Rabu, 29 Agustus 2012

Untuk Abiseka anakku...


Abiseka… tiga puluh agustus ini usiamu genap tujuh tahun. Putaran waktu ternyata berjalan begitu cepat, membawa serta Abi, Bapak dan Ibu melalui detik-detik waktu bergerak.
Abi… sejujurnya Bapak tidak pernah merisaukan mengenai seremonial ulang tahun. Karena hari ulang tahun tak ubahnya seperti hari-hari yang lain. Dalam kronologi perjalanan hidup Bapak dan ibu sama sekali tidak memiliki ritual special day pada hari ulang tahun kami. Bapak sering banget lupa mengucapkan ulang tahun kepada Ibu, atau Ibu lupa mengucapkan ulang tahun kepada Bapak pun, bagi kami tidak ada yang aneh, biasa saja, tidak pernah menjadi masalah. Tak pernah terpikir untuk sekedar mengambil waktu khusus bernuansa celebration.
Hanya kecupan hangat dan segenggam doa kepada Tuhan untukmu yang saat ini yang ingin Bapak berikan, itupun mungkin hanya doa sederhana dengan kalimat sederhana pula, karena kamu dan Ibu tahu Bapak tak pandai berucap doa.
Jujur… Bapak tidak pernah ingin menanamkan ritual ulang tahun  semacam ini. Menjalani kehidupan dengan kesahajaan, mungkin seperti itulah yang ingin Bapak dan Ibu tularkan kepadamu. Kita bukan dari golongan orang yang lebih mementingkan gincu daripada bibir.
Bapak tidak pernah menganggap bahwa perayaan itu tidak penting. Perayaan atau celebration bukanlah monopoli hari ulang tahun. Momen-momen keberhasilan dan pencapaian prestasi mungkin jauh lebih layak mendapatkan celebration. Untuk mendapatkan hadiah pun tak harus menunggu saat ulang tahun bukan?
Hidup kita sudah berkelimpahan hadiah dari Tuhan. Keluarga sehat yang harmonis. Kita masih leluasa menghirup nafas dari udara yang senantiasa diberikan Tuhan. Cukup makan, minum, dan berpakaian sepantasnya. Itu semua adalah hadiah pemberian Tuhan yang harus selalu kita syukuri. Tidak ada yang khusus dari hari ulang tahun karena setiap hari dalam kehidupan kita adalah hari-hari yang istimewa.
Selamat ulang tahun anakku, Abiseka Ken Ekasunu…
Lakukan yang terbaik pada dirimu, karena pilihan hidupmu hanya kamu sendirilah yang menentukan.
@ Surat pertama yang kutulis untuk anakku

Kamis, 02 Agustus 2012

Utopia Merdeka


Menjelang peringatan hari kemerdekaan negeri ini, rasanya selalu bertambah pertanyaan yang bergayut seiring dengan datangnya peringatan kemerdekaan itu sendiri. Sejumlah pertanyaan yang (lagi-lagi) rasanya tak pernah terjawab sampai ke peringatan kemerdekaan nanti selanjutnya entah yang ke berapa. Daftar pertanyaan “ ketika merenung di Hari Proklamasi Kemerdekaan RI “ seperti : Benarkah RI kini hanya sebuah negara yang nyaris gagal? Kebangkrutan kesalehan sosial? Benarkah bangsa ini adalah bangsa yang berbudaya tinggi? Negara tanpa kepemimpinan? Agama lebih mulia dari pada Tuhan? Defisit kemanusiaan? Bersatu itu utopia? Republik kita atau Republik mereka? Negara eksperimen demokrasi? Negara tanpa imajinasi? Tempat hunian warga yang berwatak budak, maka tak heran korupsi merajalela? Kemudian sampai pada pertanyaan mendasar, benarkah kita sudah merdeka? Dan ini akan senantiasa diteruskan dengan pertanyaan lain, yang pokoknya… kok (lagi-lagi) rasanya ngeri bener RI kita sekarang ini.

Negeri ini didirikan oleh bapak-bapak bangsa, founding fathers dengan sebuah gagasan besar, tetapi kini antara ide awal menjadi terputus gak pernah nyambung. Semua kehilangan energi untuk mengimplementasikan gagasan besar para pendiri bangsa ini terutama dalam mensejahterakan rakyat. Ibaratnya semua sudah lupa jika sudah pegang kekuasaan (korupsi terus bergulir dan bergilir). Sebuah Epos besar tetapi yang didapatkan hanya manusia-manusia kerdil. Siapakah yang menikmati kemerdekaan? Jujur saja suasana sekarang ini (sekali lagi) rasanya ibarat pra Proklamasi Kemerdekaan 1945 (kata para orang-orang tua kita) dimana kehidupan rakyat jelata yang merupakan mayoritas negeri ini sebagian besar masih hidup dari tangan ke mulut. Masih disibukkan mencari sesuap nasi.

Pada masa pra Proklamasi, semua sektor ekonomi dikuasai oleh kaum penjajah dan minoritas. Lha, sekarang ini sama saja, semua sektor ekonomi, industri, perniagaan malah dikendalikan dan menjadi milik orang lain. (BUMN-BUMN sudah dijual kepada pemodal asing). Meski begitu pemerintah selalu saja dengan pongah meng-counter realitas ini, (dengan) coba simak Pidato Kenegaraan Presiden yang selalu menyebut pertumbuhan ekonomi yang meyakinkan (angka statistiknya)? Gambaran itu menjadi semu belaka, tatkala suatu saat sebuah media harian yang paling besar di negeri ini dalam salah satu edisinya, dari halaman depan, tengah, sampai belakang, mencoba menggambarkan keadaan yang sebenarnya. Kalau zaman Orba, koran itu sudah pasti dibreidel berikut nyawa-nyawa yang ada di dalamnya!

Ada juga suara dari salah satu Kementrian Pemerintah yang mengatakan bahwa sektor riil juga tumbuh? Ya, benar dari sektor TKI dan TKW yang menyumbang jumlah devisa besar (Rp 70 trilyun). Namun itu harus disertai dengan perjuangan taruhan nyawa layaknya pahlawan-pahlawan kita dahulu memperjuangkan republik ini. Dari penghinaan, penistaan, pelecehan, penyiksaan sampai putus lehernya di negeri orang. Hidup sebagai kasta Sudra di negeri orang. Sumbangan devisa yang disertai "pajak" tak resmi dari pemerintahnya sendiri. Sementara kalau sudah sampai pada urusan leher, EGP, emang gue pikirin.

Harapan yang paling sederhanapun yang berhubungan dengan salah satu pertanyaan di atas, ketika agama lebih mulia dari pada Tuhan? tak pernah terjawab sampai detik ini, yang terjadi justru semakin tidak terkendali. Sudah berapa kali Presiden kita janji-janji mau memberantas ormas pembuat onar. Namun kenyataannya pemimpin, menteri dan aparatnya justru saling “berpelukan” dengan mesra, sementara ormas-ormasnya justru semakin berkembang sporadic. Harapan yang jauh lebih sederhana lagi, bisa mempunyai pemimpin yang memilih tidak popular katimbang membiarkan Negara dalam suasana ketidakpastian dan diambang kehancuran. Akankah ada…??? Kapankah…??? Beda benar kualitas para founding fathers dengan pemimpin-pemimpin masa kini.

Kebesaran bangsa tidak ditentukan oleh besarnya penduduk dan luasnya wilayah, tetapi oleh kebesaran jiwa pemimpinnya.

Dirgahayu Indonesia yang kita cintai!

Rabu, 01 Agustus 2012

Spam Berbuah Spam


Fenomena SMS spam makin menggila. Hampir setiap hari para pengguna handphone menerima aneka SMS spam yang berpotensi menipu. Macam-macam isi SMS spam itu, dari "mama minta pulsa" hingga "papa minta uang."
Belakangan ini juga beredar SMS yang isinya meminta transfer uang ke sebuah bank.
Lucunya, SMS seperti itu memicu peredaran pesan via fasilitas BlackBerry Messenger. Isinya tak kalah menggelikan, tapi sebetulnya sama saja : sama-sama spam. Artinya, tak layak dipercaya.
Contohnya seperti ini :
"Hati2 pulsa anda habis. Tolong forward : Jika anda menerima sms seperti ini atau mirip seperti ini :
“Tolong uangnya ditransfer sekarang aja ke bank BNI : 022-741-3681. a/n FRISKA ANANDA, sms saja kalau sudah ditransfer, trimksi...“
Seakan-akan sms nyasar biasa, JANGAN BALAS SMS BALIK...!!!!
Jika membalas sms tersebut (dengan memaki atau berkomentar), anda dikenakan premium charge! Rp 2000).
Itu adalah software baru untuk menyedot pulsa kita tanpa kita harus sms REG yang dikonfirmasi balik.
Sekali nomer HP kita sudah dilock maka selanjutnya pulsa kita akan
disedot terus dengan sms lagi tanpa perlu kita membalas smsnya.
Dan fatalnya kita tidak bisa melakukan UNREG seperti SMS premium yang resmi. Hati-hati dengan kejahatan ini, maling seperti ini sama busuknya dengan koruptor... susah dilacak!

Forward ini untuk menolong kerabat anda."
Berhati-hatilah dan jangan mudah percaya pada isi pesan seperti itu.