Sore sudah memerah..
kukayuh sepeda bututku pelan, membelah Malioboro yang mulai padat, tetapi tidak
begitu macet. Hari itu selasa. Akan sangat beda bila hari sabtu menjelang malam
minggu.. dijamin macet.
Bekas hujan masih basah,
tetapi justru membuat jalanan jadi berwarna. pantulan cahaya lampu toko di
aspal menimbulkan keindahan tersendiri, setidaknya untukku.
Aku sangat menikmati
pemandangan itu.. merah biru kuning membias di aspal basah yang masih
mengepulkan aroma tanah.
Sampai di depan
benteng Vrederburg.. yang sekarang dibangun bangku-bangku taman. Banyak
muda-mudi duduk-duduk bercengkerama. Ah.. aku dulu adalah salah satu penikmat
malam di depan benteng itu. Ketika harus mengerjakan tugas sketsa yang objeknya
itu-itu saja. Pasar Ngasem, Kantor Pos besar, Gedung Agung, Senisono dan…
Ngejaman alias depan Vrederburg!
Hingga dini hari aku
betah nongkrong disitu.. sampai para pedagang kaki lima Malioboro mengakhiri
aktifitasnya. Sampai gerobak terakhir berderit meninggalkan areal mencari
nafkahnya. Sampai petugas kebersihan menyapuku karena aku ketiduran di trotoar.
Sampai seorang kere tiba-tiba menarik tanganku dan mengajakku segera berlari
karena pagi-pagi ada operasi penertiban gelandangan dan pengemis….
Jogja.. yang paling
berkesan adalah awal-awal sembilanpuluhan. Saat itu aku masih menemukan
jejak-jejak tiga poros budaya era delapanpuluhan.. cerita-cerita tentang Umbu Landu
Paranggi yang kecewa dengan Malioboro, tentang Cak Nun yang populis dan
berporos di Gampingan, tentang Umar Kayam yang bertahta di UGM,
tentang seniman-seniman pelamun yang betah merenung di Senisono, ..
merenung.. atau meratapi nasib yang absurd…. entah.
Juga Gampingan...
kampus yang sekarang merana.. senirupa akhirnya pindah ke Sewon - Bantul. Bangunan
yang mengajari aku lembur malam. Bangunan yang sangat kunikmati coretan-coretan
isengnya. Beringin yang merimbun… Patung Pak Katamsi yang beku… Bu Marjoko yang
enak mendoannya….. masjid Al Hikmah yang sejuk… Warung Nesu Mulih yang dahsyat
oseng-oseng merconnya……pasar Kunce…..n……….
Pulang yuk!!.. aku tersentak…kaget juga...weitt... kembali lagi ke kesadaran seutuhnya.
Pulang yuk!!.. aku tersentak…kaget juga...weitt... kembali lagi ke kesadaran seutuhnya.
Kembali lagi ke realitasku…..
Ahh… terlalu banyak berhayal…
terlalu sering, ketika jeda, aku terseret pusaran kembali ke irama masa-lalu
ku. Kerinduan yang menyenangkan. Pertemuan semu yang melegakan perasanku
sejenak..
Kini bersama anakku aku
mencari udara segar sore selepas hujan dengan bersepeda dan mampir duduk-duduk
di depan Balaikota Solo… membayangkan kesamaan tempat ini yang hampir mirip jogja
disaat itu. Atau lebih tepatnya memaksakan anganku untuk memiripkan suasana saat
itu. Kutemui juga disini beberapa mahasiswa senirupa sedang menggambar sketsa..
dengan gaya dandanannya.. gaya bercandanya.. dan mungkin dengan segala
kegelisahan yang mengintai dan mencari kesempatan untuk menikamnya… Ah..
mengingat kembali romantisme Jogja..
Maghrib hampir
menjelang……. Anakku sudah mengajakku segera pulang…
Tidak ada komentar:
Posting Komentar