Sebentar lagi jagoanku akan segera menerima rapor. Dan inilah biasanya saat-saat ritual bagi ibu-ibu mencari kado untuk guru wali kelas.
Sementara aku, dari semenjak Thole masih duduk di bangku TK, aku menjadi orang tua yang paling naif ketika mengambil rapor. Bagaimana tidak, ketika hampir semua orang tua datang dengan membawa aneka bingkisan, aku datang dengan tangan kosong dan wajah polos tak berdosa.
Ketika Thole sudah duduk di bangku SD, aku kembali menjadi orang tua yang polos ketika saatnya mengambil rapor semesteran. Kupikir bingkisan-bingkisan seperti itu hanya diberikan ketika kenaikan kelas saja. Blaiiik… Ternyata tidak! Jadi begini “rule” nya??? Kalau mengambil rapor semesteran, cukup memberi bingkisan berupa kue atau sejenisnya, yang ringan sajalah. Nanti ketika kenaikan kelas baru memberi kado yang lebih baik. Dompet, tas, batik, sampai ke perhiasan, dll. Siapa sih yang membuat aturan seperti itu? Hhmm.., tentu saja bukan sekolah, tetapi inisiatif para orang tua murid, khususnya Ibu-ibu gaul itu. Kalo dari sekolah jelas-jelas tidak menyarankan (meski tidak melarang dan tidak menganjurkan.. tapi mungkin lebih cenderung berharap, hehehe…). Bahkan sampai ada juga ortu yang kebagian tugas mengkoordinir mengumpulkan uang untuk dibelikan kenang-kenangan untuk wali kelas (walah.. ada kepanitiaannya juga ternyata).
Sebetulnya boleh gak sih memberi bingkisan untuk guru? Benarkah hal itu murni dari dalam hati sebagai bentuk terimakasih kepada guru karena telah membimbing anak-anaknya selama belajar di sekolah?
Meski dalam hati kecilku ragu juga, tapi kok rasanya aku agak kurang setuju ya? Karena kesannya kok….. eh…maap… maap… bukan bermaksud apa-apa…. tapi kok kayak eh….apa yaa…. menyuap gitu ya? Aduuh, ampuuun kasar sekali kata-kataku ini ya? Jeleeek sekali pikiranku ini ya? Semoga bukan seperti dugaan negatifku ini ya, tapi benar-benar karena berterimakasih pada para guru itu. Karena tanpa sengaja, ketika sedang mengantri ambil rapor, aku mendengar percakapan di antara para Ibu yang wangi-wangi itu. Begini kira-kira :
“Ini lho, Mama Arjuna, aku bawa bingkisan gini kan supaya anak kita lebih diperhatikan sama gurunya.”
“Betul, moga-moga guru jadi lebih perhatian sama anak kita, ya. Paling gak kasih nilainya gak pelit-pelit amat gitu, hihihihi…..”
Eeeh.. lhadalah…!!! Serasa ada yang menyentil dan menjewer telingaku dari belakang! Kenapa? Karena aku gak pernah membawa apapun untuk Guru!
Aku jadi sedih. Aku yakin (atau berharap?) para guru di sekolah anakku tidak serendah itu. Buktinya ketika aku tidak membawa apa-apa, Thole tetap mendapat perhatian dari wali kelasnya, bahkan perhatian yang berlebih. Ia juga tetap memperoleh nilai bagus sesuai dengan kemampuannya, meski waktu itu aku juga tak membawa apapun untuk wali kelasnya. Tapi aku jadi agak tersentil. Apa mungkin memang seharusnya aku juga membawa bingkisan seperti itu, bukan untuk mendapat imbalan tetapi untuk berterimakasih. Tapi rasanya….
Entahlah, hatiku masih bimbang. Ingin memberi tetapi takut guru berprasangka, tidak memberi juga kuatir guru mengharap? Aduuh….. masalah gak prinsip tapi bikin pusing.. berwajah polos saja ternyata juga gak membantu…
Tidak ada komentar:
Posting Komentar