Selasa, 29 Januari 2013

Apa Khabar Surga?


Hallo Surga,

Bagaimana keadaan di sana? Aku harap baik-baik saja. Ada seorang laki-laki yang tinggal di sana, laki-laki yang sangat kukenal. Aku tahu pasti, dia tinggal di sana, karena semasa hidupnya, ia menciptakan banyak sekali surga untukku.

Dia lelaki tua, berumur tujuh puluh lima saat dia berjalan ke sana lima belas tahun yang lalu. Rautnya sabar dan bersahaja. Penuh dengan kharisma dan wibawa. Saat pergi, dia mungkin dalam derita, tapi tak apa, ada kami yang mengelilinginya. Dia bahagia sepertinya.

Apakah ada bidadari untuknya? Apa ia cukup betah di sana? Bisakah kau katakan, bahwa anak laki-lakinya menanyakannya? Ingin bertemu dalam mimpi, dan ingin bicara? Semasa hidupnya, kami tak banyak bicara, tapi aku tahu ada banyak cinta.

Aku ingat tatapan mata terakhirnya. Aku juga ingat senyumnya. Aku juga ingat rasa singkong goreng buatannya saat rintik gerimis seperti ini. Tak pernah ada yang seenak itu, selalu gurih-manis, selalu habis sebelum dingin. Dia selalu hanya bisa menikmati secuil dari gorengannya, karena kami langsung menghabiskannya. Ia hanya bilang “kok udah abis lagi? Dasar tuyul!” Lalu ia mulai mengupas dan menggoreng singkong lagi, dan kami habiskan lagi.

Surga, berapa harga yang harus aku bayar padamu, agar membuatnya tetap senang di sana? Aku tak punya banyak harta, bisakah aku tukar dengan jiwa atau senggama?

Minggu, 20 Januari 2013

Viva Humanism


Beberapa musibah seolah ‘menari-nari’ di bumi Indonesia beberapa tahun terakhir. Tanah longsor, angin topan, angin puting beliung, gempa, semburan lumpur, kebakaran pemukiman, kebakaran hutan, semburan awan panas gunung berapi, tsunami, kecelakaan transportasi, untuk menyebut yang popular, dan terakhir banjir periodik di Jakarta yang seolah tak lebih puas tanpa menelan korban jiwa. Duka cita mendalam layak kita sampaikan pada keluarga korban.

Beragam sikap muncul. Ada yang menilai ini sebagai ‘musibah’ dan ‘ujian’ saja. Ada yang menilai ini kewajaran saja, karena Indonesia adalah daerah rawan bencana. Ada yang berusaha menafikan Tuhan dengan mengaitkan kejadian-kejadian ini pada aspek-aspek material, sehingga Tuhan perlu memberi teguran. Ada yang mengambil kesempatan untuk melontarkan kritik terhadap pemangku pemerintahan sebagai tidak becus dan tidak bertanggungjawab mengurus keselamatan publik. Yang dikritik bersikap reaktif seolah ia benar-benar peduli, padahal masalah ini terus berulang.

Ada pula fenomena di sebagian masyarakat yang justru menaruh respek pada ucapan paranormal, dukun, orang pintar, atau peramal. Tak perlu berkecil hati, selalu masih ada yang merenunginya sebagai teguran keimanan yang berharga. Tapi ada juga yang mengambil sikap sigap mengulurkan bantuan yang diperlukan. Mereka bergerak nyata terjun langsung ke lapangan berinteraksi dengan korban. Tak hanya bantuan fisik, tapi juga menyentuh psikis. Meski memiliki keterbatasan sebagai elemen masyarakat biasa, mereka seolah ‘menasehati penguasa’ dengan cara sedemikian elegan, dengan memberi teladan.

Salut dan salam hormat saya untuk semua elemen relawan dan orang-orang di negeri ini yang masih punya nurani dan kepedulian terhadap sesama tanpa pamrih dan tanpa dibatasi sekat-sekat perbedaan yang primitif….

Avignam Jagad Samagram

Selasa, 15 Januari 2013

Romansa


Sore sudah memerah.. kukayuh sepeda bututku pelan, membelah Malioboro yang mulai padat, tetapi tidak begitu macet. Hari itu selasa. Akan sangat beda bila hari sabtu menjelang malam minggu.. dijamin macet.
Bekas hujan masih basah, tetapi justru membuat jalanan jadi berwarna. pantulan cahaya lampu toko di aspal menimbulkan keindahan tersendiri, setidaknya untukku.
Aku sangat menikmati pemandangan itu.. merah biru kuning membias di aspal basah yang masih mengepulkan aroma tanah.
Sampai di depan benteng Vrederburg.. yang sekarang dibangun bangku-bangku taman. Banyak muda-mudi duduk-duduk bercengkerama. Ah.. aku dulu adalah salah satu penikmat malam di depan benteng itu. Ketika harus mengerjakan tugas sketsa yang objeknya itu-itu saja. Pasar Ngasem, Kantor Pos besar, Gedung Agung, Senisono dan… Ngejaman alias depan Vrederburg!
Hingga dini hari aku betah nongkrong disitu.. sampai para pedagang kaki lima Malioboro mengakhiri aktifitasnya. Sampai gerobak terakhir berderit meninggalkan areal mencari nafkahnya. Sampai petugas kebersihan menyapuku karena aku ketiduran di trotoar. Sampai seorang kere tiba-tiba menarik tanganku dan mengajakku segera berlari karena pagi-pagi ada operasi penertiban gelandangan dan pengemis….
Jogja.. yang paling berkesan adalah awal-awal sembilanpuluhan. Saat itu aku masih menemukan jejak-jejak tiga poros budaya era delapanpuluhan.. cerita-cerita tentang Umbu Landu Paranggi yang kecewa dengan Malioboro, tentang Cak Nun yang populis dan berporos di Gampingan, tentang Umar Kayam yang bertahta di  UGM, tentang  seniman-seniman pelamun yang betah merenung di Senisono,  .. merenung.. atau  meratapi nasib yang absurd…. entah.
Juga  Gampingan... kampus yang sekarang merana.. senirupa akhirnya pindah ke Sewon - Bantul. Bangunan yang mengajari aku lembur malam. Bangunan yang sangat kunikmati coretan-coretan isengnya. Beringin yang merimbun… Patung Pak Katamsi yang beku… Bu Marjoko yang enak mendoannya….. masjid Al Hikmah yang sejuk… Warung Nesu Mulih yang dahsyat oseng-oseng merconnya……pasar Kunce…..n………. 
Pulang yuk!!.. aku tersentak…kaget juga...weitt... kembali lagi ke kesadaran seutuhnya.
Kembali lagi ke realitasku…..
Ahh… terlalu banyak berhayal… terlalu sering, ketika jeda, aku terseret pusaran kembali ke irama masa-lalu ku. Kerinduan yang menyenangkan. Pertemuan semu yang melegakan perasanku sejenak..
Kini bersama anakku aku mencari udara segar sore selepas hujan dengan bersepeda dan mampir duduk-duduk di depan Balaikota Solo… membayangkan kesamaan tempat ini yang hampir mirip jogja disaat itu. Atau lebih tepatnya memaksakan anganku untuk memiripkan suasana saat itu. Kutemui juga disini beberapa mahasiswa senirupa sedang menggambar sketsa.. dengan gaya dandanannya.. gaya bercandanya.. dan mungkin dengan segala kegelisahan yang mengintai dan mencari kesempatan untuk menikamnya… Ah.. mengingat kembali romantisme Jogja..
Maghrib hampir  menjelang……. Anakku sudah mengajakku segera pulang…