Menjelang
peringatan hari kemerdekaan negeri ini, rasanya selalu bertambah pertanyaan
yang bergayut seiring dengan datangnya peringatan kemerdekaan itu sendiri.
Sejumlah pertanyaan yang (lagi-lagi) rasanya tak pernah terjawab sampai ke
peringatan kemerdekaan nanti selanjutnya entah yang ke berapa. Daftar
pertanyaan “ ketika merenung di Hari Proklamasi Kemerdekaan RI “ seperti : Benarkah RI
kini hanya sebuah negara yang nyaris gagal? Kebangkrutan kesalehan sosial?
Benarkah bangsa ini adalah bangsa yang berbudaya tinggi? Negara tanpa
kepemimpinan? Agama lebih mulia dari pada Tuhan? Defisit kemanusiaan? Bersatu
itu utopia? Republik kita atau Republik mereka? Negara eksperimen demokrasi?
Negara tanpa imajinasi? Tempat hunian warga yang berwatak budak, maka tak heran
korupsi merajalela? Kemudian sampai pada pertanyaan mendasar, benarkah kita
sudah merdeka? Dan ini akan senantiasa diteruskan dengan pertanyaan lain, yang
pokoknya… kok (lagi-lagi) rasanya ngeri bener RI kita sekarang ini.
Negeri ini
didirikan oleh bapak-bapak bangsa, founding fathers dengan sebuah
gagasan besar, tetapi kini antara ide awal menjadi terputus gak pernah nyambung.
Semua kehilangan energi untuk mengimplementasikan gagasan besar para pendiri
bangsa ini terutama dalam mensejahterakan rakyat. Ibaratnya semua sudah lupa
jika sudah pegang kekuasaan (korupsi terus bergulir dan bergilir). Sebuah Epos
besar tetapi yang didapatkan hanya manusia-manusia kerdil. Siapakah yang
menikmati kemerdekaan? Jujur saja suasana sekarang ini (sekali lagi) rasanya ibarat
pra Proklamasi Kemerdekaan 1945 (kata para orang-orang tua kita) dimana
kehidupan rakyat jelata yang merupakan mayoritas negeri ini sebagian besar
masih hidup dari tangan ke mulut. Masih disibukkan mencari
sesuap nasi.
Pada masa pra
Proklamasi, semua sektor ekonomi dikuasai oleh kaum penjajah dan minoritas.
Lha, sekarang ini sama saja, semua sektor ekonomi, industri, perniagaan malah
dikendalikan dan menjadi milik orang lain. (BUMN-BUMN sudah dijual kepada
pemodal asing). Meski begitu pemerintah selalu saja dengan pongah meng-counter
realitas ini, (dengan) coba simak Pidato Kenegaraan Presiden yang selalu
menyebut pertumbuhan ekonomi yang meyakinkan (angka statistiknya)? Gambaran itu
menjadi semu belaka, tatkala suatu saat sebuah media harian yang paling besar di negeri ini dalam salah satu
edisinya, dari halaman depan, tengah, sampai belakang, mencoba menggambarkan
keadaan yang sebenarnya. Kalau zaman Orba, koran itu sudah pasti dibreidel
berikut nyawa-nyawa yang ada di dalamnya!
Ada juga suara dari salah satu Kementrian Pemerintah yang mengatakan
bahwa sektor riil juga tumbuh? Ya, benar dari sektor TKI dan TKW yang
menyumbang jumlah devisa besar (Rp 70 trilyun). Namun itu harus disertai dengan
perjuangan taruhan nyawa layaknya pahlawan-pahlawan kita dahulu memperjuangkan republik
ini. Dari penghinaan, penistaan, pelecehan, penyiksaan sampai putus lehernya di
negeri orang. Hidup sebagai kasta Sudra
di negeri orang. Sumbangan devisa yang disertai "pajak" tak resmi dari pemerintahnya sendiri. Sementara kalau
sudah sampai pada urusan leher, EGP, emang gue pikirin.
Harapan yang
paling sederhanapun yang berhubungan dengan salah satu pertanyaan di atas,
ketika agama lebih mulia dari pada Tuhan? tak pernah terjawab sampai detik ini,
yang terjadi justru semakin tidak terkendali. Sudah berapa kali Presiden kita
janji-janji mau memberantas ormas pembuat onar. Namun kenyataannya pemimpin, menteri
dan aparatnya justru saling “berpelukan” dengan mesra, sementara ormas-ormasnya
justru semakin berkembang sporadic.
Harapan yang jauh lebih sederhana lagi, bisa mempunyai pemimpin yang memilih
tidak popular katimbang membiarkan Negara dalam suasana ketidakpastian dan
diambang kehancuran. Akankah ada…??? Kapankah…??? Beda benar kualitas para founding
fathers dengan pemimpin-pemimpin masa kini.
Kebesaran bangsa
tidak ditentukan oleh besarnya penduduk dan luasnya wilayah, tetapi oleh
kebesaran jiwa pemimpinnya.
Dirgahayu Indonesia yang
kita cintai!

Tidak ada komentar:
Posting Komentar