Setiap pagi, saya kerap memaksa
benak dan hati ini untuk percaya bahwa ada sekumpulan benih kesederhanaan yang
ditabur dari sebuah tempat, entah darimana. Lalu, setelah matahari merah itu
meninggi, saya takut untuk percaya bila itu benar. Karena bilamana siang
datang, kesulitan selalu muncul. Jika siang melenggang, manusia berubah menjadi
buas disini.
Serupa, seperti ribuan manusia di
kota ini, saya
adalah juga seorang pekerja - menulis ataupun menggambar tidaklah cukup untuk
perut saya. Rutin dan ritual. Membuat kedua sisi otak saya berfungsi optimal.
Rutinitas pekerjaan melahirkan kesadaran atas kesia-siaan. Atas kesia-siaan
itu, ritualitas menulis dan mencoret-coret gambar memberikan penghiburan.
Di kota ini, saya harus setabah kecoa. Karena
seharga itulah saya dinilai. Suara, langkah kaki, gerakan kepala, ayunan
tangan, bahkan senyuman saya, seluruhnya adalah seharga seekor kecoa bagi
atasan saya. Atasan saya bagi atasannya pula. Dan muncullah hirarki itu. Hirarki
kecoa. Kecoa buas. Kecoa lembek. Kecoa cepat. Kecoa lamban. Ah, rahasia kecoa
apa yang begitu berharga untuk disampaikan disini ; Lagipula, apakah arti
rahasia di negeri ini? Seakan-akan itu begitu bernilai, begitu berharga untuk
mengubah nasib miskin milik kita sejak semula. Bukankah jutaan ton minyak
dibalik dasar laut itu bukan milik kita. "Itu milik kami," ujar
raksasa-raksasa itu. "Itu juga milik kami," teriak tuyul-tuyul bersafari
itu.
Saya menuai jenuh. Saya adalah
mahluk miskin - jiwa dan raga - yang entah mengapa perlu dihubungkan dengan
dunia di luar saya. Biarpun saya adalah produk gagal dari sebuah mesin besar
bernama kapitalisme, saya tetap perlu disambungkan dengan mesin besar itu. Saya
adalah kejenuhan dan kebodohan. Jangan ragu untuk berhenti menatap saya.
Bukankah Anda berhak selalu untuk memilih. Di negeri ini, betapapun miskinnya
kita, kita masih bisa memilih. Walaupun itu melelahkan. Biarpun itu menjemukan.
Sekalipun itu membodohi kita.
Di sini, sungguhkah saya hanya kecoa,
adakah Anda manusia?
Hari masih pagi, dan saya sudah
mulai meratap. Tidak cukup tenaga saya untuk itu. Lagipula saya mudah sekali
lelah. Hati saya berat sekali. Setiap detik mengangkutnya adalah bencana.
Saya akan mandi, onani, lalu mati
di sini. Di Ruang ini, di negeri ini, dan bukan di gedung itu, gedung tempat
bekerja dan tempat sembunyi manusia-manusia kelas menengah yang sebetulnya juga
bertanggung jawab pada buruknya wajah negeri ini. Penjahat-penjahat itu tersenyum
bangga bila mereka dianggap tumpuan perubahan nasib bangsa. Kenyataannya adalah
: sepertiga dari mereka adalah pengecut karena hanya bisa diam melihat arah jalan
negeri ini yang lurus menuju maut, sepertiga lagi adalah pengecut sekaligus si
pandir karena membuat arah itu menjadi semacam joke yang menyenangkan untuk
disantap bersama coktail di café-café bercahaya remang-remang . Dan sepertiga
sisanya adalah iblis yang meraup keuntungan besar sambil menusuk dalam-dalam
perut petani, nelayan, gelandangan dan jutaan orang miskin dengan pisau
analisis ekonomi kejam mereka : Efisiensi dan Pasar Bebas dengan Korupsi
sebagai Landasannya.
Ratusan juta kepala seharga kecoa.
Diinjak raksasa-raksasa dan tuyul-tuyul bersafari.
Uh…, kejenuhan kembali lagi
datang, merayap bersama kepenuhan kenihilan.