Senin, 30 Juli 2012

Gerutu Buntu


Sudah lebih dari dua pekan ini, sejak mendekati hari raya lebaran harga bahan kebutuhan pokok berlomba saling mendahului berlari kencang dan melompat, melonjak, naik melambung tinggi. Sementara berita kusam klise lain selalu ikut mengiringi.  Ada gerutu berang, kesal, kecewa, stress, depresi, dan 1001 cara untuk mengekspresikan luapan emosi yang telah terlalu sesak untuk ditahan-tahan.. Tak lupa pula media begitu getir dan saling berlomba-lomba menyiarkan suara-suara serak para elemen masyarakat kecil, golongan yang terbuang di negerinya sendiri. Jujur aku bosan dengan liputan yang setiap hari sama. Mau dikata apalagi, tradisi berita basi semacam itu ibarat kerikil yang jatuh ke kolam, riaknya tidak akan besar dan bertahan lama. Pemerintah dalam hal ini selalu pandai meredam situasi dengan janji-janji dan kompensasi-kompensasi yang (mungkin/konon) akan diberikan.
Namun, yang membuat ku semakin sedih, kesal dan muak, ditengah derita yang dialami rakyat kecil, hasil pemerikasaan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) terhadap harta kekayaan para pencoleng di negeri ini membuktikan bahwa kekayaan tersebut secara absolut bertambah milyaran rupiah dari hasil pemeriksaan sebelumnya. Aneh negeri ini, negeri ku sendiri dan negeri kita semua. Ada yang kaya, namun banyak sekali yang terlunta. Orang-orang kaya yang buat kebijakan, orang miskin yang terinjak-injak haknya untuk hidup di negerinya sendiri. Sedih, hanya itu yang bisa aku rasakan tanpa bisa berbuat banyak. Karena aku hanyalah anak kecil yang dipundakku sudah ditaruh beban hutang Ibuku akibat ulah anak-anaknya yang “Pembohong, Penjudi, Pemabok, Pemerkosa, dan Pecundang” di tanah kelahirannya sendiri.
Sungguh jika benar bahwasanya para “Pelayan” masyarakat itu lebih kaya dari tuannya sendiri tidaklah mengapa, andaikata seluruh “Pelayan” mau menyisihkan 2,5% saja dari harta mereka untuk Ibunya yang sudah hampir telanjang karena baju yang dikenakannya telah robek compang-camping disana-sini, dan “Tuan” yang mereka layani tak lagi sanggup berpikir cerdas karena perut kelaparan dan sakit-sakitan, maka mereka adalah orang-orang yang dimuliakan...
Namun, ini hanyalah andaikata…
Semoga mereka masih merasa punya Tuhan dan masih sadar akan kewajiban dan hak mereka terhadap harta kekayaan yang mereka miliki…

Tidak ada komentar:

Posting Komentar