Kamis, 02 Agustus 2012

Utopia Merdeka


Menjelang peringatan hari kemerdekaan negeri ini, rasanya selalu bertambah pertanyaan yang bergayut seiring dengan datangnya peringatan kemerdekaan itu sendiri. Sejumlah pertanyaan yang (lagi-lagi) rasanya tak pernah terjawab sampai ke peringatan kemerdekaan nanti selanjutnya entah yang ke berapa. Daftar pertanyaan “ ketika merenung di Hari Proklamasi Kemerdekaan RI “ seperti : Benarkah RI kini hanya sebuah negara yang nyaris gagal? Kebangkrutan kesalehan sosial? Benarkah bangsa ini adalah bangsa yang berbudaya tinggi? Negara tanpa kepemimpinan? Agama lebih mulia dari pada Tuhan? Defisit kemanusiaan? Bersatu itu utopia? Republik kita atau Republik mereka? Negara eksperimen demokrasi? Negara tanpa imajinasi? Tempat hunian warga yang berwatak budak, maka tak heran korupsi merajalela? Kemudian sampai pada pertanyaan mendasar, benarkah kita sudah merdeka? Dan ini akan senantiasa diteruskan dengan pertanyaan lain, yang pokoknya… kok (lagi-lagi) rasanya ngeri bener RI kita sekarang ini.

Negeri ini didirikan oleh bapak-bapak bangsa, founding fathers dengan sebuah gagasan besar, tetapi kini antara ide awal menjadi terputus gak pernah nyambung. Semua kehilangan energi untuk mengimplementasikan gagasan besar para pendiri bangsa ini terutama dalam mensejahterakan rakyat. Ibaratnya semua sudah lupa jika sudah pegang kekuasaan (korupsi terus bergulir dan bergilir). Sebuah Epos besar tetapi yang didapatkan hanya manusia-manusia kerdil. Siapakah yang menikmati kemerdekaan? Jujur saja suasana sekarang ini (sekali lagi) rasanya ibarat pra Proklamasi Kemerdekaan 1945 (kata para orang-orang tua kita) dimana kehidupan rakyat jelata yang merupakan mayoritas negeri ini sebagian besar masih hidup dari tangan ke mulut. Masih disibukkan mencari sesuap nasi.

Pada masa pra Proklamasi, semua sektor ekonomi dikuasai oleh kaum penjajah dan minoritas. Lha, sekarang ini sama saja, semua sektor ekonomi, industri, perniagaan malah dikendalikan dan menjadi milik orang lain. (BUMN-BUMN sudah dijual kepada pemodal asing). Meski begitu pemerintah selalu saja dengan pongah meng-counter realitas ini, (dengan) coba simak Pidato Kenegaraan Presiden yang selalu menyebut pertumbuhan ekonomi yang meyakinkan (angka statistiknya)? Gambaran itu menjadi semu belaka, tatkala suatu saat sebuah media harian yang paling besar di negeri ini dalam salah satu edisinya, dari halaman depan, tengah, sampai belakang, mencoba menggambarkan keadaan yang sebenarnya. Kalau zaman Orba, koran itu sudah pasti dibreidel berikut nyawa-nyawa yang ada di dalamnya!

Ada juga suara dari salah satu Kementrian Pemerintah yang mengatakan bahwa sektor riil juga tumbuh? Ya, benar dari sektor TKI dan TKW yang menyumbang jumlah devisa besar (Rp 70 trilyun). Namun itu harus disertai dengan perjuangan taruhan nyawa layaknya pahlawan-pahlawan kita dahulu memperjuangkan republik ini. Dari penghinaan, penistaan, pelecehan, penyiksaan sampai putus lehernya di negeri orang. Hidup sebagai kasta Sudra di negeri orang. Sumbangan devisa yang disertai "pajak" tak resmi dari pemerintahnya sendiri. Sementara kalau sudah sampai pada urusan leher, EGP, emang gue pikirin.

Harapan yang paling sederhanapun yang berhubungan dengan salah satu pertanyaan di atas, ketika agama lebih mulia dari pada Tuhan? tak pernah terjawab sampai detik ini, yang terjadi justru semakin tidak terkendali. Sudah berapa kali Presiden kita janji-janji mau memberantas ormas pembuat onar. Namun kenyataannya pemimpin, menteri dan aparatnya justru saling “berpelukan” dengan mesra, sementara ormas-ormasnya justru semakin berkembang sporadic. Harapan yang jauh lebih sederhana lagi, bisa mempunyai pemimpin yang memilih tidak popular katimbang membiarkan Negara dalam suasana ketidakpastian dan diambang kehancuran. Akankah ada…??? Kapankah…??? Beda benar kualitas para founding fathers dengan pemimpin-pemimpin masa kini.

Kebesaran bangsa tidak ditentukan oleh besarnya penduduk dan luasnya wilayah, tetapi oleh kebesaran jiwa pemimpinnya.

Dirgahayu Indonesia yang kita cintai!

Tidak ada komentar:

Posting Komentar