Sulit mengawali dari mana aku harus
bertutur tentang sebuah arti, sebuah makna dan apa yang tersirat dari penggalan
kisah setengah perjalanan ini. Namun, dengungan itu selalu bergema dalam alam
pikirku. Apa dan cerita apa lagi yang mesti aku lakonkan.
Mungkinkah kisah-kisah usang itu terulang
dalam perjalananku selanjutnya. Atau akan menjadi akhir dari sebuah episode
hidup ini? Semua mungkin….
Aku merasa belum dewasa dalam segala hal
karena masih menganggap semua yang kualami adalah sebuah hukuman atas kesalahan
atau kebodohan dalam hidup yang tak kusadari kapan aku melakukannya. Ternyata
kedewasaan berpikir, bersikap dan memutuskan segala sesuatu selama ini bukanlah
hasil akhir atas separuh perjalananku, melainkan sebuah proses yang panjang dan
berliku meskipun kadang juga sangat singkat dan tidak cukup bermakna.
Aku belum bisa menerima bahwa semua yang
menimpaku dan segenap perih yang kurasakan bukanlah kesialan, ujian, atau
hukuman atas semua salahku. Sebenarnya, semua ini adalah garis kehidupan yang
sudah ditentukan bahkan sebelum aku dilahirkan.
Kenangan-kenangan buruk yang tertoreh
dikeningku telah membuatku tak percaya diri. Aku merasa sebagai manusia yang
tidak bermakna, belum mampu mewujudkan asa-asaku!
Aku masih mencari siapa aku dan apa tujuan
hidupku. Saat aku ingin biru, Tuhan memberiku ungu, ketika aku menginginkan
ungu, tak satupun warna Dia berikan kepadaku. Sedang begitu jeleknyakah selera
humor Tuhan? Hidup seakan membosankan, aku letih dalam pencarian ini.
Rencana-rencana hanya bisa dibuat oleh
manusia. Sebagai manusia, aku mengharapkan kehidupan yang bahagia, atau
setidaknya di setengah perjalanan ini dapat bermakna dan menjadi arti
sekurang-kurangnya untuk orang-orang terdekatku yang masih tersisa. Mungkin
harapan ini terlalu tinggi, tapi itulah do’a sederhana yang selalu aku mohonkan
kepada Tuhan. Meski tak lupa juga aku meminta maaf, karena mencintai-Nya dengan
diam-diam.
Setengah perjalanan ini menghidangkan
secawan anggur yang sungguh nikmat dan menyegarkan untuk kuminum saat dahaga
akan sebuah arti hidup atau sekadar membasahi kerongkonganku yang kering,
membuatku terbuai dan lena. Rasa manis masih kuingat , namun tiba-tiba rasa
manis berubah menjadi teramat pahit. Aku kehilangan kesadaranku akan rasa;
manis atau pahit sama saja, tetap kutelan untuk hilangkan dahaga. Sesaat aku
sadar, disekelilingku telah banyak cawan anggur yang lain. Namun, ketika kuminum,
manis dan segarnya anggur pertama yang menyisakan pahit masih terasa. Semoga
ini bukan tanda keputusasaanku!
Aku hanya berharap ada hikmah tersembunyi
dari semua ini.
Serabut-serabut tanya akan pencapaian
kesejatian makna dan tujuan hidup ini? Yah, setiap manusia pasti ingin mencapai
tingkat itu dimana ia mengerti, memahami makna dan tujuan hidupnya walau
terkadang kesadaran itu justru didapat dari alam bawah sadarnya. Mungkin hanya
cara itulah yang menjadikan “aku” ADA. Namun; Beberapa orang lebih memilih menekan rasa
itu jauh-jauh dan berusaha lari sekencangnya.. !!!
Kesadaran manusia akan dirinya, penghargaan
pada dirinya sendiri dan pemaknaannya yang mendalam akan menolongnya keluar
dari sebuah kubangan kotor. Inilah yang aku cari…
Aku sering terlampau sombong dan takabur.
Terlampau banyak bicara yang tiada guna. Yang sejatinya adalah mempecundangi
diriku sendiri. Padahal aku sadar tak punya kemampuan untuk membuatnya menjadi nyata
dan mewujudkan dalam tindakan!
Aku terjebak dan terus berputar dalam tempat gelap tidak kukenal karena tak tahu tujuan sebenarnya, bagaimana memulai dan dimana akhirnya.
Aku terjebak dan terus berputar dalam tempat gelap tidak kukenal karena tak tahu tujuan sebenarnya, bagaimana memulai dan dimana akhirnya.
Kenapa dengan hati dan pikiran? yang juga
merupakan anugerah besar dari Yang Maha Kuasa belum mampu menjelaskan
sejatinya pencarian setapak perjalanan ini. Nafsu dan egoku menindih keduanya….
namun bukankah dengan keduanya, manusia dibantu menyelesaikan apapun, seperti
masalah, rintangan hidup, cobaan, dan entah apalagi sebutannya. Bukankah
sebenarnya manusia mampu berpikir dan merasakan. Yang tentu saja, akan menjadi
lebih arif jika mampu menjaga rahasia hati dan pikiran dari pengkhianatan
lidah. Seperti anggota tubuh manusia yang lain, lidah adalah mata-mata jahat
yang selalu bisa berkhianat pada pikiran dan perasaan manusia…….
Sebuah pengharapan……..
Ijinkan aku hidup dalam pengharapanku akan
petunjuk-Mu, meskipun dalam setengah lagi perjalanan ini harus berkali-kali
terantuk batu untuk sampai pada-Mu….

Tidak ada komentar:
Posting Komentar