Ide tulisan ini muncul mungkin gara-gara
mengamati liputan beberapa media yang sering mengulas tentang the rising star Jokowi dengan segala
kesederhanaannya. Bagaimana digambarkan, meski sudah menjabat sebagai gubernur
dan namanya sedemikian melambung tak hanya dikenal di pelosok negeri, bahkan
hingga sampai ke luar negeri, tapi pak gubernur ini dengan sikap sederhananya merasa
tidak pantas menggunakan fasilitas voorijder
untuk mendukung tugas kedinasannya. Atau diceritakan juga kebiasaannya yang
masih suka makan di warteg, beli baju dan sepatu di pedagang kaki lima, blusukan, dan blablabla... yang lainnya.
Bagi saya ada hal yang unik dan ironis mengenai
sisi bersahaja Jokowi yang dikagumi oleh begitu banyak orang itu. Apalagi sebagian
dari mereka yang ngomong kagum dengan kesederhanaanya itu sebagian adalah para public figure dan pejabat pemerintah
juga. Ternyata, di tengah gempuran materialisme, sebenarnya masih banyak yang
mengakui bahwa hidup sederhana itu baik. Di tengah era yang memuja citra diri,
banyak yang menyadari bahwa kepolosan alias tampil apa adanya itu bagus. Lha
kalau sudah tahu bagus dan baik, kenapa tidak menerapkan?
Saya bukannya hendak menghakimi bahwa mereka yang
ngomong-ngomong kagum itu tidak sederhana dan tidak tampil apa adanya. Bukan
itu intinya, karena ada pula sih sebagian dari mereka yang notabene adalah juga
pejabat menganggap hal itu hanyalah sebagai pencitraan, aksi di depan kamera,
dan sebagainya. Biarlah, itu bukan urusan saya (walau kadang eh sering ding,
mulut gatel untuk komentar, hehe). Tetapi saya jadi merenung saja.
Hidup sederhana itu sebenarnya mudah lho, seperti
halnya tampil apa adanya, polos, semudah kita bikin mie instant. Lha, hidup
sederhana kan gak mahal dan gak butuh duit. Siapa saja bisa menerapkan. Gak
butuh alphard atau humvee, gak butuh
rumah mewah, gak butuh gadget-gagdet mahal yang ternyata cuma untuk fesbukan,
gak butuh birkin bag atau tote bag dari kulit anak sapi seharga
belasan juta, gak butuh sehelai gaun bermerk dari butik di Paris, dll. Hidup
sederhana itu butuh apa ya selain tidak butuh duit…?
Tampil apa adanya, polos, gak jaim, juga gampang
(mestinya). Gak perlu nyewa rental mobil kalau mampunya cuma naik angkot atau
bis kota, gak perlu potong ke hair
dresser sampai keluar duit ratusan ribu untuk benerin poni, gak perlu memaksakan
diri untuk mengiyakan ajakan gaul ke kafe mahal padahal lagi bokek, gak perlu
ngutang sana-sini untuk tampil wah, gak perlu menyiksa diri dengan operasi
plastik, dll. Tampil apa adanya tanpa jaim itu (mestinya) tanpa beban. Minimal
beban hutang.
Tapi entah kenapa, kok di jaman sekarang ini
pelaksanaan dua hal tersebut menjadi hal langka. Memang sih, batas antara butuh
dan keinginan itu tipis, tapi juga bisa jelas. Tergantung kita sendiri. Jika
dengan berbagai gadget bisa melancarkan tuntutan pekerjaan, ya monggo lah. Tapi
membekali anak SD dengan i-phone 5S, hmmm…
Jadi teringat ketika beberapa hari yang lalu saya
melakukan tindakan yang begitu memalukan dan tidak beradab, ngegosip dengan beberapa
kawan lama. Waktu itu kami nggosipin kelakuan teman -sebut saja X- yang hobi
pasang status fesbuk, yang berbau materi. Dari rencana untuk beli rumah di
lingkungan elit, beli mobil baru sementara dua yang lama katanya gimana gitu,
liburan ke Singapore dan Thailand, etc. Saya sebagai teman, ya ada rasa iri
juga sih. Apalagi di masyarakat kita, sukses itu masih dinilai dengan berapa
banyak benda/materi yang kita konsumsi/beli. Jadi merasa belum sukses, gitu.
Tapi, salah seorang teman kami, ketemu dengan mom si X. Ibu si X ini, ndilalah kok
malah curhat sama teman kami, mengenai masalah anaknya. Katanya, semua yang
pernah dia tulis di status fesbuk-nya tersebut bohong. Ternyata X masih
menanggung cicilan kredit dan lain-lain. Dengan kata lain, si X ini punya gaya
hidup besar pasak daripada tiang.
Pertanyaannya adalah, mengapa dia sampai begitu?
Apa yang hendak ia sampaikan?
Errrrr…entah, saya juga ndak bisa jawab. Belum
nanya ke orangnya juga.
Apakah dengan menampilkan citra (seolah) sukses,
ia akan bahagia? Yang sukses pun, dengan menghambur-hamburkan uangnya, apakah
merasa bahagia? Katanya, kalau sudah bekerja keras, tak ada salahnya memanjakan
diri. Nah, when enough is enough?
Katanya juga, money cant buy happiness.
Lalu kenapa masih boanyak yang belanja-belanji jika sedang stress, sedih,
frustasi, etc (seperti mencari keseimbangan alias feeling much better). Padahal katanya, kebahagiaan itu tanpa
syarat. I’m happy unconditionally.
Tapi untuk membuat merasa hepi, ternyata masih butuh baju baru, gadget baru, mobil
baru, dll.
Hmmm…kadang saya juga seperti itu sih. Tapi
sebisa mungkin menyadari secepat saya bisa (menyetop belanja karena dorongan
impulsive).
Kembali ke masalah kesederhanaan tadi, mengapa
hal yang demikian sederhana menjadi begitu rumit ketika menerapkan ke diri
sendiri? Ada perasaan malu ketika tampil membandingkan diri dengan orang lain
yang lebih kinclong, bling-bling dan gemerlap. Merasa katrok dan ketinggalan
jika sekomunitas memakai barang yang lagi happening,
sementara kitanya tidak. Merasa gak nyambung?
Padahal, memang kenapa kalau katrok alias ndeso?
Memang kenapa kalau emang gak mampu? Tidak diterima dalam kelompok tersebut?
Ternyata masalah hidup sederhana dan apa adanya
ini tidak sesederhana yang saya perkirakan semula.