Selasa, 29 Januari 2013

Apa Khabar Surga?


Hallo Surga,

Bagaimana keadaan di sana? Aku harap baik-baik saja. Ada seorang laki-laki yang tinggal di sana, laki-laki yang sangat kukenal. Aku tahu pasti, dia tinggal di sana, karena semasa hidupnya, ia menciptakan banyak sekali surga untukku.

Dia lelaki tua, berumur tujuh puluh lima saat dia berjalan ke sana lima belas tahun yang lalu. Rautnya sabar dan bersahaja. Penuh dengan kharisma dan wibawa. Saat pergi, dia mungkin dalam derita, tapi tak apa, ada kami yang mengelilinginya. Dia bahagia sepertinya.

Apakah ada bidadari untuknya? Apa ia cukup betah di sana? Bisakah kau katakan, bahwa anak laki-lakinya menanyakannya? Ingin bertemu dalam mimpi, dan ingin bicara? Semasa hidupnya, kami tak banyak bicara, tapi aku tahu ada banyak cinta.

Aku ingat tatapan mata terakhirnya. Aku juga ingat senyumnya. Aku juga ingat rasa singkong goreng buatannya saat rintik gerimis seperti ini. Tak pernah ada yang seenak itu, selalu gurih-manis, selalu habis sebelum dingin. Dia selalu hanya bisa menikmati secuil dari gorengannya, karena kami langsung menghabiskannya. Ia hanya bilang “kok udah abis lagi? Dasar tuyul!” Lalu ia mulai mengupas dan menggoreng singkong lagi, dan kami habiskan lagi.

Surga, berapa harga yang harus aku bayar padamu, agar membuatnya tetap senang di sana? Aku tak punya banyak harta, bisakah aku tukar dengan jiwa atau senggama?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar