalnya saja : Mika Hakinen, Kimmi Raykonen. Karena mungkin mereka nyetirnya fokus nggak sambil mikirin PR. Kalau kita dulu juga pernah ikutan A1 tapi sering gagal finish, nabrak tembok. Mungkin dia nabrak karena nggak konsen, pusing mikirin PR. Putus asa jadi pembalap dan akhirnya lbh memilih masuk partai untuk ikut-ikutan jadi caleg!
Di Finlandia tidak ada orang tua yang basa-basi sama anaknya, “Kamu sudah ngerjain PR?!” karena akan dijawab anaknya seperti ini, “Papa, kita hidup di Finlandia, kita negara maju … walau tanpa PR.”
Sistem pendidikan di Finlandia tidak berubah dalam 40 tahun terakhir. Di kita, setiap ganti menteri, ganti sistem. Kadang-kadang yang mengganti dan diganti pun tidak jelas. Contoh saja, dulu SD kelas 1-6, SMP kelas 1-3, SMA kelas 1-3, sekarang disatukan kelas 1-12, tapi prakteknya tidak berubah, hanya penamaan jenjang saja yang berubah. Apa alasannya karena menteri dulu tidak bisa berhitung sampai 12 lalu menteri yang sekarang bisa berhitung sampai 12? Sungguh mengherankan.. #geleng-geleng.
Saking padatnya jadwal anak-anak, jangan-jangan orang tua mau ketemu anaknya sendiri nanti harus bikin janji. “Bapak mau bicara dengan kamu!” Anaknya lalu bilang, “Sudah buat janji?”
Ssstt.. tapi tolong jangan sampaikan hal ini kepada anggota DPR ya, terutama tentang sistem pendidikan di Finlandia. Bukan karena apa-apa, saya takut anggota DPR justru terilhami, kemudian termotivasi untuk studi banding ke sana. “Boss, sistem pendidikan di Finlandia katanya bagus lho, ayo kita segera rame-rame berangkat….”