Senin, 18 Juni 2012

Hirarki Kecoa


Setiap pagi, saya kerap memaksa benak dan hati ini untuk percaya bahwa ada sekumpulan benih kesederhanaan yang ditabur dari sebuah tempat, entah darimana. Lalu, setelah matahari merah itu meninggi, saya takut untuk percaya bila itu benar. Karena bilamana siang datang, kesulitan selalu muncul. Jika siang melenggang, manusia berubah menjadi buas disini.

Serupa, seperti ribuan manusia di kota ini, saya adalah juga seorang pekerja - menulis ataupun menggambar tidaklah cukup untuk perut saya. Rutin dan ritual. Membuat kedua sisi otak saya berfungsi optimal. Rutinitas pekerjaan melahirkan kesadaran atas kesia-siaan. Atas kesia-siaan itu, ritualitas menulis dan mencoret-coret gambar memberikan penghiburan.

Di kota ini, saya harus setabah kecoa. Karena seharga itulah saya dinilai. Suara, langkah kaki, gerakan kepala, ayunan tangan, bahkan senyuman saya, seluruhnya adalah seharga seekor kecoa bagi atasan saya. Atasan saya bagi atasannya pula. Dan muncullah hirarki itu. Hirarki kecoa. Kecoa buas. Kecoa lembek. Kecoa cepat. Kecoa lamban. Ah, rahasia kecoa apa yang begitu berharga untuk disampaikan disini ; Lagipula, apakah arti rahasia di negeri ini? Seakan-akan itu begitu bernilai, begitu berharga untuk mengubah nasib miskin milik kita sejak semula. Bukankah jutaan ton minyak dibalik dasar laut itu bukan milik kita. "Itu milik kami," ujar raksasa-raksasa itu. "Itu juga milik kami," teriak tuyul-tuyul bersafari itu.

Saya menuai jenuh. Saya adalah mahluk miskin - jiwa dan raga - yang entah mengapa perlu dihubungkan dengan dunia di luar saya. Biarpun saya adalah produk gagal dari sebuah mesin besar bernama kapitalisme, saya tetap perlu disambungkan dengan mesin besar itu. Saya adalah kejenuhan dan kebodohan. Jangan ragu untuk berhenti menatap saya. Bukankah Anda berhak selalu untuk memilih. Di negeri ini, betapapun miskinnya kita, kita masih bisa memilih. Walaupun itu melelahkan. Biarpun itu menjemukan. Sekalipun itu membodohi kita.

Di sini, sungguhkah saya hanya kecoa, adakah Anda manusia?

Hari masih pagi, dan saya sudah mulai meratap. Tidak cukup tenaga saya untuk itu. Lagipula saya mudah sekali lelah. Hati saya berat sekali. Setiap detik mengangkutnya adalah bencana.

Saya akan mandi, onani, lalu mati di sini. Di Ruang ini, di negeri ini, dan bukan di gedung itu, gedung tempat bekerja dan tempat sembunyi manusia-manusia kelas menengah yang sebetulnya juga bertanggung jawab pada buruknya wajah negeri ini. Penjahat-penjahat itu tersenyum bangga bila mereka dianggap tumpuan perubahan nasib bangsa. Kenyataannya adalah : sepertiga dari mereka adalah pengecut karena hanya bisa diam melihat arah jalan negeri ini yang lurus menuju maut, sepertiga lagi adalah pengecut sekaligus si pandir karena membuat arah itu menjadi semacam joke yang menyenangkan untuk disantap bersama coktail di café-café bercahaya remang-remang . Dan sepertiga sisanya adalah iblis yang meraup keuntungan besar sambil menusuk dalam-dalam perut petani, nelayan, gelandangan dan jutaan orang miskin dengan pisau analisis ekonomi kejam mereka : Efisiensi dan Pasar Bebas dengan Korupsi sebagai Landasannya.

Ratusan juta kepala seharga kecoa. Diinjak raksasa-raksasa dan tuyul-tuyul bersafari.

Uh…, kejenuhan kembali lagi datang, merayap bersama kepenuhan kenihilan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar