Selasa, 15 Januari 2013

Romansa


Sore sudah memerah.. kukayuh sepeda bututku pelan, membelah Malioboro yang mulai padat, tetapi tidak begitu macet. Hari itu selasa. Akan sangat beda bila hari sabtu menjelang malam minggu.. dijamin macet.
Bekas hujan masih basah, tetapi justru membuat jalanan jadi berwarna. pantulan cahaya lampu toko di aspal menimbulkan keindahan tersendiri, setidaknya untukku.
Aku sangat menikmati pemandangan itu.. merah biru kuning membias di aspal basah yang masih mengepulkan aroma tanah.
Sampai di depan benteng Vrederburg.. yang sekarang dibangun bangku-bangku taman. Banyak muda-mudi duduk-duduk bercengkerama. Ah.. aku dulu adalah salah satu penikmat malam di depan benteng itu. Ketika harus mengerjakan tugas sketsa yang objeknya itu-itu saja. Pasar Ngasem, Kantor Pos besar, Gedung Agung, Senisono dan… Ngejaman alias depan Vrederburg!
Hingga dini hari aku betah nongkrong disitu.. sampai para pedagang kaki lima Malioboro mengakhiri aktifitasnya. Sampai gerobak terakhir berderit meninggalkan areal mencari nafkahnya. Sampai petugas kebersihan menyapuku karena aku ketiduran di trotoar. Sampai seorang kere tiba-tiba menarik tanganku dan mengajakku segera berlari karena pagi-pagi ada operasi penertiban gelandangan dan pengemis….
Jogja.. yang paling berkesan adalah awal-awal sembilanpuluhan. Saat itu aku masih menemukan jejak-jejak tiga poros budaya era delapanpuluhan.. cerita-cerita tentang Umbu Landu Paranggi yang kecewa dengan Malioboro, tentang Cak Nun yang populis dan berporos di Gampingan, tentang Umar Kayam yang bertahta di  UGM, tentang  seniman-seniman pelamun yang betah merenung di Senisono,  .. merenung.. atau  meratapi nasib yang absurd…. entah.
Juga  Gampingan... kampus yang sekarang merana.. senirupa akhirnya pindah ke Sewon - Bantul. Bangunan yang mengajari aku lembur malam. Bangunan yang sangat kunikmati coretan-coretan isengnya. Beringin yang merimbun… Patung Pak Katamsi yang beku… Bu Marjoko yang enak mendoannya….. masjid Al Hikmah yang sejuk… Warung Nesu Mulih yang dahsyat oseng-oseng merconnya……pasar Kunce…..n………. 
Pulang yuk!!.. aku tersentak…kaget juga...weitt... kembali lagi ke kesadaran seutuhnya.
Kembali lagi ke realitasku…..
Ahh… terlalu banyak berhayal… terlalu sering, ketika jeda, aku terseret pusaran kembali ke irama masa-lalu ku. Kerinduan yang menyenangkan. Pertemuan semu yang melegakan perasanku sejenak..
Kini bersama anakku aku mencari udara segar sore selepas hujan dengan bersepeda dan mampir duduk-duduk di depan Balaikota Solo… membayangkan kesamaan tempat ini yang hampir mirip jogja disaat itu. Atau lebih tepatnya memaksakan anganku untuk memiripkan suasana saat itu. Kutemui juga disini beberapa mahasiswa senirupa sedang menggambar sketsa.. dengan gaya dandanannya.. gaya bercandanya.. dan mungkin dengan segala kegelisahan yang mengintai dan mencari kesempatan untuk menikamnya… Ah.. mengingat kembali romantisme Jogja..
Maghrib hampir  menjelang……. Anakku sudah mengajakku segera pulang…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar