Saya adalah salah satu dari kelompok orang-orang yang beruntung (atau
mungkin justru tidak beruntung, tergantung persepsi) yang menjadi saksi hidup
sejarah perkembangan teknologi. Teknologi yang belakangan ini bergerak terlalu
cepat. Saya masih sempat punya TV hitam putih, sekarang sudah tidak ada. TV pun
semakin tipis saja ukurannya, bahkan sudah banyak yang di-bundling jadi
satu dengan handphone. TV makin tipis, orang-orangnya justru makin
gendut. TV layarnya makin datar, perut orang-orang makin buncit.
Saya masih sempat mendengarkan musik lewat tape recorder.
Teknologi ini cukup lama bertahan, dari kecil sampai saya kuliah dan lulus di
tahun 90an. Iya, saya memang angkatan jadul. Teknologi makin cepat. Sejak
ditemukan compact disk (CD), audio CD tidak lama bertahan, musik
sudah berubah menjadi format digital MP3. Kaset, hampir tidak pernah
saya lihat lagi di toko-toko musik, jarang sekali, terutama di kota-kota besar.
Saya masih sempat menyelesaikan penulisan skripsi atau tugas-tugas
lain di kampus dengan menggunakan mesin tik, sekarang semua sudah dikerjakan
pakai komputer. Membuat salinan tinggal copy file atau print beberapa
kali. Dulu masih pakai pita/kertas karbon, mungkin sebagian orang jaman sekarang
malah nggak pernah lihat seperti apa pita karbon. Saya berada di era
pergantian tersebut, dan makin kini sepertinya pergerakannya semakin cepat.
Semua berjalan makin cepat, orang dulu sehari nggak baca koran,
biasa-biasa saja. Orang sekarang, jangankan sehari nggak baca berita, satu jam
nggak update twitter atau status
fb rasanya nggak eksis. Apa saja diupdate ke social media, sedang
baca, sedang buang air, sedang berantem, sedang galau, sedang ngupil, “too
much information, Dude!”
Jadi ingat kasus carut-marut pelaksanaan UN belakangan ini. Zaman
saya pun ada ujian semacam ini, skalanya nasional juga, mungkin parameter pengukurannya
berbeda. Dulu namanya adalah EBTANAS, soalnya pun dibuat oleh pemerintah dan
didistribusikan oleh pemerintah. Distribusinya (seingat saya) tidak pernah
telat. Sekarang informasi begitu cepat, sesuatu yang terjadi satu jam bahkan
satu menit yang lalu, bisa kita lihat perkembangannya di TV atau di social
media. Jadi kasus soal UN yang telat, bisa langsung kita tahu
perkembangannya. Seandainya dulu EBTANAS soalnya telat, lalu saya pulang ke
rumah, ditanya Ibu,
“Bagaimana tadi EBTANAS?”
“Nggak jadi, Bu. Naskah Soalnya nggak ada.”
Pasti Ibu saya marah besar. Dikiranya saya berbohong atau mungkin
dikira sudah tidak waras.
Ada seorang teman saya gara-gara hobynya yang sering main musik secara ngacau sambil ngocol justru jadi mendapatkan
kesempatan cukup sering masuk TV belakangan ini. Tapi itu pun tidak membuat teman
saya menjadi sangat terkenal. Wajar sih, itu karena stasiun TV makin banyak,
belum lagi TV berbayar, jadi pilihan hiburan makin banyak. Kata teman saya, walau
sering masuk TV, masih saja banyak orang yang tidak mengenalnya. Masih sering
didatangi orang dengan kamera, dikira mau diajak foto bareng, eh gak taunya
malah bilang, “Mas, bisa tolong fotoin saya dengan teman saya?” Wkkkk...
Dulu stasiun TV hanya ada satu, TVRI. Orang dari Sabang sampai
Merauke, desa maupun kota, nonton acara yang sama. Kalau acaranya pas ‘Dari
Desa ke Desa’ tentang budi daya palawija misalnya, apapun profesi kita,
pelajar, mahasiswa, petani, akuntan, tentara, ya kita harus tonton acara yang
sama. Kalau nggak mau nonton, ya tidur. Kalau belum ngantuk ya, nasib.
Sebaliknya, dulu ada acara belajar bahasa Inggris. Gurunya Anton
Hilman. Saya dan teman-teman di sekolah sampai berpikir, ini Pak Anton Hilman
adalah orang paling pintar bahasa Inggris di Indonesia. Anton Hilman saat itu
mengajar bahasa Inggris di TV, dan dia jelas jauh lebih terkenal dari teman saya
yang katanya sering masuk TV tadi. Saat Anton Hilman mengajar bahasa Inggris di
TV, giliran petani di desa yang harus ikut lihat acara yang sama. Bisa
dibayangkan ada pak tani yang baru pulang dari sawah, dia nonton TV dan pas
acaranya adalah pelajaran bahasa Inggris Anton Hilman. Dia akan bingung dan
bertanya pada istrinya.
“Acara, opo iki, Bune?”
Istrinya akan mejawab, “halah,
I don’t know babar blas, Bapakeee…”
Sekarang banyak artis yang masuk politik, dulu tidak terlalu
banyak. Kata artis pun sudah mengalami peyorasi, penyempitan makna ke arah yang
lebih buruk. Artis kan mengandung kata ‘art’ di dalamnya. Artinya mereka
harusnya dikenal karena menghasilkan karya seni. Banyak ‘artis’ sekarang yang
sekadar terkenal, tapi kita tidak tahu karyanya. Kita bingung kenapa dia bisa
sebegitu terkenalnya dan disebut ‘artis’ padahal setiap nongol di infotainment
hanya mamerin tas Hermes atau menjelaskan kasus kawin siri. Ngapain ‘artis-artis’
itu mau masuk dunia politik?
Orang sekarang kalau ada masalah selalu pemerintah yang disalahkan.
Macet, pemerintah yang salah, gubernur yang salah. Zaman saya dulu, mana berani
kami salahkan pemerintah. Jakarta saat itu pun sudah macet, tapi semacet-macetnya
Jakarta yang disalahkan ‘si Komo’, bukan pemerintah.
Awal 90an sudah ada TV swasta, tapi pemerintah saat itu mewajibkan
TV-TV swasta me-relay siaran-siaran tertentu di TV mereka. Salah satunya
acara ‘Liputan Khusus’. Kalau presiden sedang melakukan kunjungan penting ke
suatu daerah, semua TV harus me-relay acara tersebut. Seolah-olah
pemerintah saat itu takut kalah terkenal dengan Anton Hilman.
Masa lalu mungkin enak untuk dikenang, tapi sepertinya tidak perlu
dialami lagi.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar