Hallo Surga,
Bagaimana keadaan di sana? Aku harap baik-baik
saja. Ada seorang laki-laki yang tinggal di sana, laki-laki yang sangat kukenal.
Aku tahu pasti, dia tinggal di sana, karena semasa hidupnya, ia menciptakan
banyak sekali surga untukku.
Dia lelaki tua, berumur tujuh puluh lima saat dia
berjalan ke sana lima belas tahun yang lalu. Rautnya sabar dan bersahaja. Penuh
dengan kharisma dan wibawa. Saat pergi, dia mungkin dalam derita, tapi tak apa,
ada kami yang mengelilinginya. Dia bahagia sepertinya.
Apakah ada bidadari untuknya? Apa ia cukup betah di
sana? Bisakah kau katakan, bahwa anak laki-lakinya menanyakannya? Ingin bertemu
dalam mimpi, dan ingin bicara? Semasa hidupnya, kami tak banyak bicara, tapi
aku tahu ada banyak cinta.
Aku ingat tatapan mata terakhirnya. Aku juga ingat
senyumnya. Aku juga ingat rasa singkong goreng buatannya saat rintik gerimis
seperti ini. Tak pernah ada yang seenak itu, selalu gurih-manis, selalu habis
sebelum dingin. Dia selalu hanya bisa menikmati secuil dari gorengannya, karena
kami langsung menghabiskannya. Ia hanya bilang “kok udah abis lagi? Dasar
tuyul!” Lalu ia mulai mengupas dan menggoreng singkong lagi, dan kami habiskan
lagi.
Surga, berapa harga yang harus aku bayar padamu,
agar membuatnya tetap senang di sana? Aku tak punya banyak harta, bisakah aku
tukar dengan jiwa atau senggama?
Tidak ada komentar:
Posting Komentar