Minggu, 15 Januari 2012

Ngonthel...


Bersepeda yuk naik sepeda…
Bersepeda rame-rame……

Aku sudah lupa-lupa ingat penggalan dari lirik lagu anak-anak yang dulu hampir tiap hari kudengar dari stasiun tv, yang kalau gak salah intinya menceritakan betapa asyiknya rame-rame bersepeda.
Yaa, aku kembali menyukai kebiasaan ini lagi, sepeda. Kalo waktu kecil dulu, main kemana-mana pasti pake sepeda. Masa iya anak SD dah bawa motor (tapi ini banyak kejadian sekarang, orang tuanya bego). Jadi teringat juga ketika di Yogya dulu, kemana-mana dengan santai naik sepeda, bukan gara-gara pengen sehat atau save our earth apalagi sekedar secara visual biar kelihatan nyeniman, tapi yah karena gak ada pilihan lain, grafik stabilitas ekonomi memang selalu pada level memprihatinkan pada waktu itu… hehe…
Beberapa bulan terakhir aku mulai menggunakan sepeda lagi (tapi dalam sebulan ini terpaksa terhenti karena hujan yang gak mau bersahabat buat para ‘ontheller’). Buat ke warung, beli rokok, tukang cukur, klithikan, rumah temen, kominitas wedangan, iseng-iseng sepeda udah jadi salah satu pilihan transportasi ringan. Meski banyak temen-temen yang ‘amaze’ dengan kebiasaan naik sepeda seperti ini.
Tapi ketika mau nyepeda terpaksa harus kusyaratkan dengan beberapa pertimbangan juga; Prakiraan cuaca hari itu cerah,  pergi dibawah jam 7 atau diatas jam 4 sore. Soalnya musuh utama sepeda itu cuma ujan sama panas terik aja kan?
Kenapa mau naik sepeda dul ? kamu kan ada motor (meski butut), mobil juga ada (meski karatan hampir merata kemana-mana) lebih enak naik motor or mobil kan, gak kepanasan, gak keringetan, gak kehujanan..?
Well… itu kalimat yang sering diucapkan oleh temen-temen yang ‘amaze’ dengan kelakuanku akhir-akhir ini. Simple sih jawabnya, aku pengen sehat + save our earth + asyik. Sekalian dengan sederhana pengen nunjukin ke temen-temen bahwa kalo cuma mau beraktivitas ke tengah kota atau sekedar nongkrong ketemu temen-temen komunitas gak harus selalu dengan naik motor atau mobil pribadi dengan alesan males atau capek, bersepada ternyata asyik juga.
Tahun kemarin Pemkot telah mencanangkan Program Car Free Day di sepanjang jalur jalan Slamet Riyadi tiap minggu pagi mulai jam 05.00 s/d 09.00 WIB. Sejauh ini yang aku lihat program ini telah berjalan dengan lancar, masyarakat juga menyambut dengan antusias program ini. Dan yang gak kalah menariknya banyak sektor informal yang lumayan terserap dengan adanya program ini.
Well, cukuplah ocehan ngalor ngidulku ini, aku hanya berharap suatu saat bahwa bersepeda gak melulu hanya di hari minggu pada jalur CFD, tapi juga menjadi kesadaran yang cukup sederhana, bahwa bersepeda ternyata asyik juga, syukur-syukur trus ada beberapa orang yang tergerak untuk memulai ngonthel sepedanya saat mereka melakukan aktivitas keseharian yang gak terlalu perlu harus menggunakan motor atau mobil pribadinya.

Save our Earth, for our children…

Selasa, 10 Januari 2012

Alien Gathering

Pagi ini ketika tak sengaja kulihat seorang wanita cantik dengan dandanan ala artis ibukota datang ke kantor entah mau menemui siapa, aku jadi teringat ketika suatu saat ‘dipaksa’ seorang teman untuk menemaninya pada sebuah acara gathering yang diadakan oleh perusahaan tempatnya bekerja.
Saat itu yang ada dibenakku cuma ada sebuah kata ‘gathering’ dengan font yang cukup besar dan ekstra bold diikuti oleh sebuah tanda tanya yang cukup besar pula. Hmm.. aku belum terlalu ‘akrab’ dengan kata tersebut. Sampai akhirnya karena keudikanku, aku terpaksa mencari beberapa referensi untuk mencari ‘definisi’ kata tersebut demi menghadapi peristiwa yang lumayan masih ‘aneh’ buatku.
Kata temanku, ini cuma acara kumpul-kumpul biasa. Tidak terlalu formal, dan santai. Okeylah..., aku sudah mendapatkan gambaran ‘definisi’ seperti apa acara itu nanti. Hmm... cukup dengan menggunakan kemeja sederhana plus sepatu dibuat mengkilat seperlunya. Tak perlu menggunakan dasi dan tetek bengeknya (karena pasti seperti ada lengan pejudo sebesar tangki trail serasa mencekikku).
Saat tiba di lokasi rendesvouz Atmosfernya sungguh jauh dari bayangkanku sebelumnya. Gelas-gelas tinggi berdenting, tawa renyah menguap di udara, dan puluhan gelas wine dan cocktail bertebaran dimana-mana, tak ketinggalan puluhan jenis canapé dibawa oleh para pelayan berbaju hitam seperti penguin.
Oow.. oow..!!! Ini jelas bukan ‘duniaku’. Aku seperti alien yang mendarat di planet yang salah. Seperti sedang memasuki sebuah dunia yang asing sama sekali. Para wanita yang berkumpul di sudut ruangan asyik bercerita dengan menggunakan bahasa Inggris yang belakangan kuketahui mereka bukanlah ekspatriat. Ini hanya sekedar untuk menaikkan pamor belaka.
Dandanan bak artis ibu kota yang tengah menunggu giliran naik panggung plus pakaian yang super glamour. Bahu terbuka, super mini.. Hmm.. kalau yang satu ini sayang kalau dilewatkan! Hehehe.. Padahal di luar udara sangat dingin. Dan di dalam ruanganpun tak kalah seperti layaknya kutub utara.
Sekelompok pria yang kalau dilihat dari penampilannya mereka itu adalah golongan manusia metroseksual. Jas hitam, kemeja yang dibuka kancingnya setengah, aroma after shave yang menyegarkan.. sayang kemampuan referensiku cuma mampu menganalogkan mereka dengan sekelompok boysband yang lagi ngetrend.
Aku memutuskan untuk duduk di sudut meja persis di depan teritorial bartender. Tempat yang bagiku paling nyaman untuk mengamati sekeliling. Beberapa orang diantara mereka mengamatiku dengan pandangan aneh, menelanjangi sambil seolah-olah berkata “Hei, tempat  lo bukan di sini! Cepet ganti baju bawa baki minuman..” bajingan tengik… aku jadi teringat ketika biasa membagikan minuman terkenal ber-merk tiga huruf saat acara ‘gathering’ bersama teman-temanku di pinggir selokan dekat kampus.. itu pikiran ekstremku seketika.
Tapi aku cuek saja. Ini aku apa adanya, tidak peduli dengan mereka yang bertransformasi menjadi orang lain untuk bisa diakui. I am what I am. Kubuat diriku senyaman mungkin meskipun saat itu aku tengah ‘terjebak’ di dunia lain untuk waktu 2 hingga 3 jam ke depan…

Minggu, 08 Januari 2012

Malaikat Hitam

Ketika aku tiba-tiba termenung bingung sendiri di tengah-tengah keramaian yang tidak sedikitpun kurasakan, aku jadi teringat situasi yang sama pernah terjadi dan kemudian terulang di saat yang lain. Saat itu tiba-tiba datang kepadaku sesosok makhluk (entah apa) mengenakan jubah hitam pekat dengan penutup kepalanya yang melebar ke depan sehingga bayangan hitamnya menutupi wujud aslinya. Ketakutan yang saat itu menggunung kemudian lenyap ketika ia meyakinkanku bahwa malaikatlah yang yang sedang berhadapan denganku. Kebingunganpun kemudian merasuk dan menguasai pikiranku, dan tanpa berfikir terlalu panjang akupun bertanya kepadanya,
 “Jika engkau benar malaikat, lalu kenapa engkau mengenakan jubah hitam yang begitu pekat, tanpa warna putih sedikitpun dan tak ada sayap di tubuhmu?”
Dengan tersenyum dia berkata,
"Aku hanya tidak ingin manusia kemudian menilai bahwa setiap yang berpakaian putih adalah malaikat. Aku hanya ingin mengubah pemikiran manusia bahwa kebaikan itu tidak mengenal warna. Aku menyukai hitam karena mereka begitu kokoh dan tak ternoda.
Lalu kenapa juga aku harus memiliki sayap, karena sesungguhnya bukan sayapmu yang bisa membawa hatimu terbang  melintasi cakrawala dan menembus surga..."

Kamis, 05 Januari 2012

Maafkan Aku...


Sayang… bukan maksudku melupakanmu...
Jauh sudah perjalanan yang kita lewati bersama, dengan segala cerita suka dan duka
Telah begitu dalam rasa memilikiku padamu
Rasanya tak mungkin berpisah bila aku bersamamu ataupun jauh darimu.
Sungguh… ini bukan gombal gembel sayang.
Ahh, seandainya engkau bisa memahaminya…
Betapa bahagianya aku bila kau selalu bersamaku
Tak perlu kuucap betapa sayangku padamu
Karena ku yakin, kau tak perlu kata-kata itu.
Kau hanya perlu langkahku… yaaa… langkahku bersamamu
Menemaniku melewati jalan-jalan yang panjang dan berliku
Kerikil tajam menggores, sampai kubangan lumpur pernah kita lewati.
Kamu ingat kan semua kenangan itu?
Dan hari ini, dua hari setelah aku memutuskan untuk membuangmu dari hidupku
Aku tersadar!
Aku tak boleh begini terus.
Aku harus bangkit dan tetap semangat menjalani ini semua… meski tanpamu.
Meski untuk itu aku harus mencari penggantimu…
Yach, aku harus mencari penggantimu… harus.
Karena langkahku akan terseok-seok bila tak segera menemukan yang baru.
Aku terpaksa harus mencari penggantimu
Terpaksa membeli Sendal Jepit baru.
Karena telah putus tali-temalimu, akibat kesandung batu…
……………..