Selasa, 10 Januari 2012

Alien Gathering

Pagi ini ketika tak sengaja kulihat seorang wanita cantik dengan dandanan ala artis ibukota datang ke kantor entah mau menemui siapa, aku jadi teringat ketika suatu saat ‘dipaksa’ seorang teman untuk menemaninya pada sebuah acara gathering yang diadakan oleh perusahaan tempatnya bekerja.
Saat itu yang ada dibenakku cuma ada sebuah kata ‘gathering’ dengan font yang cukup besar dan ekstra bold diikuti oleh sebuah tanda tanya yang cukup besar pula. Hmm.. aku belum terlalu ‘akrab’ dengan kata tersebut. Sampai akhirnya karena keudikanku, aku terpaksa mencari beberapa referensi untuk mencari ‘definisi’ kata tersebut demi menghadapi peristiwa yang lumayan masih ‘aneh’ buatku.
Kata temanku, ini cuma acara kumpul-kumpul biasa. Tidak terlalu formal, dan santai. Okeylah..., aku sudah mendapatkan gambaran ‘definisi’ seperti apa acara itu nanti. Hmm... cukup dengan menggunakan kemeja sederhana plus sepatu dibuat mengkilat seperlunya. Tak perlu menggunakan dasi dan tetek bengeknya (karena pasti seperti ada lengan pejudo sebesar tangki trail serasa mencekikku).
Saat tiba di lokasi rendesvouz Atmosfernya sungguh jauh dari bayangkanku sebelumnya. Gelas-gelas tinggi berdenting, tawa renyah menguap di udara, dan puluhan gelas wine dan cocktail bertebaran dimana-mana, tak ketinggalan puluhan jenis canapé dibawa oleh para pelayan berbaju hitam seperti penguin.
Oow.. oow..!!! Ini jelas bukan ‘duniaku’. Aku seperti alien yang mendarat di planet yang salah. Seperti sedang memasuki sebuah dunia yang asing sama sekali. Para wanita yang berkumpul di sudut ruangan asyik bercerita dengan menggunakan bahasa Inggris yang belakangan kuketahui mereka bukanlah ekspatriat. Ini hanya sekedar untuk menaikkan pamor belaka.
Dandanan bak artis ibu kota yang tengah menunggu giliran naik panggung plus pakaian yang super glamour. Bahu terbuka, super mini.. Hmm.. kalau yang satu ini sayang kalau dilewatkan! Hehehe.. Padahal di luar udara sangat dingin. Dan di dalam ruanganpun tak kalah seperti layaknya kutub utara.
Sekelompok pria yang kalau dilihat dari penampilannya mereka itu adalah golongan manusia metroseksual. Jas hitam, kemeja yang dibuka kancingnya setengah, aroma after shave yang menyegarkan.. sayang kemampuan referensiku cuma mampu menganalogkan mereka dengan sekelompok boysband yang lagi ngetrend.
Aku memutuskan untuk duduk di sudut meja persis di depan teritorial bartender. Tempat yang bagiku paling nyaman untuk mengamati sekeliling. Beberapa orang diantara mereka mengamatiku dengan pandangan aneh, menelanjangi sambil seolah-olah berkata “Hei, tempat  lo bukan di sini! Cepet ganti baju bawa baki minuman..” bajingan tengik… aku jadi teringat ketika biasa membagikan minuman terkenal ber-merk tiga huruf saat acara ‘gathering’ bersama teman-temanku di pinggir selokan dekat kampus.. itu pikiran ekstremku seketika.
Tapi aku cuek saja. Ini aku apa adanya, tidak peduli dengan mereka yang bertransformasi menjadi orang lain untuk bisa diakui. I am what I am. Kubuat diriku senyaman mungkin meskipun saat itu aku tengah ‘terjebak’ di dunia lain untuk waktu 2 hingga 3 jam ke depan…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar