Entah saat ini disebutnya selasa malam
atau rabu pagi, yang pasti detak jam dinding itu terasa begitu sunyi. Angin
melintas seolah memecah sepi, menyelinap diam-diam ke tengah hati, mencoba
berdendang dan menari namun tak berarti, sunyi tetap menyelimuti.
Adakah yang mengerti ketika langkah
kaki terhenti ditengah gelisah yang menggerogoti hati. Di sela jemari terselip
butir-butir pasir putih dari tempat dimana kaki berjalan menyusuri garis pantai
yang melengkung membentuk senyum. Sesekali ombak menepi membuyarkan lamunan
tentang mimpi yang ternyata juga sunyi.
Entah malam semakin merunduk menyambut
pagi ataukah pagi yang berdiri mengganti malam, yang pasti detak jam dinding
dan angin yang mendesis yang sedari tadi mencoba menghalau sunyi telah terganti
lenting suara muadzin yang seolah terpekik. Dan tetap saja sunyi yang merajai.
- untuk yang menemani menikmati sunyi -
Tidak ada komentar:
Posting Komentar