Kamis, 20 Desember 2012

Ibu...



Ibu,
ingin kusajakkan senyummu,
seraya kupilih dan kupilah ribuan kata,
tetapi tak jua bisa kurangkai kalimat,
yang paling senonoh untukmu.
Biarlah puisi untukmu tetap kupingit di hati,
jika berkenan,
baca saja rangkaian kata pada raut wajahku,
karena aku tak pernah memakai cadar dihadapanmu,
tangisku adalah tangisku dan tawaku adalah tawaku.
Aku mengenal kasihmu dengan sendiriku,
tanpa ada yang mengajari,
tanpa pula referensi,
dan karenamu juga aku bisa mengenal rindu,
yang kuyakini hingga riwayatku ditelan bumi.
Ibu,
aku tahu kita mencintai kesahajaan,
kita membenci kemunafikan,
maka untuk apa kututup rapat aurat tabiatku,
jika hanya untuk menyenangkanmu.


Selamat Hari Ibu...

Senin, 17 Desember 2012

Aku Cinta Ayah



Seorang ayah tiba di rumahnya pada pukul 10 malam. Tidak seperti biasanya, putranya yang masih kelas 2 SD menunggunya di depan pintu. Sepertinya ia sudah menunggu lama.
“Kok belum tidur?” sapa sang ayah pada anaknya. Biasanya si anak sudah lelap ketika ia pulang kerja, dan baru bangun ketika ia akan bersiap berangkat kerja di pagi hari.
“Abe nunggu ayah pulang, karena Abe mau Tanya, "Emang berapa sih gajinya ayah?”
“Lho, kok tumben nanya gaji ayah? mau minta uang lagi ya?”
“Ah, nggak ... Abe pengen tahu aja…”
“Oke, Abe boleh hitung sendiri. Setiap hari ayah bekerja sekitar 10 jam dan dibayar Rp.100.000 setiap bulan rata-rata dihitung 25 hari kerja. Jadi gaji ayah satu bulan berapa, hayo?!”
Si anak berlari mengambil kertas dari meja belajar sementara ayahnya melepas sepatu dan mengambil minuman. Ketika ayahnya ke kamar untuk berganti pakaian, sang anak mengikutinya.
“Hmm.... kalau satu hari ayah dibayar Rp 400.000 utuk 10 jam, berarti satu jam ayah digaji Rp 10.000 dong!”
“Kamu pinter, sekarang tidur ya... sudah malam!” tapi sang anak tak beranjak.
“Ayah, Abe boleh pinjam uang 5.000 Rupiah nggak?”
“Sudah malam, buat apa minta uang malam-malam begini. Sudah, besok pagi saja. Sekarang Abe tidur ya…”
“Tapi…” yah…”
“Sudah, sekarang tidur…!!!” suara sang ayah mulai meninggi.
Anak kecil itu berbalik menuju kamarnya. Sang ayah tampak menyesali ucapannya. Tak lama kemudian ia menghampiri anaknya di kamar. Anak itu sedang-terisak-isak sambil memegang uang Rp 5.000.
Sambil mengelus kepala sang anak, ayahnya berkata ”Maafkan ayah ya... kenapa Abe minta uang malam-malam begini... besok kan masih bisa. Jangankan 5.000, lebih dari itu juga boleh….”
“Ayah, Abe nggak mau minta uang. Abe hanya ingin pinjam sebentar… nanti Abe kembalikan kalau sudah menabung lagi dari uang jajanku.”
“Iya... iya... tapi buat apa??” Tanya sang ayah.
“Aku menunggu ayah dari jam 7 tadi. Abe mau ajak ayah main ular tangga. Tiga puluh menit saja. Ibu sering bilang, kalau waktu ayah itu sangat berharga. Jadi Abe mau beli waktu ayah. Abe buka tabungan Abe, tapi cuma ada Rp 5.000… tadi ayah bilang, untuk satu jam ayah dibayar Rp 10.000 jadi kalau butuh satu jam waktu ayah Abe harus punya uang Rp 10.000 karena uang tabunganku tidak cukup, Abe mau pinjam Rp 5.000 dari ayah…”
Sang ayah cuma terdiam. ia kehilangan kata-kata.ia pun memeluk erat anak kesayangannya itu dengan berlinang air mata jatuh dari sudut matanya...
Untuk orang tua yang penuh dengan luapan kasih sayang...
Jika kita tak pandai mengatur waktu dengan baik, maka bisa jadi banyak yang akan menjadi korban... entah itu diri kita sendiri, keluarga, pekerjaan, pendidikan dan bahkan masa depan buah hati kita... "
Salam…