Ini adalah kisah di negeri orang-orang bodoh. Dapat dibayangkan apa yang terjadi di negeri tersebut. Setiap hari selalu saja dimeriahkan oleh pertandingan "unjuk kebodohan".
Masing-masing berlomba untuk mendapatkan predikat orang yang paling bodoh. Tidak hanya di kalangan rakyat biasa, tetapi terlebih lagi di kalangan pejabat dan aparat. Tentu saja dalam pertandingan unjuk kebodohan itu, aturan-aturan yang berlaku tidaklah terlalu menjadi perlu dipatuhi. Tetapi, bukan berarti mereka tidak peduli dengan peraturan. Buktinya, mereka terus saja memproduksi aturan dan berbagai peraturan, terutama yang dapat meningkatkan kebodohan.
Bahkan saking berjangkitnya kebodohan, mereka mengukur kinerja dengan berapa banyak aturan yang bisa dibuat. Sehingga masyarakat makin bodoh dan terbodohi.
Pendeknya, hampir di segala lapisan mereka saling berlomba untuk memperbodoh keadaan, sehingga kebanyakan mereka terbiasa untuk menjadi masa bodoh dengan berbagai keadaan. Termasuk masa bodoh dengan masyarakat yang menjadikan mereka tontonan.
Tampaknya semangat mereka untuk menjadi orang yang benar-benar bodoh sudah tak bisa dibendung dan ditawar-tawar lagi. Sehingga bila perlu mereka menghalalkan segala cara, yang terpenting target mereka untuk menjadi orang yang paling bodoh tercapai. Bila perlu mengangkat orang yang paling bodoh untuk memimpin mereka.
Maka terjadilah berbagai akal-akalan kolusi, korupsi dan manipulasi. Karena sebagai orang bodoh tentu adalah aib bagi mereka kalau mau memahami bahwa esensi dari semua itu justru bakal menghancurkan dan merugikan dirinya. Pendeknya, tanpa kolusi, korupsi dan manipulasi mereka merasa menjadi bukan siapa-siapa dan tak berarti apa-apa.
Tampaknya kita memang harus menjadi maklum, kalau mereka harus mati-matian dalam memperjuangkan kebodohan mereka. Bahkan mereka membentuk tim-tim kerja orang bodoh.
Namun sesuai dengan perjalanan waktu hubungan mereka juga bisa retak, bahkan karena kebodohannya pula setelah itu mereka berseberangan, karena harus berebut pendukung untuk mengakui bahwa dialah orang yang paling bodoh diantara orang-orang bodoh.
Hujat menghujatpun menjadi wajib dilakukan untuk menunjukkan eksistensi kebodohan mereka. Dengan melakukan aneka rekayasa, masing-masing mencari dukungan agar mau mengakui merekalah yang paling bodoh. Karena demikian bodohnya, mereka bahkan mau membayar untuk itu.
Adu kebodohan berlangsung setiap hari, dan hampir di segala lini; hampir di segala sektor. Akibatnya kebodohan itu akhirnya benar-benar telah menjadi trend, menjadi mode dimana-mana. Mediapun tak mau ketinggalan. Di berbagai media cetak dan media eletronik ikut berlomba-lomba memasyarakatkan kebodohan dan memperbodoh masyarakat. Perguruan Tinggi juga tak mau kalah, saling bersaing mencetak generasi bodoh. Mahasiswanya aktif dalam berbagai kompetisi dengan parameter tawuran, bakar-bakaran dan teriakan-teriakan makian untuk mengukur dan menunjukkan prestasi kebodohan mereka di atas yang lainnya. Institusinyapun mengukur prestasi dosen-dosennya dari banyaknya gelar-gelar kebodohan di belakang nama mereka. Semakin berderet gelar kebodohannya, maka dianggap semakin hebatlah orang itu.
Sangat wajar, kalau akhirnya di negeri itu memang hanya orang-orang bodohlah yang mendapat tempat. Mereka menjadi orang-orang terkenal. Menjadi pejabat dan aparat. Bahkan untuk kepentingan kebodohan itulah mereka menduduki berbagai jabatan dan keparatan itu.
Dapat dibayangkan. Bila pejabat dan aparatnya saja telah demikian bangganya dengan kebodohan, bagaimana pula bodohnya orang-orang yang memilih mereka.
Saking berkuasanya dinasti orang-orang bodoh itu, maka kata-kata orang bijak menjadi asing dan aneh. Yang terjadi di negeri itu adalah, orang-orang yang berlagak bijak mendapat teror, ancaman, diburu, dikucilkan atau bahkan dihilangkan karena dianggap sebagai sikap separatis yang dapat menggangu stabilitas kebodohan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar