Sudah lebih dari dua pekan ini, sejak mendekati hari raya
lebaran harga bahan kebutuhan pokok berlomba saling mendahului berlari kencang
dan melompat, melonjak, naik melambung tinggi. Sementara berita kusam klise
lain selalu ikut mengiringi. Ada gerutu berang, kesal,
kecewa, stress, depresi, dan 1001 cara untuk mengekspresikan luapan emosi yang
telah terlalu sesak untuk ditahan-tahan.. Tak lupa pula media begitu getir dan
saling berlomba-lomba menyiarkan suara-suara serak para elemen masyarakat
kecil, golongan yang terbuang di negerinya sendiri. Jujur aku bosan dengan
liputan yang setiap hari sama. Mau dikata apalagi, tradisi berita basi semacam
itu ibarat kerikil yang jatuh ke kolam, riaknya tidak akan besar dan bertahan
lama. Pemerintah dalam hal ini selalu pandai meredam situasi dengan janji-janji
dan kompensasi-kompensasi yang (mungkin/konon) akan diberikan.
Namun, yang membuat ku semakin sedih, kesal dan muak, ditengah
derita yang dialami rakyat kecil, hasil pemerikasaan Komisi Pemberantasan
Korupsi (KPK) terhadap harta kekayaan para pencoleng di negeri ini membuktikan
bahwa kekayaan tersebut secara absolut bertambah milyaran rupiah dari hasil
pemeriksaan sebelumnya. Aneh negeri ini, negeri ku sendiri dan negeri kita
semua. Ada yang
kaya, namun banyak sekali yang terlunta. Orang-orang kaya yang buat kebijakan,
orang miskin yang terinjak-injak haknya untuk hidup di negerinya sendiri.
Sedih, hanya itu yang bisa aku rasakan tanpa bisa berbuat banyak. Karena aku
hanyalah anak kecil yang dipundakku sudah ditaruh beban hutang Ibuku akibat
ulah anak-anaknya yang “Pembohong, Penjudi, Pemabok, Pemerkosa, dan Pecundang”
di tanah kelahirannya sendiri.
Sungguh jika benar bahwasanya para “Pelayan” masyarakat itu lebih kaya
dari tuannya sendiri tidaklah mengapa, andaikata seluruh “Pelayan” mau
menyisihkan 2,5% saja dari harta mereka untuk Ibunya yang sudah hampir
telanjang karena baju yang dikenakannya telah robek compang-camping disana-sini,
dan “Tuan” yang mereka layani tak lagi sanggup berpikir cerdas karena perut
kelaparan dan sakit-sakitan, maka mereka adalah orang-orang yang dimuliakan...
Namun, ini hanyalah andaikata…
Semoga mereka masih merasa punya Tuhan dan masih sadar akan
kewajiban dan hak mereka terhadap harta kekayaan yang mereka miliki…
Tidak ada komentar:
Posting Komentar