Senin, 14 Januari 2013

Gerutu Buntu


Di sebuah warung angkringan tampak beberapa orang yang duduk-duduk sembari bercengkerama tentang fenomena carut marut politik di negeri ini. Ditemani secangkir kopi hangat, segelas teh ginastel atau jahe hangat dan makanan kecil, beberapa orang yang bercengkerama tersebut asyik melanjutkan obrolan gaya angkringan mereka tentang berita yang dibesarkan oleh media. Sejenak obrolan terhenti saat salah satu stasiun televisi memberitakan tentang vonis yang dijatuhkan hakim terhadap seorang wanita cantik yang katanya seorang artis dan pernah terpilih menjadi putri terhebat di negeri ini dibalik siding kasus korupsi yang sedang dihadapinya, “yang - lagi-lagi – katanya” dia hanya menjadi korban konspirasi politik.
Seorang lelaki tua berusia setengah baya menyeruput kopi hitamnya yang sudah berembun di bagian tutupnya. “Enak ya jadi orang seperti itu, walau sudah jadi tahanan tetapi tetap dapat perlakuan sekelas bangsawan,” ucap lelaki paruh baya tersebut sesaat setelah meletakkan cangkir kopinya di atas meja.
“Dapat perlakuan kelas bangsawan gimana Pak, bukannya dia sudah jadi tahanan negara?” tanya seorang lelaki muda yang ikut mendengarkan. Lelaki itu terlalu muda untuk memahami secara gamblang kondisi nyata yang terjadi di negeri ini.
“Berapa umurmu, Nak?” tanya seorang lelaki berjenggot lebat dengan baju atasan gamis berwarna putih yang dikenakannya.
“Baru masuk delapan belas tahun, Pak.” Lelaki muda itu menjawab dengan tegas. “Lalu apa yang dimaksud dengan perlakuan kelas bangsawan tadi, Pak?” Lelaki muda itu kembali bertanya kepada beberapa lelaki yang lebih senior darinya itu.
Seorang lelaki berusia tiga puluh tahunan berdeham. “Jika kamu memperhatikan apa yang terjadi, lalu kamu membaca pemberitaan yang diberikan oleh media dan berfikir dengan sikap yang diambil pemerintah saat ini mengenai kasus ini, maka kamu akan menemukan jawaban yang sama dengan yang kami temukan, yaitu rasa muak,” ucap lelaki berumur tiga puluh tahunan itu.
“Di negeri ini, para petinggi sudah kehilangan nurani. Kamu tahu kenapa?” ucap lelaki berkumis kepada lelaki muda tersebut.
Lelaki muda hanya menggelengkan kepalanya, logikanya belum dapat menangkap pesan yang disampaikan. “Begini, berapa banyak orang-orang miskin yang kelaparan di jalan yang ada di negeri ini? Berapa banyak anak-anak yang putus sekolah di negeri ini? Berapa banyak kesengsaraan yang dialami golongan marginal di negara ini? Banyak!” ucap lelaki setengah baya menahan geram. Tangannya yang sudah sedikit berkeriput itu menggenggam cangkir kopinya dengan sedikit getar.
“Dan apa kamu tahu berapa banyak dana yang hilang di negeri ini? Sangat banyak juga. Dulu, negeri ini kehilangan banyak dana hanya untuk menyelamatkan sebuah bank kecil. Tapi dana tersebut lenyap dan hilang entah kemana. Sekarang… kejadian itu terulang lagi,” ucap lelaki berkumis itu melanjutkan kata-kata lelaki setengah baya. dia meniup kecil gelas kopinya sejenak, “begitu banyak dana yang hilang dan masuk ke dalam kantong pribadi golongan elit. Dana yang seharusnya bisa meringankan beban orang-orang miskin di begeri ini, justru hilang dan menguap sia-sia,” lanjutnya.
Lelaki muda itu diam mendengarkan setiap kata-kata yang keluar dari mulut senior-seniornya itu. Kepalanya mencerna kalimat-kalimat yang meluncur dari lelaki yang lebih matang dari segi fisik dan pemikirannya.
“Dan sekarang? Uang rakyat harus kembali jadi bancakan sekelompok orang hanya untuk membangun wisma atlit dengan dana yang menggelembung tidak sesuai dengan kondisi bangunannya, yang bahkan belum digunakan saja sudah ambruk. Padahal cuma ada segelintir atlit di negeri ini yang punya prestasi, itupun dicapai dengan susah payah sendiri, tanpa bantuan dari pemerintah sedikitpun. Ini keterlaluan!!” ucap lelaki berkumis seraya menghentak meja dengan cangkir kopinya.
“Semoga kasus ini benar-benar selesai ya Pak, kan sudah ada beberapa orang penting yang jadi tersangka tuh” ucap lelaki muda itu dengan nada optimis.
Lelaki berjanggut hanya tersenyum mendengar ucapan lelaki muda. “Dulu kami juga berfikiran seperti itu, tapi sayangnya itu hanya sebuah harapan kosong yang tidak ada jawabannya. Selama kasus yang terjadi melibatkan ‘golongan elit’ kasus itu tidak akan pernah ada jawabannya. Jikapun ada hukuman yang dijatuhkan, hukuman itu tidak lebih hanya sebuah ’syarat’ bahwa para penegak hukum seolah sudah melakukan tugasnya,” ucapnya dengan nada pesimis yang kental.
“Karena ini Indonesia Pak. Hanya optimisme yang tetap membuat aku tetap bangga.” Lelaki muda itu melontarkan rasa optimisme lagi dari mulutnya. “Semoga saat generasi saya yang memimpin, keadaan seperti ini tidak akan terjadi dan pemimpin di era saya nanti bisa menjadi tegas.”
Ketiga lelaki yang lebih tua dari lelaki muda itu hanya diam dan tersenyum mendengar kata-kata lelaki muda itu. Optimisme? Entah sejak kapan aku melupakan hal itu, suara lirih lelaki berjenggut lebat.
Kebanggaan menjadi bagian dari bangsa ini? lelaki setangah baya tersenyum dalam hati saat memikirkan kata-kata itu. Semoga kebanggan itu tetap melekat di dalam hatimu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar