Jumat, 07 Maret 2014

hidup (sederhana) itu rumit



Ide tulisan ini muncul mungkin gara-gara mengamati liputan beberapa media yang sering mengulas tentang the rising star Jokowi dengan segala kesederhanaannya. Bagaimana digambarkan, meski sudah menjabat sebagai gubernur dan namanya sedemikian melambung tak hanya dikenal di pelosok negeri, bahkan hingga sampai ke luar negeri, tapi pak gubernur ini dengan sikap sederhananya merasa tidak pantas menggunakan fasilitas voorijder untuk mendukung tugas kedinasannya. Atau diceritakan juga kebiasaannya yang masih suka makan di warteg, beli baju dan sepatu di pedagang kaki lima, blusukan, dan blablabla... yang lainnya.

Bagi saya ada hal yang unik dan ironis mengenai sisi bersahaja Jokowi yang dikagumi oleh begitu banyak orang itu. Apalagi sebagian dari mereka yang ngomong kagum dengan kesederhanaanya itu sebagian adalah para public figure dan pejabat pemerintah juga. Ternyata, di tengah gempuran materialisme, sebenarnya masih banyak yang mengakui bahwa hidup sederhana itu baik. Di tengah era yang memuja citra diri, banyak yang menyadari bahwa kepolosan alias tampil apa adanya itu bagus. Lha kalau sudah tahu bagus dan baik, kenapa tidak menerapkan?

Saya bukannya hendak menghakimi bahwa mereka yang ngomong-ngomong kagum itu tidak sederhana dan tidak tampil apa adanya. Bukan itu intinya, karena ada pula sih sebagian dari mereka yang notabene adalah juga pejabat menganggap hal itu hanyalah sebagai pencitraan, aksi di depan kamera, dan sebagainya. Biarlah, itu bukan urusan saya (walau kadang eh sering ding, mulut gatel untuk komentar, hehe). Tetapi saya jadi merenung saja.

Hidup sederhana itu sebenarnya mudah lho, seperti halnya tampil apa adanya, polos, semudah kita bikin mie instant. Lha, hidup sederhana kan gak mahal dan gak butuh duit. Siapa saja bisa menerapkan. Gak butuh alphard atau humvee, gak butuh rumah mewah, gak butuh gadget-gagdet mahal yang ternyata cuma untuk fesbukan, gak butuh birkin bag atau tote bag dari kulit anak sapi seharga belasan juta, gak butuh sehelai gaun bermerk dari butik di Paris, dll. Hidup sederhana itu butuh apa ya selain tidak butuh duit…?

Tampil apa adanya, polos, gak jaim, juga gampang (mestinya). Gak perlu nyewa rental mobil kalau mampunya cuma naik angkot atau bis kota, gak perlu potong ke hair dresser sampai keluar duit ratusan ribu untuk benerin poni, gak perlu memaksakan diri untuk mengiyakan ajakan gaul ke kafe mahal padahal lagi bokek, gak perlu ngutang sana-sini untuk tampil wah, gak perlu menyiksa diri dengan operasi plastik, dll. Tampil apa adanya tanpa jaim itu (mestinya) tanpa beban. Minimal beban hutang.

Tapi entah kenapa, kok di jaman sekarang ini pelaksanaan dua hal tersebut menjadi hal langka. Memang sih, batas antara butuh dan keinginan itu tipis, tapi juga bisa jelas. Tergantung kita sendiri. Jika dengan berbagai gadget bisa melancarkan tuntutan pekerjaan, ya monggo lah. Tapi membekali anak SD dengan i-phone 5S, hmmm…

Jadi teringat ketika beberapa hari yang lalu saya melakukan tindakan yang begitu memalukan dan tidak beradab, ngegosip dengan beberapa kawan lama. Waktu itu kami nggosipin kelakuan teman -sebut saja X- yang hobi pasang status fesbuk, yang berbau materi. Dari rencana untuk beli rumah di lingkungan elit, beli mobil baru sementara dua yang lama katanya gimana gitu, liburan ke Singapore dan Thailand, etc. Saya sebagai teman, ya ada rasa iri juga sih. Apalagi di masyarakat kita, sukses itu masih dinilai dengan berapa banyak benda/materi yang kita konsumsi/beli. Jadi merasa belum sukses, gitu.

Tapi, salah seorang teman kami, ketemu dengan mom si X. Ibu si X ini, ndilalah kok malah curhat sama teman kami, mengenai masalah anaknya. Katanya, semua yang pernah dia tulis di status fesbuk-nya tersebut bohong. Ternyata X masih menanggung cicilan kredit dan lain-lain. Dengan kata lain, si X ini punya gaya hidup besar pasak daripada tiang.

Pertanyaannya adalah, mengapa dia sampai begitu? Apa yang hendak ia sampaikan?

Errrrr…entah, saya juga ndak bisa jawab. Belum nanya ke orangnya juga.

Apakah dengan menampilkan citra (seolah) sukses, ia akan bahagia? Yang sukses pun, dengan menghambur-hamburkan uangnya, apakah merasa bahagia? Katanya, kalau sudah bekerja keras, tak ada salahnya memanjakan diri. Nah, when enough is enough? Katanya juga, money cant buy happiness. Lalu kenapa masih boanyak yang belanja-belanji jika sedang stress, sedih, frustasi, etc (seperti mencari keseimbangan alias feeling much better). Padahal katanya, kebahagiaan itu tanpa syarat. I’m happy unconditionally. Tapi untuk membuat merasa hepi, ternyata masih butuh baju baru, gadget baru, mobil baru, dll.

Hmmm…kadang saya juga seperti itu sih. Tapi sebisa mungkin menyadari secepat saya bisa (menyetop belanja karena dorongan impulsive).

Kembali ke masalah kesederhanaan tadi, mengapa hal yang demikian sederhana menjadi begitu rumit ketika menerapkan ke diri sendiri? Ada perasaan malu ketika tampil membandingkan diri dengan orang lain yang lebih kinclong, bling-bling dan gemerlap. Merasa katrok dan ketinggalan jika sekomunitas memakai barang yang lagi happening, sementara kitanya tidak. Merasa gak nyambung?

Padahal, memang kenapa kalau katrok alias ndeso? Memang kenapa kalau emang gak mampu? Tidak diterima dalam kelompok tersebut?

Ternyata masalah hidup sederhana dan apa adanya ini tidak sesederhana yang saya perkirakan semula.

Minggu, 02 Maret 2014

Ah, biasa...

Sembari mengerjakan tugas di malam hari, iseng-iseng secara random saya membuka folder yang menyimpan beberapa film lama yang masih terasa sayang jika harus dibuang.  Tak sengaja cursor terhenti di sebuah judul film, Platoon.. yang terus kudouble-click. Aku terpaku di satu adegan, dimana Tom Berenger sedang menginterogasi penduduk desa dan mencari Vietcong. Singkat cerita, Berenger menembak mati salah satu penduduk desa, membuat shock tidak saja penduduk desa tapi juga prajuritnya. Berenger hendak membunuhi seluruh penduduk desa ketika Willem Dafoe menghentikan aksinya. Adegan tersebut diakhiri dengan pembakaran desa, penduduk mengungsi, beberapa oknum tentara memperkosa perempuan-perempuan, dan Charlie Sheen yang berupaya menghentikan perkosaan tersebut. Rekannya bertanya, untuk apa dia harus berhenti memperkosanya (perempuan tersebut), toh sudah tak berguna. Sheen menjawab, ” Karena dia manusia !!! You’re fu****g animal !!! “

** dan soundtracknya !! Oh, God, i just love it!! Soundtrack Platoon dapat dipastikan akan abadi dan evergreen, seperti soundtrack Superman dan Star Wars.

Adegan tersebut membuatku merenung. Pada film tersebut, diilustrasikan sebuah pasukan yang terbelah menjadi dua kubu, the good soldier and the bad soldier.

The bad one, menjadi kubu yang ‘jahat’ karena melihat apa yang dilakukannya (membunuh, memperkosa) adalah biasa. Toh, korbannya adalah pihak musuh. Kuncinya adalah b i a s a, karena orang lain juga melakukannya. Memperkosa musuh itu tidak apa-apa, toh pimpinan melakukannya, orang lain juga, dia kan musuh, ini perang bro, dan lain sebagainya (pembenaran). Sementara, the good one, masih bertahan dengan prinsip atau idealismenya.

Memang, dalam Platoon, adalah situasi ekstrim, situasi perang. Tetapi jangan sangka hal tersebut tidak terjadi di kehidupan sehari-hari.

Suatu waktu, sempat berbincang dengan beberapa teman dan berdiskusi sok serius. Kami ‘mendiskusikan’ teman kami yang telah mendirikan sebuah biro pelayanan periklanan, atau bahasa kerennya advertising dan berhasil mendapatkan proyek assesment untuk instansi tertentu. Menjadi sebuah diskusi yang mengasyikkan ketika mengetahui salah seorang teman ‘protes’ sewaktu mengetahui proses pendapatan tender tersebut. Katakanlah teman kami berhasil mendapatkan proyek 70 juta dengan instansi tersebut (di atas kertas), tapi yang sebenarnya didapatkan sebesar 60 juta dan 10 juta diperuntukkan bagi kepala bagian sarpras institusi tersebut.

Nah, teman saya ini protes dan menurutnya itu adalah korupsi.

Lain lagi dengan pendapat teman saya yang bekerja di pemerintahan daerah. Ia mengatakan hal tersebut adalah biasa. Teman saya yang lain mengamini, dan katanya, hal tersebut tergantung dari cara pandang kita. Kalau kita melihat 10 juta tersebut sebagai tanda terimakasih, karena telah dipermudah dan dibantu, maka itu bukan lagi korupsi.

Bajiruuut... tanda terima kasih 10 juta...

Kebetulan, saya jadi teringat satu cerita yang masih teman kami juga dulu ketika masih kuliah, mendapatkan proyek yang nilainya cukup fantastis bagi mahasiswa kere seperti kami. Proyek tersebut sebenarnya adalah proyek dosen dengan institusi tertentu. Dari sekian juta yang diberikan kepada teman saya, ternyata masih ada sisa sekian juta yang lantas dikembalikan (dengan polosnya) kepada sang dosen. Eh, dosen tersebut malah marah-marah. Oleh teman saya yang lain, yang sudah biasa “bekerja sama” dengan beberapa dosen justru ditertawakan, “Bukan begitu caranya, friend. “

Dan benar saja, di proyek berikutnya, dana yang mengalir agak berkurang dibanding proyek sebelumnya.

Hal tersebut mungkin memang sudah jamak di lingkungan pemerintahan. Istilahnya adalah bagi-bagi bledug (debu) alias sisa anggaran, karena jika sisa anggaran tersebut dikembalikan, maka kucuran dana untuk anggaran berikutnya akan dikurangi. Walau waktu itu teman kami disoraki ‘whuuu’ dan diledek macam-macam, tapi yang bersangkutan tidak bisa berbuat apa-apa. Alasannya, hal tersebut sudah jamak dilakukan.

Dari kisah di atas, saya jadi merenung lagi. Ketika ketidakpantasan dipandang sebagai suatu yang lumrah, biasa, umum dilakukan, maka norma pun berubah. Ini jelas sangat tidak pas dengan definisi kata abnormal dalam sebuah buku psikologi yang berjudul “Psikologi Abnormal” yang pernah saya baca beberapa tahun lalu. Ternyata, ketika definisinya adalah sesuatu yang tidak wajar, tidak umum, dan tidak biasa, maka ketika menjadi umum dan biasa, abnormal pun menjadi wajar.

Pertanyaannya, adakah manusia-manusia yang berani menentang arus ??? anti kemapanan ??? individu di luar sistem ??? mendobrak apa yang dianggap masyarakat biasa, toh semua orang melakukannya ???