Di sebuah warung angkringan tampak beberapa orang
yang duduk-duduk sembari bercengkerama tentang fenomena carut marut politik di
negeri ini. Ditemani secangkir kopi hangat, segelas teh ginastel atau jahe
hangat dan makanan kecil, beberapa orang yang bercengkerama tersebut asyik melanjutkan
obrolan gaya angkringan mereka tentang berita yang dibesarkan oleh media. Sejenak
obrolan terhenti saat salah satu stasiun televisi memberitakan tentang vonis
yang dijatuhkan hakim terhadap seorang wanita cantik yang katanya seorang artis
dan pernah terpilih menjadi putri terhebat di negeri ini dibalik siding kasus
korupsi yang sedang dihadapinya, “yang - lagi-lagi – katanya” dia hanya menjadi
korban konspirasi politik.
Seorang lelaki tua berusia setengah baya
menyeruput kopi hitamnya yang sudah berembun di bagian tutupnya. “Enak ya jadi orang
seperti itu, walau sudah jadi tahanan tetapi tetap dapat perlakuan sekelas
bangsawan,” ucap lelaki paruh baya tersebut sesaat setelah meletakkan cangkir
kopinya di atas meja.
“Dapat perlakuan kelas bangsawan gimana Pak,
bukannya dia sudah jadi tahanan negara?” tanya seorang lelaki muda yang ikut
mendengarkan. Lelaki itu terlalu muda untuk memahami secara gamblang kondisi
nyata yang terjadi di negeri ini.
“Berapa umurmu, Nak?” tanya seorang lelaki
berjenggot lebat dengan baju atasan gamis berwarna putih yang dikenakannya.
“Baru masuk delapan belas tahun, Pak.” Lelaki
muda itu menjawab dengan tegas. “Lalu apa yang dimaksud dengan perlakuan kelas
bangsawan tadi, Pak?” Lelaki muda itu kembali bertanya kepada beberapa lelaki
yang lebih senior darinya itu.
Seorang lelaki berusia tiga puluh tahunan
berdeham. “Jika kamu memperhatikan apa yang terjadi, lalu kamu membaca
pemberitaan yang diberikan oleh media dan berfikir dengan sikap yang diambil
pemerintah saat ini mengenai kasus ini, maka kamu akan menemukan jawaban yang
sama dengan yang kami temukan, yaitu rasa muak,” ucap lelaki berumur tiga puluh
tahunan itu.
“Di negeri ini, para petinggi sudah kehilangan
nurani. Kamu tahu kenapa?” ucap lelaki berkumis kepada lelaki muda tersebut.
Lelaki muda hanya menggelengkan kepalanya,
logikanya belum dapat menangkap pesan yang disampaikan. “Begini, berapa banyak
orang-orang miskin yang kelaparan di jalan yang ada di negeri ini? Berapa
banyak anak-anak yang putus sekolah di negeri ini? Berapa banyak kesengsaraan
yang dialami golongan marginal di negara ini? Banyak!” ucap lelaki setengah
baya menahan geram. Tangannya yang sudah sedikit berkeriput itu menggenggam
cangkir kopinya dengan sedikit getar.
“Dan apa kamu tahu berapa banyak dana yang hilang
di negeri ini? Sangat banyak juga. Dulu, negeri ini kehilangan banyak dana
hanya untuk menyelamatkan sebuah bank kecil. Tapi dana tersebut lenyap dan
hilang entah kemana. Sekarang… kejadian itu terulang lagi,” ucap lelaki
berkumis itu melanjutkan kata-kata lelaki setengah baya. dia meniup kecil gelas
kopinya sejenak, “begitu banyak dana yang hilang dan masuk ke dalam kantong
pribadi golongan elit. Dana yang seharusnya bisa meringankan beban orang-orang
miskin di begeri ini, justru hilang dan menguap sia-sia,” lanjutnya.
Lelaki muda itu diam mendengarkan setiap
kata-kata yang keluar dari mulut senior-seniornya itu. Kepalanya mencerna
kalimat-kalimat yang meluncur dari lelaki yang lebih matang dari segi fisik dan
pemikirannya.
“Dan sekarang? Uang rakyat harus kembali jadi bancakan
sekelompok orang hanya untuk membangun wisma atlit dengan dana yang
menggelembung tidak sesuai dengan kondisi bangunannya, yang bahkan belum
digunakan saja sudah ambruk. Padahal cuma ada segelintir atlit di negeri ini
yang punya prestasi, itupun dicapai dengan susah payah sendiri, tanpa bantuan
dari pemerintah sedikitpun. Ini keterlaluan!!” ucap lelaki berkumis seraya
menghentak meja dengan cangkir kopinya.
“Semoga kasus ini benar-benar selesai ya Pak, kan
sudah ada beberapa orang penting yang jadi tersangka tuh” ucap lelaki muda itu
dengan nada optimis.
Lelaki berjanggut hanya tersenyum mendengar
ucapan lelaki muda. “Dulu kami juga berfikiran seperti itu, tapi sayangnya itu
hanya sebuah harapan kosong yang tidak ada jawabannya. Selama kasus yang
terjadi melibatkan ‘golongan elit’ kasus itu tidak akan pernah ada jawabannya.
Jikapun ada hukuman yang dijatuhkan, hukuman itu tidak lebih hanya sebuah
’syarat’ bahwa para penegak hukum seolah sudah melakukan tugasnya,” ucapnya
dengan nada pesimis yang kental.
“Karena ini Indonesia Pak. Hanya optimisme yang
tetap membuat aku tetap bangga.” Lelaki muda itu melontarkan rasa optimisme
lagi dari mulutnya. “Semoga saat generasi saya yang memimpin, keadaan seperti
ini tidak akan terjadi dan pemimpin di era saya nanti bisa menjadi tegas.”
Ketiga lelaki yang lebih tua dari lelaki muda itu
hanya diam dan tersenyum mendengar kata-kata lelaki muda itu. Optimisme?
Entah sejak kapan aku melupakan hal itu, suara lirih lelaki berjenggut
lebat.
Kebanggaan menjadi bagian dari bangsa ini?
lelaki setangah baya tersenyum dalam hati saat memikirkan kata-kata itu. Semoga
kebanggan itu tetap melekat di dalam hatimu.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar