Senin, 10 September 2012

Percakapan Pensil dan Penghapus


Syahdan pensil dan penghapus sedang bercakap-cakap…
Pensil         : Maafkan aku.
Penghapus  : Maafkan untuk apa? Kamu tak melakukan kesalahan apa pun.
Pensil         :  Aku minta maaf karena telah membuatmu terluka. Setiap kali aku melakukan kesalahan, kamu selalu ada utk menghapusnya. Namun setiap kali kamu menghapus kesalahanku, kamu kehilangan sebagian dari dirimu. Kamu akan menjadi semakin kecil dan kecil. Begitu seterusnya.
Penghapus  :  Tapi aku sama sekali tak merasa keberatan. Kau lihat, aku memang tercipta untuk melakukan itu semua, untuk selalu membantumu setiap saat kau melakukan kesalahan. Walaupun suatu hari nanti aku tahu bahwa aku akan pergi dan kau akan menggantikan diriku dengan yg baru, aku ikhlas. Aku bahagia dengan perananku. Jadi tolonglah, kau tak perlu khawatir. Aku tidak suka melihat dirimu bersedih.
Percakapan antara pensil dan penghapus di atas sesungguhnya hanya sebuah analogi. Sesuatu yang inspiratif.
Kita mungkin tak sadar bahwa orang-orang tua kita bagaikan penghapus, sedangkan kita pensil. Orangtua selalu ada untuk anak-anak mereka, memperbaiki kesalahan anak-anaknya.
Ironisnya mereka mengorbankan dirinya sendiri, menjadi semakin kecil dan terus mengecil karena merawat anak-anaknya. Mereka bertambah tua dan akhirnya wafat.
Walaupun anak-anak mereka akhirnya akan menemukan seseorang yang baru (suami atau istri), namun orangtua akan selalu tetap merasa bahagia atas apa yang mereka lakukan terhadap anak-anaknya dan akan selalu merasa tidak suka bila melihat buah hati tercinta mereka merasa khawatir ataupun sedih.
Hingga saat ini, aku masih selalu menjadi si pensil. Dan sangat menyakitkan bagiku ketika harus melihat si penghapus atau orangtuaku semakin bertambah "kecil" dan "kecil" seiring berjalannya waktu. Dan aku pun tahu bahwa suatu hari kelak, yang tertinggal hanyalah "sisa serutan" si penghapus dan segala kenangan yg pernah kulalui dan miliki bersama mereka.
Semestinya kita semakin menyadari bahwa orangtua begitu berharga, tak ternilai.
Sudah selayaknya pula kita membahagiakan mereka sekarang juga, selagi masih bisa...